komdis pssi

Dilarang Nyetadion Seumur Hidup, Yuli Sumpil: Arema sampai Mati!

POJOKSATU.id, MALANG – Dirigen Aremania, Yuli Sumpil lebih memilih pasrah atas sanksi larangan nyetadion seumur hidup kendati manajer Arema FC siap membantunya untuk mengajukan banding ke PSSI.
Yuli Supir diganjar sanksi super berat oleh Komdis PSSI berupa larangan menonton seluruh pertandingan sepakbola di stadion setelah melakukan tindakan tak terpuji dan memprovokasi pemain Persebaya Surabaya di laga Arema FC kontra Persebaya di Liga 1 2018 lalu.
Namun, Yuli pasrah dan tidak pernah memikirkan niat untuk mengajukan banding atas hukumannya tersebut.
Namun begitu, Yuli tetap mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas tawaran yang diberikan oleh pihak klub kebanggaannya itu.
“Terima kasih atas upaya manajemen. Ini semua inisiatif manajemen dan Aremania. Saya tidak minta,” ujarnya dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Dia menambahkan, sejak awal dirinya memang tidak ingin mengungkapkan protes atas sanksi tersebut. Menurutnya, hal itu akan menimbulkan reaksi dari para Aremania.
Dia menganggap pemberian sanksi tersebut sudah menjadi lika-liku perjalanan hidupnya sebagai seorang suporter.
“Karena saya yakin, setiap perjalanan saya ada campur tangan Tuhan. Saya tidak pernah ramai di medsos, saya tidak bilang PSSI ini adil atau tidak,” ucapnya.
Bahkan, sejak awal pemberian sanksi, dia tidak pernah dan tidak ingin bertemu dengan manajemen Arema FC.
“Karena saya berpikir, mereka mungkin ada urusan lain yang lebih penting untuk Arema ketimbang mengurusi saya. Itu lebih penting,” sebut dia.
Yuli mengaku akan menerima apa pun hasil banding nantinya. “Karena ini garis perjalanan saya sebagai Aremania. Yang jelas, Arema ada di dalam hati sampai mati,” imbuhnya.
(qur/pojoksatu)

Pemain yang Dihukum Seumur Hidup Itu Tak Pernah Terima Surat Panggilan Komdis PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Krisna Adi Darma, pemain PS Mojokerto Putra yang dihukum larangan bermain seumur hidup oleh Komdis PSSI ternyata tidak pernah menerima surat panggilan.

Dari tiga surat panggilan yang dikirim Komdis PSSI terkait pemeriksaan kasus dugaan pengaturan skor, semuanya tak pernah sampai ke tangan sang pemain.

Fakta baru ini pun sebagaimana dikemukakan pihak Komdis PSSI sendiri setelah menggali informasi dari pihak manajemen PS Mojokerto Putra.

Ketua Komdis PSSI Asep Edwin menuturkan, pihaknya baru tahu kalau surat resmi pemanggilan kepada Krisna tidak pernah sampai kepada yang bersangkutan.

Padahal surat tersebut sudah dikirimkan dalam kurun dua bulan, antara November hingga Desember 2018. Artinya, selama ini surat resmi itu dipegang oleh pihak PSMP.

’’Ternyata surat yang kami kirim ke PSMP untuk disampaikan ke Krisna tidak pernah sampai,’’ sebut Asep.

Fakta ini dikatakan Asep didapat setelah pihak Komdis PSSI berkomunikasi dengan Presiden PSMP, Firman Efandi beberapa waktu lalu.

’’Ketika kami panggil dia (Firman) bilang ‘Ini pak surat pemanggilannya hanya ke Adi bukan ke PSMP’ sambil menunjukkan bukti suratnya. Berarti kan selama ini memang disimpan PSMP, tidak diberikan ke Krisna,” tuturnya.

Komdis PSSI sendiri awalnya mengaku geram dengan sikap Krisna yang seakan tidak punya itikad baik untuk memenuhi panggilan.

Pasalnya, keterangan Krisna sangat dibutuhkam terkait pinalti ‘aneh’ yang dilakukannya ketika melawan Aceh United pada 19 November 2018 lalu.

Namun ternyata sang pemain tidak pernah menerima surat tersebut, dan Komdis PSSI keburu menjatuhkan sanksi berat melarang sang pemain beraktivitas di lapangan bola seumur hidup.

“Jadi wajar kalau Krisna mengatakan tidak pernah ada pemanggilan,’’ imbuhnya.

Krisna Adi Darma sendiri kini masih tergolek di atas tempat tidur karena mengalami kecelakaan hebat setelah sepeda motor yang dikendarainya menambrak truk.

