jokdri

Penyidik Kembali Panggil Joko Driyono

POJOKSATU.id, JAKARTA – Joko Driyono (Jokdri) bakal kembali menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Penyidik Satgas Antimafia menjadwalkan pemeriksaan pada Rabu (27/2) mendatang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Argo Yuwono membenarkan hal tersebut
Argo menjelaskan, pemeriksaan kedua sebagai tersangka itu merupakan panggilan lanjutan atas proses hukum.
Penyidik masih membutuhkan keterangan dari Joko Driyono untuk mencari fakta-fakta baru dalam penyidikan.
Lebih lanjut disebutkan, berdasarkan agenda penyidikan, Joko Driyono akan diperiksa pada pukul 10.00 WIB.
“Sesuai agenda, tersangka JD akan diperiksa jam 10 pagi. Tersangka akan dimintai keterangan lanjutan,” ujarnya, dilansir JawaPos.
Argo juga membenarkan, jika pemeriksaan terhadap Jokdri meliputi transfer masuk keluar rekening pribadi hingga verifikasi data di lembaga PSSI.
Sebagaimana diketahui, Jokdri telah menyelesaikan pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka perusakan barang bukti pengaturan skor Liga Indonesia. Usai menjalani pemeriksaan, polisi belum melakukan penahanan terhadap Jokdri.
Usai dicecar dengan 17 pertanyaan lebih selama 22 jam, Jokdri keluar dari ruangan penyidik Satgas Antimafia Bola Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (22/2). Jokdri diperiksa sejak pukul 09.43 Kamis (21/2).
(jpc/pojoksatu)

Garap Jokdri, Satgas Antimafia Bola Gandeng PPATK

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam mengusut transaksi keuangan milik tersangka Joko Driyono.
Jokdri sendiri telah digarap selama 22 jam atas dugaan keterlibatan pencurian dan perusakan barang bukti temuan satgas berupa dokumen yang berkaitan dengan match-fixing.
Kini, satgas sendiri mulai fokus mengusut transaksi keuangan milik pria asal Ngawi itu untuk memeriksa indikasi adanya keterlibatan langsung tersangka dengan kasus match-fixing.
Skandal Match-Fixing, Semua Berawal dari Sini!
Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis
“Tadi disebutkan bahwa dokumen-dokumen menyangkut transaksi keuangan itu harus diaudit oleh PPATK. PPATK pun nanti akan pilah-pilah ini transaksi mencurigakan untuk match-fixing di liga mana,” ungkap Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Dedi Prasetyo.
Nantinya dari hasil temuan baru akan terus diperdalam lagi. Karena itu, semua proses tersebut dikatakan Dedi  membutuhkan proses dan penyidikan mendalam.
“Misalnya di Liga 3 nanti akan diteliti kembali pada pertandingan yang mana, siapa perangkat pertandingan yang menerima, sumbernya dari mana, alirannya kemana saja. Itu butuh waktu,” imbuhnya.
Joko Driyono sendiri terancam pasal berlapis mulai dari pasal 363 KUHP terkait pencurian dan pemberatan, kemudian pasal 232 KUHP tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.
Selain itu, tersangka juga bisa dijerat dengan pasal 233 KUHP tentang perusakan barang bukti, termasuk pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 KUHP dan 233 KUHP.
(qur/pojoksatu)

Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri kembali menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti temuan Satgas Antimafia Bola terkait match-fixing di bekas kantor PT Liga Indonesia.
Jokdri menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Satgas Antimafia Bola Mabes Polri secara maraton selama 22 jam, Jumat (22/2/2019).
Jokdri sendiri sebagaimana disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, telah mengakui perbuatannya, menyuruh anak buahnya untuk mencuri, merusak, dan menghilangkan barang bukti.
Jokdri Tak Ditahan, Kombes Argo: Belum Ada Instruksi
Jokdri Tak Ditahan, Ini Alasan Satgas Antimafia Bola
“Dia mengakui, menyesali, dan benar bahwa dia yang memerintahkan sopirnya untuk mengambil dokumen yang ada di kantornya kemudian dia minta bantuan dua orang untuk mengambil CCTV dan DVR CCTV,” tutur Dedi seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos, Jumat (22/2/2019).
Namun begitu, pihaknya masih akan terus menggali soal motif tersangka melakukan tindakan tersebut. “Itu belum mengarah ke sana (penyidikannya). Minggu depan akan dimintai keterangan lagi,” katanya.
Sejauh ini, pihaknya juga belum menemukan keterlibatan pihak lain dalam kasus pencurian, perusakan, dan penghilangan barang bukti tersebut.
“Empat orang saja yang terlibat secara aktif melakukan pencurian, perusakan, dan penghilangan barbuk,” ujarnya.
Sementara soal tidak ditahannya Jokdri, pihaknya menegaskan punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri.

