exco pssi

Exco PSSI Bicara Soal Wacana Calon Ketua Umum

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI kini tengah dinahkodai Joko Driyono sebagai plt ketua umum menggantikan peran Edy Rahmayadi yang mengundurkan diri pada Kongres Tahunan PSSI di Nusa Dua Bali, belum lama ini.
Edy sendiri baru akan habis masa jabatannya tahun depan, dan kini sejumlah nama telah mencuat kepermukaan yang digadang-gadang sebagai bakal calon ketum.
Beberapa nama yang kini santer digadang-gadang sebagai calon Ketum PSSI  periode mendatang adalah  mantan Presiden Inter Milan, Erick Thohir dan politikus PKB, Muhaimin Iskandar.
Dijagokan JK jadi Calon Ketum PSSI, Erick Thohir Bereaksi Begini
Gusti Randa – Anggota Exco PSSI (Faceclips.com)
Erick bahkan telah terang-terangan dijagokan Wakil Presiden RI, Jusuf Kala. JK menyebut, Erick adalah figur ideal penerus tampuk kepemimpinan PSSI.
“Mungkin yang punya pengalaman bola internasional, Erick (Thohir),” sebut JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, belum lama ini seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Mensikapi dinamika tersebut, Anggota Executive Committee (Exco) PSSI Gusti Randa memandang sah-sah saja selama tetap berada dalam koridor yang ada.
”Silakan saja, siapa pun bisa jadi ketua umum PSSI. Saya sih terbuka,” sebut Gusti Randa.
Pemilihan calon Ketum PSSI sendiri, tegas dia tentu harus berdasarkan mekanisme yang ada yang telah digariskan dalam aturan, salahsatunya bisa melalui Kongres Luar Biasa (KLB), atau menunggu masa jabatan ketum sebelumnya habis yakni pada kongres 2020 mendatang.
”Yang penting voters (pemilik suara) atau anggota PSSI menginginkan hal tersebut (pemilihan ketum baru),” ujarnya.
Pihaknya juga tak membatasi siapa pun untuk mengajukan diri sebagai calon ketum dengan berbagai latar belakang, mulai dari politikus, pengusaha, birokrat, maupun orang-orang yang justru ada di luar sepak bola.
“Tapi, tentu syaratnya tetap harus mengikuti statuta PSSI. Selama itu ditepati atau dipenuhi, tidak ada masalah,” ucapnya.
(qur/pojoksatu)

Soal Wacana Cak Imin Maju Sebagai Ketum, Ini Kata PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Belakangan ramai dibahas soal wacana Muhaimin Iskandar alias Cak Imin maju mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini disebutkan ingin maju mencalonkan sebagai ketum dengan berjanji membersihkan dan memajukan PSSI ke arah lebih baik.
Menanggapi wacana ini, anggota Komite Eksekutif (Exco), Gusti Randa tidak mempermasalahkannya.
Menurutnya, siapa saja boleh maju dalam pemilihan ketum PSSI.
“Saya kira dari sisi PSSI sama saja, siapapun yang mau jadi ketum silakan saja enggak ada masalah. Saya sih terbuka, memilih ketum di KLB. Mau KLB tahun 2020, ya itu memang durasinya. Tapi kalau mau dipercepat ya monggo juga,” ungkap Gusti, dilansir JawaPos.
Dijelaskan, sebetulnya syarat mutlak calon ketum sudah diatur di statuta PSSI pasal 34 ayat 4.
Di dalam syaratnya adalah usia minimal lebih dari 30 tahun, aktif di sepak bola kurang lebih 5 tahun, tak dinyatakan bersalah (pidana atau perdata), dan berdomisili di Indonesia
“Yang penting dari anggotanya memang menginginkan itu. Kedua, siapa mau apa. PSSI silakan, mau dia politisi, mau dia pedagang, birokrat, mau dia mantan atlet, pemain sepak bola, atlet, dan sebagainya, silakan saja,” paparnya.
“Jangankan ketum PSSI, mau jadi wakil mau jadi anggota, mau jadi sekjen, mau jadi exco pun monggo. Tetapi mereka harus memenuhi persyaratan regulasi. Selama itu ditepati atau dipenuhi saya kira nggak masalah. Karena yang mengukur, selain kami, juga yang lain,” tandasnya.
(jpc/pojoksatu)

