Internasional

Semua Koleksi Michael Jackson Disingkirkan dari Museum di Amerika

POJOKSULSEL.com – Memorabilia terkait penyanyi Michael Jackson disingkirkan dari Museum Anak di Indiana, Amerika Serikat (AS). Hal itu dilakukan setelah terungkap bahwa penyanyi yang terkenal dengan julukan King of Pop tersebut dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak dalam film dokumenter berjudul Leaving Neverland.
Kurator museum memutuskan menyingkirkan koleksi Michael Jackson setelah menghadiri pemutaran perdana film Leaving Neverland di HBO, Amerika, belum lama ini.
Koleksi yang disingkirkan di antaranya adalah sarung tangan ikonik milik Michael Jackson yang didapat dari lelang tahun 2017, dan sebuah poster besar milik sang idola yang terpajang di dinding museum.
Sesungguhnya, kami ingin pengunjung melihat seorang tokoh ketika mendatangi museum. Tetapi, ketika kalian mempelajari sejarah seorang tokoh dari sisi yang lain, maka perlu dipertimbangkan apakah tokoh tersebut pantas diperkenalkan,” kata Direktur koleksi museum, Chris Carron pada the Indianapolis Star, sebagaimana dilansir dari Aceshowbiz, 18 Maret 2019.
Diketahui, film yang disutradarai oleh Dan Reed tersebut memang menuai kontroversi. Pasalnya dua anak yang telah dewasa, yakni Wade Robson and James Safechuck mengungkapkan bahwa mereka alami penganiayaan oleh Michael Jackson.
(jpc/pojoksulsel)

Kisah Heroik Abdul Aziz yang Melawan Penembak Masjid Selandia Baru

POJOKSULSEL.com – Banyak kisah heroik di Christchurch saat pelaku teror mengumbar peluru ke masjid yang berisi jemaah salat Jumat. Di antara mereka ada yang berusaha menyelamatkan orang lain saat serangan pelaku teror beraksi secara brutal.
Salah satunya adalah Abdul Aziz Wahabzada. Pria asal Afghanistan itu baru bermukim di Selandia Baru sejak 2,5 tahun lalu.
Sebelum pindah ke Selandia Baru, Abdul Aziz tinggal di Australia selama 27 tahun. Usahanya adalah toko perabotan dan barang-barang rumah tangga.
Abdul Aziz bertindak berani dengan melawan Brenton Tarrant sang pelaku teror. Pria 48 tahun itu mengaku bertindak tanpa pikir panjang.
“Kami baru saja memulai salat Jumat, kemudian terdengar suara tembakan. Kami pikir ada orang yang sedang bermain dengan petasan dan terus melakukan shalat, tetapi seorang yang ada di baris pertama lalu berteriak saudara-saudari muslim kami ditembak mati di luar,” tuturnya kepada Deutsch Welle.
Posisi Abdul Aziz di dekat pintu masuk saat teror terjadi. Dia segera berlari keluar sambil membawa benda yang ada di dekatnya yang bisa dijadikan senjata: mesin kecil pembaca kartu kredit.
Abdul Aziz bergerak saat Brenton Tarrant sedang tidak bersenjata. Setelah melakukan penembakan di Masjid Al Noor, pria Australia juga menembaki orang-orang di luar sampai peluru di senjatanya habis dan kembali ke mobilnya untuk senapan lain.
“Senapan yang dia gunakan sebelumnya ditembakkan tiga atau atau empat putaran. Dia sudah membunuh tiga orang dengan itu, lalu dia membuangnya. Di mobilnya ada lebih banyak senjata otomatis. Dia ingin ambil senjata lain untuk melanjutkan serangannya,” kata Abdul Aziz.
Sekalipun Brenton Tarrant memakai seragam militer, Abdul Aziz langsung menyadari aksi brutal itu adalah serangan teror. Abdul Aziz langsung melemparkan mesin pembaca kartu kredit ke arah penyerang.
Brenton Tarrant berhasil menghindar lalu mengeluarkan senapan serbu otomatis dan mulai menembaki Abdul Aziz. Untungnya dia bisa bersembunyi di balik mobil yang diparkir.
Abdul Aziz meneruskan perlawanannya. Dia sempat mengambil senapan yang dibuang penyerang dan menarik pelatuknya, tetapi tidak ada amunisi lagi di senjata milik penyerang.
Sementara Tarrant kembali memasuki masjid dan melepaskan tembakan lagi. Abdul Aziz mengikutinya, tetapi penembak ternyata berlari lagi keluar masjid lagi untuk mengambil senjata lain dan amunisi.
Pelaku sempat menembak ke arah Abdul Aziz sebelum membuang senjatanya dan masuk ke mobil. Abdul Aziz yang memegang senapan tanpa amunisi langsung melemparkannya ke mobil Tarrant.
Tak lama kemudian polisi tiba dan menyergap mobil Brenton Tarrant dengan menghimpit dan menabraknya ke trotoar. Selanjutnya, polisi berhasil membekuk Tarrant.
(dw/jpc/jpg/pojoksulsel)