Tragisnya, insiden tersebut dialami sang pemain sehari setelah ia menerima sanksi larangan seumur hidup dari Komdis PSSI itu.

(jpc/qur/pojoksatu)

Vigit Waluyo Diganjar Sanksi Seumur Hidup

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi berat untuk pengelola PS Mojokerto Putra, Vigit Waluyo.
Vigit dilarang beraktivitas di seluruh kompetisi dan kegiatan sepak bola di tanah air seumur hidup karena dianggap menjadi aktor praktik match-fixing di kompetisi Liga 2 2018.
“Jadi yang sudah ditunggu-tunggu, VW (Vigit Waluyo), kami sanksi seumur hidup,” ujar Ketua Komdis PSSI Asep Edwin di Kuningan, Jakarta, kemarin.
Kendati belum divonis bersalah oleh pengadilan, namun Vigit diduga kuat menjadi otak dibalik praktik mafia bola yang tengah menjadi sorotan saat ini.
Komdis PSSI sendiri mengamini sinyalemen tersebut karena banyak bukti yang menunjukkan keterlibatan pelaku atas pengaturan skor tersebut.
Sebelumnya, klub yang dikelola tersangka sendiri, PS Mojokerto Putra telah dijatuhi sanksi oleh Komdis PSSI berupa larangan berkompetisi semusim.
Sempat menghilang, Vigit Waluyo menyerahkan diri atas kasus korupsi PDAM Sidoarjo. Namun Satgas Antimafia Bola akan juga menggarapnya karena diduga kuat terlibat dalam praktik mafia bola.
Sejauh ini sudah ada empat tersangka yang diperiksa dan telah dilakukan penahanan, di antaranya anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto, anggota Exco PSSI sekaligus Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, mantan anggota Komisi Wasit Priyanto, dan Anik Yuni Artika Sari.
Keempat tersangka itu terlibat dalam kasus dugaan penipuan dan pengaturan skor yang dilaporkan mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani ke Polda Metro Jaya.
(qur/pojoksatu)

Match-Fixing Digarap Polisi, Komdis PSSI: Sudah Tepat, Sebagai Efek Jera!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri sejauh ini telah menangkap empat orang yang diduga terlibat kasus match-fixing atau pengaturan skor di pertandingan sepak bola tanah air.
Mereka juga akan segera menggarap Vigit Waluyo, yang baru saja menyerahkan diri atas dugaan korupsi PDAM Sidoarjo, namun juga diduga kuat terlibat dalam praktik mafia bola tersebut.
Dari sederet pelaku yang telah diamankan polisi, ada sosok anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, yakni Dwi “Mbah Putih” Irianto.
Satgas Antimafia Bola Segera Garap Pemain yang Terlibat Match-Fixing
Wow, Sudah ada 240 Laporan Match-Fixing yang Masuk
Hari Ini, Satgas Antimafia Bola Garap Vigit Waluyo!
Mensikapi langkah kepolisian dalam melakukan penanganan terhadap kasus dugaan pengaturan skor yang melanda pentas sepak bola tanah air ini, Ketua Komdis PSSI, Asep Edwin pun buka suara.
Asep memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas langkah kepolisian tersebut. Ditegaskannya, tidak ada aturan yang ditabrak dengan campur tangan polisi dalam penanganan kasus tersebut.
Menurut dia, keterlibatan institusi kepolisian tidak bertentangan dengan statuta FIFA. Sebaliknya, adanya keterlibatan pihak luar ini membuat pekerjaan Komdis PSSI dalam memberantas match-fixing menjadi lebih mudah.
“Hukum Indonesia mengacu pada UU pasal 11 tahun 1980 tentang penipuan dan penggelapan. Sayangnya, hukuman cuma tiga hingga lima tahun. Kalau hukum dari sepak bola (Komdis PSSI) tidak ikut bergerak, maka selepas itu para pelaku masih bisa jadi pengurus atau bisa berhubungan lagi dengan sepak bola. Makanya, hukum negara dan hukum sepak bola harus berjalan beriringan dalam kasus ini,” tutur Asep.
Selain itu, ditegaskan dia, campur tangan polisi dalam memberantas praktik mafia bola tersebut bisa lebih menimbulkan efek jera.
“Seperti di Inggris, penjudi dan bandar judi match fixing ditangkap polisi. Kemudian di negara Eropa lainnya, polisi juga yang menindak kasus match fixing. Mereka bahkan bekerja sama dengan interpol atau penegak hukum lainnya,” tuturnya.
Karena itu, langkah ini (kinerja Satgas Antimafia Bola) sudah tepat, karena jika tidak dberantas, praktik pengaturan skor akan terus menjadi tradisi.
“Uang yang beredar dalam judi sepak bola itu satu tahun mencapai USD 100 triliun,” ujarnya menandaskan.
(jpc/qur/pojoksatu)