Begini Pasal Match-Fixing di Statuta FIFA yang Tak Diketahui Anggota Exco PSSI, Gusti Randa

POJOKSATU.id, BOGOR – Anggota Exco PSSI, Gusti Randa dengan lantas mengatakan ia tidak tahu terkait pasal yang mengatur soal match-fixing yang tertuang dalam Statuta FIFA.
Pernyataan Gusti Randa itu sebagaimana terungkap dalam acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab di salahsatu stasiun televisi swasta nasional bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 3; Saatnya Revolusi”, kemarin.
Gusti Randa mengatakan hal itu setelah ditanya Sesmenpora, Gatot S. Dewa Broto yang juga hadir sebagai narasumber dalam acara yang disiarkan secara live tersebut.
Ada Anggota Exco PSSI Buta Statuta FIFA, Sesmenpora: Ini Keterlaluan!
“Sekarang Anda tahu ngga pasal berapa di Statuta FIFA yang menyoroti match fixing?,” tanya Gatot seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Indosport.
Gusti Randa dengan sigap menjawab tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu,” ucapnya lantang.
“Ini keterlaluan. Bisa-bisanya Komite Hukum PSSI (sekaligus Exco) tidak hapal ayat dan pasal match-fixing di Statuta FIFA,” sahut Gatot geram.
Sebagai informasi, dalam laman resmi FIFA yang bisa diakses bebas, dalam FIFA Code of Etchics 2018 (Kode Etik FIFA) di Pasal 29 tertuang aturan terkait manipulation of football matches or competitions, yang berbunyi seperti berikut ini:

Orang yang terikat oleh Kode ini dilarang terlibat dalam manipulasi pertandingan dan kompetisi sepak bola. Manipulasi seperti itu didefinisikan sebagai pengaruh atau perubahan yang melanggar hukum, secara langsung atau, dengan tindakan atau kelalaian, tentu saja, hasil atau aspek lain dari pertandingan atau kompetisi sepak bola, terlepas dari apakah perilaku tersebut dilakukan untuk keuntungan finansial, keuntungan olahraga atau tujuan lain apa pun. Khususnya, orang yang terikat oleh Kode Etik ini tidak akan menerima, memberi, menawarkan, menjanjikan, menerima, meminta atau meminta keuntungan uang atau keuntungan lainnya, atas nama dirinya sendiri atau pihak ketiga, sehubungan dengan manipulasi pertandingan dan kompetisi sepak bola.
Orang-orang yang terikat oleh Kode Etik ini harus segera melaporkan kepada Komite Etika pendekatan apapun sehubungan dengan kegiatan dan atau informasi yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kemungkinan manipulasi pertandingan atau kompetisi sepak bola seperti dijelaskan di atas.
Komite Etik harus kompeten untuk menyelidiki dan mengadili semua perilaku dalam sepak bola asosiasi yang memiliki sedikit atau tidak ada hubungan dengan tindakan di bidang permainan. Kompetensi Komite Disiplin FIFA tetap dipertahankan.
Pelanggaran terhadap aturan ini akan dikenai sanksi dengan denda yang sesuai setidaknya CHF 100.000 serta larangan ikut serta dalam aktivitas apa pun yang terkait dengan sepak bola selama minimal lima tahun karena pelanggaran par. 1 dan minimal dua tahun karena pelanggaran par. 2. Setiap jumlah yang diterima secara berlebihan akan dimasukkan dalam perhitungan denda.