Jumlah Korban Penembakan di Belanda Bertambah, Ini Pengumuman Resmi Walikota Utrecht

POJOKSATU.id, UTRECHT – Jumlah korban meninggal akibat aksi penembakan di sebuah trem di Utrecht, Belanda, Senin (18/3/2019) pag waktu setempat dipastikan bertambah. Dalam pengumuman resmi yang disampaikan Walikota Utrecht, Jan van Zanen, tiga orang meninggal dan sembilan lainnya luka-luka akibat insiden itu.
Dikutip Pojoksatu.id dari NLtimes, Jan van Zanen menyebutkan jumlah korban dari aksi penembakan yang diduga didalangi teroris itu. Tiga orang tewas, 9 lukaluka. Setidaknya tiga korban luka dalam kondisi serius atau kritis.
BACA JUGA: Aksi Teror di Belanda, Pria Asal Turki Jadi Buron
“Pikiranku bersama kerabat para korban dan orang-orang yang menyaksikannya. Sangat mengerikan,” katanya dalam sebuah video yang diposting di Twitter.
Video itu diposting ketika polisi juga tengah memburu Gokmen Tanis, seorang pria berusia 37 tahun yang lahir di Turki, diduga terlibat aksi penembakan itu.
“Mungkin ada setidaknya satu pelaku, tetapi mungkin juga ada beberapa pelaku,” kata Van Zanen di depan kamera. “Kita tidak bisa menafikan bahwa pada kenyataannya kita berasumsi, motif teroris,” jelasnya.

Burgemeester Jan van Zanen reageert op het schietincident eerder vandaag pic.twitter.com/PzI6t2tPtX
— Gemeente Utrecht (@GemeenteUtrecht) 18 Maret 2019

Tak lama setelah pernyataan walikota diterbitkan, polisi di Utrecht mengungkapkan rincian lebih lanjut dalam penyelidikan.
BACA JUGA: Kasus Suap Romahurmuziy Bukan Cuma di Jatim, Banyak Daerah!
“Tepat sebelum insiden penembakan pada 24 Oktoberplein di Utrecht, ada pembajakan mobil di Amerikalaan (di mana) sebuah mobil Renault Clio merah dirampas. Mobil yang terlibat kemudian ditemukan di Tichelaarslaan.”
Menurut penyiar NOS, seorang wanita melaporkan mobil ke polisi setelah mesin dihidupkan selama beberapa jam. Dia mengatakan ada catatan di kendaraan itu, tetapi dia menolak untuk mengatakan apa yang tertulis di catatan itu.
Diberitakan sebelumnya, Kepolisian Belanda terus mendalami insiden penembakan tragis di sebuah kereta di Kota Utrecht, Senin (18/3/2019) pagi waktu setempat. Terbaru, pria asal Turki masuk daftar pencarian orang (DPO) alias buron.
Gokman Tanis (37), pria asal Turki yang diduga terlibat dalam aksi teror di Belanda, Senin (18/32019) pagi waktu setempat.
Dikutip Pojoksatu.id dari European Views, warga Turki yang diduga terlibat dalam penembakan di Belanda itu diketahui bernama Gokman Tanis. Ia kini menjadi buronan polisi Belanda.
BACA JUGA: Keponakan Prabowa Sudah 50 Kali Membobol ATM, Benarkah Uangnya Mengalir ke Gerindra?
Tersangka diyakini telah melarikan diri dari lokasi penembakan trem di Utrecht dengan mobil.
“Polisi meminta Anda untuk melihat Gökman Tanis (lahir di Turki) berusia 37 tahun yang terkait dengan insiden pagi ini di 24oktoberplein di Utrecht. Jangan mendekatinya tetapi teleponlah 0800-6070,” kata pihak kepolisian Belanda.
Memutakhirkan laporan awal, kepala badan penanggulangan teror Belanda mengatakan telah terjadi penembakan di “beberapa” lokasi di Utrecht pada hari Senin.
“Beberapa tembakan dilepaskan di trem dan beberapa orang terluka. Helikopter ada di tempat kejadian dan tidak ada penangkapan yang dilakukan,” kata juru bicara kepolisian Joost Lanshage.
BACA JUGA: Giliran Belanda Jadi Sasaran Teror, Pelaku Menembak Membabi Buta di dalam Kereta
Koordinator Anti-Terorisme Nasional, Pieter-Jaap Aalbersberg, mengatakan pihaknya telah meningkatkan tingkat siaga di wilayah Utrecht hingga maksimum lima.
“[Penembakan trem Utrech] tampaknya merupakan serangan teroris”, kata kepala badan anti-terorisme negara itu, Pieter-Jaap Aalbersberg, seperti dikutip oleh penyiar Belanda NOS.
“Pelakunya masih dalam pelarian. Motif teror tidak bisa dikesampingkan,” kata Aalbersberg dalam sebuah posting Twitter, mendesak warga setempat untuk mengikuti instruksi polisi setempat.
Media lokal memberitakan jika pengamanan diperketat di sejumlah titik rawan. Seperti di sekitar gedung-gedung pemerintah, sekolah, fasilitas Universitas Utrecht, dan masjid – termasuk dalam kaitannya dengan serangan teroris baru-baru ini terhadap dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyampaikan duka mendalam atas penembakan di Utrecht tersebut. Ia mengakui kemungkinan penembakan tersebut adalah serangn teroris.
(fat/pojoksatu)

