dualisme psms

Rudi Tampubolon : Kita Punya Uang tapi Belum Diberi Kesempatan Urus PSMS

POJOKSATU.id, MEDAN-Presiden Direktur PT PeSeMes Medan, Rudi Tampubolon mengatakan saat ini tidak ada PSMS yang palsu atau yang asli.
Dia menegaskan yang ada adalah PSMS dengan legal secara hukum dengan semua berkasnya sudah disahkan pemerintah baik PT hingga hak paten logo PSMS yang berada di pihaknya.
Rudi mengurai pihaknya sejatinya siap mengurus PSMS hanya tidak diberi kesempatan sejak awal musim ini. “Kita sudah bentuk tim, karena memang pihak kita tidak dilibatkan jadi tidak mungkin. Karena PT Liga juga tidak mengakomodir PT kita,” ujarnya di Hotel Madani, Kamis (27/6/2019).
Rudi mengatakan saat ini pihaknya mengimbau pihak PT Kinantan Indonesia, PT yang menaungi PSMS yang saat ini berkompetisi di Liga 2 untuk menahan diri. “Yang terlibat dalam PSMS untuk menahn diri. Biarkan proses hukum berjalan, tidak ada hak kita mendesak. Hanya saja yang jelas waktu itu (awal musim) kita siap, kita punya uang tapi belum diberi kesempatan mengurus PSMS,” jelasnya.
Sementara itu, Komisaris Utama PT PeSeMeS Medan, Syukri Wardi mengatakan tidak benar jika disebut dirinya pemilik PSMS. Disebutkannya sejak 1950 PSMS berdiri hingga 2013 PSMS tidak punya berkas hukum. Sekarang PSMS punya akte yang tidak hanya ditandangani dirinya tapi ada 12 nama yang ikut tanda tangan, akte itu dibuat tahun 2014. Baik dari perwakilan suporter, perwakilan 40 klub PSMS, juga termasuk Sekum PSMS PT Kinantan Indonesia, Julius Raja dan beberapa nama lainnya.
Lalu mengapa Syukri Wardi tidak mendaftarkan PT PeSeMes ke PT Liga agar menjadi PT yang sah untuk PSMS berkompetisi? “Sudah, tapi siapa yang berani pada saat itu?,” timpalnya. Pertanyaan yang kemudian menyiratkan sosok Edy Rahmayadi yang menjadi Ketua Umum PSSI dan juga pembina PSMS kala itu.
Syukri mengatakan tahun 2018, pihaknya pun siap memegang PSMS, dengan mendaftarkan ke PT Liga. Tapi, lagi-lagi tidak dianggap.
Diapun mengungkapkan bahwa jika nantinya menang dalam proses hukum yang lagi berjalan di Polda Sumut, pihaknya siap mengambil alih PSMS meski harus dimulai dari bawah lagi. “Kami pengen mengelola sesuai AD/ART, kami siap jika harus dari bawah. Persik Kediri contohnya, pernah juara tapi mulai lagi dari Liga Nusantara,” jelasnya.

Ditanya apakah pihaknya tidak kasihan dengan skuad PSMS yang saat ini baru memulai kompetisi, tapi sudah dipusingkan dengan konflik, Syukri menjawab, “Saya tidak ada ganggu pemain dan pelatih, hanya saja kita harus tegakkan hukum sejak awal. Saya serahkan ke Polda prosesnya,” ungkapnya.
Pun ini berlaku soal sponsor yang lari dari PSMS saat ini karena laporan pihaknya. Dia yakin, jikapun PSMS harus kesulitan dana karena sponsor tarik diri, akan ada jalan keluarnya. “PSMS lahir 1950 adalah klub yang kuat, diapain juga pasti ada saja yang menyelamatkan PSMS, percaya sama saya,” tegasnya.
“PSMS ini adalah sepak bola yang kerjanya haruslah dilakukan oleh orang sepak bola yang tidak ada kepentingan apa-apa di dalamnya,” jelasnya. (nin/pojoksatu)