Lebih lanjut, pada Pasal 2 Ayat (1) Kode Etik FIFA menyebutkan kalau statuta ini diberlakukan untuk para pihak berikut ini:

Ofisial, termasuk di dalamnya wasit, pelatih, asosiasi, liga, klub, dan lain-lain;
Pemain, semua pesepak bola yang mendapat lisensi dari asosiasi;
Agen Pertandingan, perseorangan atau badan hukum yang mendapatkan lisensi dari FIFA untuk menggelar pertandingan sesuai regulasi FIFA;
Perantara, mewakili pemain atau klub dalam negosiasi kontrak kerja atau kesepakatan transfer pemain.

(qur/pojoksatu)

Ada Anggota Exco PSSI Buta Statuta FIFA, Sesmenpora: Ini Keterlaluan!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto tampak tak habis pikir dengan ketidaktahuan anggota Exco PSSI terkait pasal match-fixing yang tertuang dalam Statuta FIFA.
Hal ini seperti terungkap dalam acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab di salahsatu stasiun televisi swasta nasional bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 3; Saatnya Revolusi”, kemarin.
Saat itu, Gatot menanyakan kepada Gusti Randa soal aturan match-fixing setelah mantan bintang film itu menegaskan tidak ada praktik tersebut di pentas sepakbola tanah air.

Selalu mendewakan statuta FIFA tapi tidak tahu isi Statuta FIFA , aktor Exco @PSSI ( Gusti Randa ) #pssibisaapajilid3 #MataNajwaPSSIBisaApa3 #JokdriOut pic.twitter.com/SrXOn87sHg
— aldi Widiyanto (@ALbesar1) January 23, 2019

“Sekarang Anda tahu ngga pasal berapa di Statuta FIFA yang menyoroti match fixing?,” tanya Gatot seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Indosport.
Gusti Randa dengan sigap menjawab tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu,” ucapnya lantang.
“Ini keterlaluan. Bisa-bisanya Komite Hukum PSSI (sekaligus Exco) tidak hapal ayat dan pasal match-fixing di Statuta FIFA,” sahut Gatot geram.
Gatot sendiri menyanggah pernyataan Gusti Randa, dan menegaskan praktik match-fixing ada dan terjadi. “Ada. Tim sembilan pernah mengatakan ada match-fixing, tapi PSSI saat itu mengatakan itu ngibul,” jawab Gatot saat ditanya Najwa Sihab.
Satgas Antimafia Bola sendiri sejauh ini telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus match-fixing. Para tersangka mulai dari anggota Exco PSSI, Komdis PSSI hingga perangkat pertandingan.
Selain itu satgas juga melakukan pemeriksaan terhadap pejabat PSSI. Terbaru mereka memeriksa plt Ketum PSSI, Joko Driyono, setelah sebelumnya memeriksa Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria dan Bendahara PSSI, Berlinton Siahaan.
Ketiga pejabat tinggi federasi sepakbola Indonesia itu diperiksa dalam kapasitas saksi terkait kasus match-fixing atas laporan Persibara Banjarnegara.
(qur/pojoksatu)

Rekannya Jadi Tersangka Match-Fixing, Begini Reaksi Gusti Randa

POJOKSATU.id, JAKARTA – Anggota Exco PSSI, Gusti Randa buka suara mengomentari penangkapan dan penetapan status tersangka salahseorang rekannya, Johar Lin Eng atas dugaan kasus match-fixing.
Sebelum ditetapkan tersangka, Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah itu digelandang Satgas Antimafia Bola ketika tiba di Bandara Halim Perdanakusuma dari Solo. Ia bawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan terkait dugaan keterlibatannya atas kasus mafia bola tersebut.
Gusti Randa awalnya mengaku belum tahu dengan kabar tersebut sebelum mendengar kabar dari wartawan yang menanyakannya.
Sosok Johar Lin Eng, Anggota Exco PSSI yang Diciduk Polisi
Reaksi Ketum PSSI Setelah Johar Lin Eng Ditetapkan Tersangka
Terlibat Match-Fixing, Johar Lin Eng Ditetapkan sebagai Tersangka