Aksi Teror di Belanda, Pria Asal Turki Jadi Buron

POJOKSATU.id, UTRECHT – Kepolisian Belanda terus mendalami insiden penembakan tragis di sebuah kereta di Kota Utrecht, Senin (18/3/2019) pagi waktu setempat. Terbaru, pria asal Turki masuk daftar pencarian orang (DPO) alias buron.
Dikutip Pojoksatu.id dari European Views, warga Turki yang diduga terlibat dalam penembakan di Belanda itu diketahui bernama Gokman Tanis. Ia kini menjadi buronan polisi Belanda.
BACA JUGA: Kasus Suap Romahurmuziy Bukan Cuma di Jatim, Banyak Daerah!
Tersangka diyakini telah melarikan diri dari lokasi penembakan trem di Utrecht dengan mobil.
“Polisi meminta Anda untuk melihat Gökman Tanis (lahir di Turki) berusia 37 tahun yang terkait dengan insiden pagi ini di 24oktoberplein di Utrecht. Jangan mendekatinya tetapi teleponlah 0800-6070,” kata pihak kepolisian Belanda.
Polisi masih melakukan penyelidikan di lokasi penembakan di Utrecht, Belanda.
Memutakhirkan laporan awal, kepala badan penanggulangan teror Belanda mengatakan telah terjadi penembakan di “beberapa” lokasi di Utrecht pada hari Senin.
“Beberapa tembakan dilepaskan di trem dan beberapa orang terluka. Helikopter ada di tempat kejadian dan tidak ada penangkapan yang dilakukan,” kata juru bicara kepolisian Joost Lanshage.
BACA JUGA: Giliran Belanda Jadi Sasaran Teror, Pelaku Menembak Membabi Buta di dalam Kereta
Koordinator Anti-Terorisme Nasional, Pieter-Jaap Aalbersberg, mengatakan pihaknya telah meningkatkan tingkat siaga di wilayah Utrecht hingga maksimum lima.
“[Penembakan trem Utrech] tampaknya merupakan serangan teroris”, kata kepala badan anti-terorisme negara itu, Pieter-Jaap Aalbersberg, seperti dikutip oleh penyiar Belanda NOS.
“Pelakunya masih dalam pelarian. Motif teror tidak bisa dikesampingkan,” kata Aalbersberg dalam sebuah posting Twitter, mendesak warga setempat untuk mengikuti instruksi polisi setempat.
Media lokal memberitakan jika pengamanan diperketat di sejumlah titik rawan. Seperti di sekitar gedung-gedung pemerintah, sekolah, fasilitas Universitas Utrecht, dan masjid – termasuk dalam kaitannya dengan serangan teroris baru-baru ini terhadap dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyampaikan duka mendalam atas penembakan di Utrecht tersebut. Ia mengakui kemungkinan penembakan tersebut adalah serangn teroris.
(fat/pojoksatu)