Jokdri Tak Ditahan, Kombes Argo: Belum Ada Instruksi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri kembali menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti temuan Satgas Antimafia Bola terkait match-fixing di bekas kantor PT Liga Indonesia.
Jokdri menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Satgas Antimafia Bola Mabes Polri secara maraton selama 22 jam, Jumat (22/2/2019).
Jokdri sendiri sebagaimana disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, telah mengakui perbuatannya, menyuruh anak buahnya untuk mencuri, merusak, dan menghilangkan barang bukti.
Jokdri Tak Ditahan, Ini Alasan Satgas Antimafia Bola
“Dia mengakui, menyesali, dan benar bahwa dia yang memerintahkan sopirnya untuk mengambil dokumen yang ada di kantornya kemudian dia minta bantuan dua orang untuk mengambil CCTV dan DVR CCTV,” tutur Dedi seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos, Jumat (22/2/2019).
Namun begitu, hingga saat ini satgas belum melakukan langkah penahanan terhadap tersangka atas pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Lagipula, dikemukakan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, pihaknya belum mendapat instruksi untuk memasukkan Jokdri ke sel.
Makanya, Jokdri diperbolehkan pulang usai menjalani pemeriksaan kedua yang berlangsung selama 22 jam tersebut.
“Semuanya itu tergantung dari penyidik, tetapi untuk sementara ini belum ada penahanan. Tentunya penyidik ingin menggali kembali yang lebih banyak keterangannya, berkaitan dengan barang bukti yang kami sita,” tuturnya.
“Jadi belum semuanya terverifikasi barang bukti tersebut, misalnya seperti ada barang bukti transfer, ada buku tabungan, itu belum terverifikasi semuanya. Tentunya itu nanti pekerjaan penyidik untuk memverifikasi semuanya,” imbuhnya.
(qur/pojoksatu)

Jokdri Akan Kembali Digarap Satgas Antimafia Bola

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola memberikan sinyalemen akan kembali memanggil dan memeriksa plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri sebelumnya telah menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus pengaturan skor atas pelaporan eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi.
Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono menyebutkan, tak menutup kemungkinan satgas akan kembali memanggil Jokdri menyusul perkembangan baru soal temukan penghancuran dokumen di kantor PT Liga Indonesia saat satgas melakukan penggeledahan.

“Tentunya dalam pengembangan, semua akan dipanggil, bukan hanya beliau (Jokdri) saja tapi yang lain juga,” sebut Syahar seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Namun, dikatakannya, pemanggilan tersebut belum dijadwalkan. Sebab satgas masih menyelidiki dokumen yang disita dari hasil penggeledahan di dua tempat tersebut beberapa waktu lalu.
“Satgas sedang mendalami dokumen-dokumen. Setelah itu dibuat rencana penyelidikan, penyidikan,” sebutnya.
Diketahui, Satgas Antimafia Bola akhir pekan lalu melakukan penggeledahan di bekas kantor PT Liga Indonesia yang terletak di Rasuna Office Park, Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta Pusat dan kantor PT Gelora Trisula Semesta (GTS), operator Indonesia Soccer Championship 2016, di Menara Rajawali, Lantai 11, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
PT LI merupakan operator Liga 1, 2, dan 3 pada 2009-2015. Kala itu, liga papan atas Indonesia masih bernama Liga Super Indonesia.
Sedangkan PT GTS merupakan operator liga pada 2016, saat PSSI dibekukan oleh FIFA. Sedangkan pada 2017 dan 2018, operator dipegang oleh PT Liga Indonesia Baru.
Adapun saat menggeledah di kantor PT. Liga Indonesia, penyidik menemukan sejumlah kertas yang telah dihancurkan mesin penghancur kertas.
Dari pengakuan saksi yang merupakan pegawai di kantor tersebut, kertas-kertas itu merupakan laporan keuangan Persija.
Terkait hal tersebut, lebih lanjut Syahar menegaskan dari hasil pengembangan penyidikan akan ada tersangka baru. “Ya pasti lah. Tidak menutup kemungkinan tersangka baru,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Vigit Waluyo Buka-bukaan Soal Skandal Match-Fixing, Begini Reaksi Jokdri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono atau Jokdri buka suara terkait pengakuan Vigit Waluyo terkait skandal match-fixing di pentas sepakbola Indonesia.
Dalam konferensi pers di sela pemeriksaannya di Mapolda Jatim, kemarin, Vigit berbicara banyaklah termasuk indikasi-indikasi dan bagaimana praktik match-fixing dijalankan.
Jokdri pun mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang tengah melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Vigit Waluyo, tersangka kasus match-fixing buka-bukaan soal praktik mafia bola di pentas sepakbola Indonesia (jawapos.com)
Menurutnya, hal itu bagus agar kasus pengaturan skor yang tengah melanda bisa terbuka lebar. Karena itu, pihaknya akan mendukung penuh langkah-langkah satgas dalam upaya memberantas praktik mafia bola ini.
Pihak federasi sendiri, ditegaskan Jokdri, berjanji  selalu bersikap transparan dan tidak akan menutup-nutupi semuanya.
“Saya kira PSSI seperti yang saya sampaikan di awal, sangat mendukung dan menghormati seluruh upaya kepolisian melalui satgas ini,” ungkap Jokdri di Mapolda Metro Jaya, tadi malam.
Jokdri mengajak semua pihak bersinergi untuk mengusung sepak bola tanah air menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.
“Agar kita semua bersinergi dan memastikan sepak bola yang lebih baik di masa yang akan datang,’ ucapnya.
Sebelumnya, Jokdri juga mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang juga turut memeriksa dirinya dalam kapasitas sebagai saksi, tadi malam.
“Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan menjadi referensi bagi kepolisian untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan terhadap proses yang dilakukan terdahulu, baik kepada terlapor maupun saksi-saksi sebelumnya,” tandasnya.