Gusti Randa – Anggota Exco PSSI (bolalob.com)”Saya baru tahu tadi dari salah satu wartawan memberi kabar,” tutur Gusti Randa kepada wartawan, di Jakarta.
Ia pun mengaku langsung melakukan kroscek untuk mencari kebenaran atas informasi tersebut. “Setelah aya kroscek kepada rekan Exco (lainnya) ternyata memang begitu (informasi penangkapan Johar Lin Eng),” ujarnya.
Pihaknya sendiri mengaku kaget dengan kabar tersebut, terlebih tersangka tidak pernah bicara soal kasus pengaturan skor yang diduga melibatkan dirinya.
“Dia tidak pernah bicara soal nama dia yang ramai dibicarakan selepas acara ‘Mata Najwa’. Exco kaget juga dengan penangkapan ini,” imbuhnya.
Sebelumnya, Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri menangkap salahseorang anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Johar Lin Eng.
Kabid Humas Polda Metro Jara, Kombes Argo Yuwono dalam konferensi pers, Kamis (27/12/2018) mengungkapkan, Johar telah dijadikan tersangka kasus dugaan pengaturan skor tersebut.
Penetapan Johar sendiri, sebut dia, setelah tim penyidik melakukan serentetan pemeriksaan terhadap beberapa saksi.  Ditegaskannya, per hari besok, Jumat (28/12/2018) Johar Lin Eng akan ditahan.
“Kami sudah memeriksa sekitar 11 orang saksi, dan dari keterangan mereka penyidik melakukan gelar perkara untuk menentukan naik sidik. Setelah itu tim bergerak ke daerah Semarang dan kami menangkap pelaku berinisial P dan inisial A di Pati,” tutur Argo dikutip Pojoksatu.id dari Goal.
Seiring penangkapan kedua tersangka itu, sebut Argo, penyidikan kemudian dikembangkan untuk kemudian mengarah pada Johar. Lin Eng.
“Penyelidikan menemukan J dan melakukan penangkapan hari ini, besok baru dilakukan penahanan. Statusnya sudah tersangka,” ungkap ketua tim media Satgas Antimafia Bola ini.
(qur/pojoksatu)

Exco PSSI Akan Pelototi Detik-Detik Akhir Kompetisi Liga 1

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kompetisi Liga 1 2018 atau Go-Jek Liga 1 untuk kepentingan komersial tinggal menyisakan dua laga.
PSM Makassar dan Persija Jakarta akan bersaing sengit dalam perebutan gelar juara hingga laga pamungkas.
Juku Eja bertengger di puncak klasemen, namun Macan Kemayoran menguntitnya di bawahnya dengan selisih angka satu.
Gusti Randa – Anggota Exco PSSI (bolalob.com)
Sementara Persib Bandung, yang sempat menjadi juara paruh musim harus mundur dari persaingan setelah kehilangan banyak poin pasca sanksi berat Komdis PSSI beberapa waktu lalu.
Komite Eksekutif (Exco) PSSI pun akan mengawal detik-detik berakhirnya kompetisi kasta tertinggi di tanah air itu.
Bahkan, ditegaskan salahsatu anggotanya, Gusti Randa, pihaknya akan langsung terjun ke lokasi pertandingan untuk mengantisifasi terjadinya upaya match-fixing atau dugaan pengaturan skor.
Dengan dua laga tersebut, kernyataan tersebut diprediksi sangat rawan terjaid main mata. “Dalam pekan-pekan terakhir jangan sampai ada pengaturan skor. Tadi saya sarankan, semua pertandingan akhir musim harus dikawal oleh Exco PSSI,” tegas Gusti.
Pihaknya menegaskan ingin menjaga kualitas kompetisi sampai akhir. Terlebih, juara Liga 1 bisa saja ditentukan pada pekan terakhir.
“Agar apa? Permainan, pengaturan skor, yang degradasi tiba-tiba aman, ada jualan bisa diawasi. Nanti sudah diputuskan kalau laga PSM dan Persija akan berbarengan,” ujarnya.
Salahsatu skenario yang akan ditempuh pihaknya adalah menggelar pertandingan dengan jadwal kick-off yang berbarengan untuk laga-laga krusial.
“Nantinya, pada pekan terakhir, Persija kontra Mitra Kukar dan PSM melawan PSMS Medan akan dilangsungkan dalam waktu yang sama. Ya, pekan terakhir saja. Mana yang kira-kira tak sama, harus disamakan,” ujarnya menandaskan.
(jpc/qur/pojoksatu)