Spanduk Penuh Hujatan Ramai Terpasang di Jalanan Medan, Begini Tanggapan Syukri Wardi

POJOKSATU.id, MEDAN-Dualisme PT yang menaungi PSMS pada Kompetisi Liga 2 musim ini, berimbas pada pemandangan di beberapa ruas jalanan Kota Medan, sejak kemarin, Kamis (27/6/2019).
Pasalnya, spanduk dengan kata-kata tajam tertuju untuk Komisaris Utama PT PeSeMeS Medan, Syukri Wardi terpampang nyata di beberapa sudut Kota Medan, seperti Jalan Sudirman, Simpang Pos, Simpang Iskandar Muda, Belakang Rumah Wali Kota, juga depan Rumah Gubernur.
‘Syukri Wardi Kau Salah Pilih Lawan’, ‘Syukri Jangan Olah PSMS Cukup Pertamina yang Kau Olah’, ‘Syukri Wardi =Penipu=, ‘Syukri Wardi = Iblis, PSMS Bukan Punya Kau’, ini adalah deretan kalimat yang tertulis di spanduk-spanduk itu.
Ini tak terlepas dari kasus Syukri Wardi yang melaporkan semua pihak ke Polda Sumut karena dugaan penyalahgunaan logo PSMS, baik sponsor yang pernah mensponsori PSMS sejak 2017 baik di Liga 1 dan Liga 2, juga operator liga. Pihaknya mengklaim sebagai pihak yang memiliki akte notaris dan Kemenkumham yang sah atas kepemilikan logo PSMS bukan PT Kinantan Indonesia yang kini sebagai PT yang terdaftar di PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk mengikuti kompetisi.
Imbasnya, seluruh sponsor yang sejatinya mau membantu finansial tim musim ini memilih tarik diri karena ikut dipanggil Polda Sumut, sejak tanggal 24 Juni 2019, bahkan PT LIB pun disebut akan diperiksa Polda Sumut tanggal 2 Juli 2019 untuk dimintai keterangan mengapa menyetujui PSMS di bawah naungan PT Kinantan Indonesia yang ikut liga.

Spanduk-spanduk itupun diduga sebagai reaksi yang gerah melihat persoalan yang terjadi padahal pada saat yang bersama tim sedang berjuang di Liga 2, dan sudah memenangkan dua pertandingan away (PSPS 3-2 dan Persibat 1-0).
Syukri Wardi yang dimintai keterangan soal ini, tak ambil pusing. “Enggak terkejut dengan spanduk-spanduk itu, harus disyukuri. Biasa saja. Sejuta poster bisa menghapus dosa-dosa saya. Mungkin karena cintanya (si pemasang spanduk) sama PSMS. Ini lebih baik, karena cinta ke PSMS daripada mencintai oknumnya,” ujarnya di hadapan awak media, di Hotel Madani, Kamis (27/6/2019) sore.

Diapun mengatakan soal laporan ke polisi yang menyeret sponsor dan PT LIB adalah hal yang semestinya. “Kehilangan sponsor musim ini bagi PSMS (yang berlaga saat ini) adalah risiko, karena memang income klub salah satunya dari sponsor. Sedangkan untuk PT LIB ini adalah pembelajaran buat PSSI agar seluruh kontestan yang ikut kompetisi harus menggunakan logo yang disahkan pemerintah untuk menghindari dualisme dan konflik. Kami jelas ada semua bukti yang sah, bukan main-main kami melaporkan ini,” ungkapnya.
Syukri menyebut tak ada niat menghancurkan PSMS yang saat ini sedang berkompetisi. Menurutnya, pihaknya sudah membuka diri untuk berdiskusi, dengan lahirnya somasi ke klub PT Kinantan Indonesia sejak 2018.
“Tapi malah dibalas dengan gugatan ke pengadilan. Saya sudah turunkan tensi, kan jarang saya bicara di surat kabar. Tapi pihak-pihak lain fitnah saya macam-macam,” jelasnya. (nin/pojoksatu)