Publik Sudah Muak dengan PSSI, Betul Tidak?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komite eksekutif atau Exco PSSI akhirnya buka suara menanggapi persoalan rangkap jabatan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang kini tengah menjadi sorotan publik.
Edy didesak mundur dari jabatan ketua federasi sepak bola tanah air itu karena rangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara. Desakan itu pun semakin menguat menyusul hasil buruk Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2018.
Anggota Exco PSSI, Gusti Randa pun mengaku persoalan tersebut, terlebih kini mencuatnya tagar #EdyOut yang menggema di lini masa saat ini cukup mengganggu stabilitas PSSI.
Exco PSSI, Susahnya Berkomunikasi dengan Edy Rahmayadi!
Gusti Randa – Anggota Exco PSSI (bolalob.com)
Ditegaskannya, PSSI akan akan bersikap dalam beberapa waktu ke depan. “Tadi (dalam rapat Exco) memang dibicarakan. Kami tak bisa pungkiri hal itu. Karena PSSI saat ini dapat atensi negatif dari segala penjuru arah angin,” tutur Gusti.
Pihaknya pun tak menampik jika publik sudah muak dengan hal tersebut, sebagaimana terlihat dalam rapat semua anggota Komite Eksekutif di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (25/11/2018).
“Pertama, publik ini sudah muak dengan PSSI, betul enggak? Lalu ada tekanan dari pemerintah yang gesturnya juga sudah marah. Dari kanan-kiri juga media menekan,” sebutnya.
“Nah, bagaimana PSSI sekarang? harus punya sikap. Apa? Pertama mbok ya misal Ketum beri pernyataan jangan blunder, misalnya. Itu saya ungkapkan tadi, tetapi tak bisa diputuskan karena Pak Edy nya tak ada,” tandasnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Exco PSSI, Susahnya Berkomunikasi dengan Edy Rahmayadi!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komite eksekutif atau Exco PSSI akhirnya buka suara menanggapi persoalan rangkap jabatan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang kini tengah menjadi sorotan publik.
Edy didesak mundur dari jabatan ketua federasi sepak bola tanah air itu karena kini berstatus sebagai Gubernur Sumatera Utara. Desakan itu pun semakin menguat menyusul hasil buruk Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2018.
Anggota Exco PSSI, Gusti Randa mengaku pihaknya kesulitan untuk berkomunikasi dengan Edy, termasuk untuk berkomunikasi soal permasalahan yang tengah jadi sorotan publik ini, karena sang ketua jarang hadir.
Exco sendiri, diakui dia, punya keinginan untuk mengingatkan Edy Rahmayadi soal masalah rangkap jabatan yang tengah disoal publik saat ini.
“Exco cuma bisa menyarankan, tapi orangnya tak ada. Kemudian masalah waktu, bagaimana bisa dibicarakan kalau ketumnya tak ada. Ketum saat ini saja ada di Sumut. Ini yang harus disikapi, kalau tidak, bisa panjang,” tutur Gusti.
Komunikasi pihaknya selama ini, sebut Gusti hanya dengan Joko Driyono selaku wakil. Karena itu, tentu akan sangat sulit bila menjabarkan program kerja dan evaluasi kalau ketumnya tak ada.
“Ini publik menunggu, bahkan dalam rapat kalau keputusan rapat Exco cuma kongres tahunan tak penting buat wartawan. Wartawan ingin tahu, kan kira-kira begitu,” tandasnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Nasib Bima Sakti Akan Diputuskan Besok Lusa

POJOKSATU.id, JAKARTA – Exco PSSI bukan suara terkait performa minor pelatih Bima Sakti bersama Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2018.
Bima Sakti gagal membawa timnya menembus babak semifinal kendati masih menyisakan satu laga pamungkas kontra Fipilina di fase Grup B.
Anggota Exco PSSI Yoyok Sukawi mengungkapkan, pihaknya masih belum tahu tentang masa depan Bima Sakti bersama timnas.
Jika Dinilai Gagal Total, Bima Sakti Siap Mundur
Pihaknya masih akan merundingkan masalah tersebut dalam Rapat Exco yang akan dilakukan pada 25 November mendatang.
“Agendanya ada tiga, yang pertama agenda rutin, yang kedua persiapan kongres tahunan, yang ketiga baru membahas terkait evaluasi timnas di Piala AFF, di dalamnya juga tentang nasib Bima,” tutur Yoyok seperti dikutip dari jpnn.
Namun begitu, Yoyok menilai, sang pelatih memang harus diganti menyusul hasil buruk di ajang kompetisi paling bergengsi se-Asia Tenggara itu.
“Dia sudah diberi mandat jadi pelatih kepala tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Bima paling pas di asisten pelatih, atau diberi kesempatan untuk menangani timnas yang lebih muda,” sebut dia.
Soal sosok suksesornya, Yoyok mengaku belum mendapat gambaran, namun ia menyarankan calon pelatih berikutnya tak perlu muluk-muluk sekaliber Luis Milla.
“Saya mengusulkan pelatih yang lebih berpengalaman saja, yang punya jam terbang di timnas,” tuturnya.
Selain itu, sebut dia, pelatih nanti juga harus punya harga ‘standar’ alias sesuai dengan kondisi keuangan federasi.
“Percuma kalau pelatih mahal tidak mampu bayar,” sebut Yoyok merujuk pada kasus tunggakan gaji pelatih timnas sebelumnya, Luis Milla.
(qur/pojoksatu)

Anggota Exco PSSI Ini Desak Pelatih Timnas Indonesia Diganti

POJOKSATU.id, JAKARTA – Anggota Exco PSSI, Gusti Randa mengungkapkan kekecewaannya atas hasil buruk Timnas Indonesia di Piala AFF 2018.
Kendati masih menyisakan satu laga pamungkas Grup B menghadapi Filipina, Minggu (25/11/2018) di SUGBK, Jakarta, skuat besutan Bima Sakti itu dipastikan tersingkir dan gagal melaju ke babak semifinal.
Kegagalan skuat Garuda sendiri tidak terlepas dari hasil pertandingan Filipina kontra Thailand di Stadion Panaad, Bacolod, Rabu lalu.
Laga yang berakhir dengan hasil identik 1-1 praktis mengubur asa Indonesia untuk melaju ke fase knock-out setelah kalah perolehan poin di klasemen.
Indonesia baru mengemas tiga angka dari kemenangan atas Timor Leste, sedangkan Thailand dan Filipina masing-masing mengoleksi tujuh poin.
Jika Stefano Lilipaly sukses mengalahkan Filipina pun, mereka hanya sanggup mengumpulkan enam poin sehingga hasil di pertandingan nanti tak akan berdampak sama sekali pada posisi klasemen akhir Grup B.
Karena itu, Gusti Randa pun mendesak segera dilakukan evaluasi atas kinerja Timnas Indonesia. “Sudah pasti evaluasi, pelatih juga harus diganti,” tegasnya.
Terpisah, Bima Sakti mengakui kegagalan ini sangat menyakitkan. ”Kami semua sedih melihat hasil pertandingan itu (Filipina melawan Thailand),” ucapnya.
Padahal, sebut Bima, timnya sudah menyiapkan formasi dan strategi terbaik untuk bisa mengalahkan skuat besutan Sven-Goran Erikkson di SUGBK nanti.
Kendati laga nanti tak berdampak apa-apa, namun Bima berjanji akan menutup turnamen ini dengan kemenangan.
“Kami tetap harus tutup pertandingan dengan kemenangan,” ucap mantan asisten pelatih Luis Milla ini.
(jpnn/qur/pojoksatu)