Eks Manajer Persibara Ogah Taat, Sekjen PSSI: Itu Urusan Komdis PSSI!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Eks Manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani menolak memenuhi panggilan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang ingin meminta pertanggungjawabannya soal pernyataan Lasmi terkait kasus match-fixing.
Melalui kuasa hukumnya, Boyamin Saiman, penolakan atas surat undangan bernomor 5621/UDN/2158/XII-2018 bertanggal 24 Desember 2018 yang ditandatangani Sekjen PSSI, Ratu Tisha tersebut atas berbagai pertimbangan.
Mensikapi hal tersebut, Sekjen PSSI, Ratu Tisha saat dikonfirmasi usai menjalani pemeriksaan Satgas Antimafia Bola menegaskan persoalan tersebut adalah urusan bidang yudisial.
Alasan Eks Manajer Persibara Abaikan Panggilan Komdis PSSI
“Buat teman-teman yang belum familiar, di PSSI ada empat badan. Legislatif diwakili kongres, eksekutif oleh Komite Eksekutif, admistratif urusan kesekretariatan, dan independen yakni Komite Etik, Komite Disiplin serta Komite Banding,” sebut Tisha.
“Jadi, apapun itu yang terkait dengan independen yudisial, sekjen tak ada wewenangnya. Jadi itu pertanyaan untuk Komdis PSSI,” tandasnya.
Tisha juga bicara soal poin yang diberikan Laksmi terkait tidak adanya tanda tangan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi dalam surat pemanggilan tersebut.
Ditegaskannya, surat pemanggilan tak harus ada tanda tangan atau tembusan ketum. “Karena fungsi admistratif dan kesekjenan di statuta merupakan tugas kesekretariatan. Salah satu fungsinya, yakni mengatur surat-menyurat administrasi dan independen,” imbuhnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Komdis PSSI Segera Garap Johar Lin Eng dan Mbah Putih, Soal Apa!

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI melalui sekjen, Ratu Tisha Destria mengungkapkan setelah penangkapan Johar Lin Eng dan Dwi Irianto, pihaknya melalui Komdisi Disiplin (komdis) akan memproses keduanya.
Tisha menyebutkan kalau kasus keduanya akan dibawa ke ranah Komdis. PSSI akan terus mengawal kasus tersebut sampai tuntas.
“Proses di komdis pastinya akan terus berlanjut, hal itu sudah ada proses dan tupoksi namanya badan yudisial komdis,” tutur Tisha.
Menurutnya, Komdis tentu akan bekerja secara seksama menentukan hukuman Johar dan Dwi Irianto atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Putih itu dalam ranah sepak bola sesuai kode disiplin.
“Itu yang harus kita hargai bersama,” ucapnya.
PSSI, katanya, juga akan melakukan pembenahan secara menyeluruh. “Ke depannya pembenahan organisasi ada di awal Januari sebelum kongres kami akan ada rapat dengan polisi dan FIFA sekaligus dalam pembentukan tim Ad Hoc,” imbuhnya.
Diketahui, Satgas Antimafia Bola menjemput Mbah Putih di rumahnya di Yogyakarta untuk diamankan terkait kasus dugaan match-fixing.
Mbah Putih sendiri menyusul jejak anggota Exco PSSI, Johar Lin Eng yang sebelumnya juga telah diamankan petugas.
(jpc/qur/pojoksatu)

Alasan Eks Manajer Persibara Abaikan Panggilan Komdis PSSI

POJOKSATU.id, BANJARNEGARA – Eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani tak memenuhi panggilan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah memintanya hadir di Rasuna Office Park, Kuningan, kemarin.
Melalui kuasa hukumnya, Boyamin Saiman, kliennya tidak akan memenuhi panggilan tersebut atas berbagai alasan.
“Saya telah berdiskusi dengan klien dan menetapkan untuk tidak menghadiri panggilan tersebut,” sebut Saiman dalam keterangan tertulisnya dikutip Pojoksatu.id dari laman Bolalob.
Dalam keterangannya itu, Saiman mengungkapkan ada empat dasar kenapa kliennya itu tak menghadiri pemanggilan tersebut.
Pertama, perkara dugaan pengaturan pertandingan sepakbola telah ditangani oleh Satgas Antimafia Sepakbola, sehingga pihaknya menghormati dan mempercayakan sepenuhnya kepada penegak hukum, serta tidak ingin terjadi campur aduk dan tumpang tindih oleh berbagai lembaga dan kepentingan lain.
“Kami berharap PSSI menghormati dan mendukung langkah Kapolri demi kemajuan sepakbola Indonesia. Sehingga PSSI semestinya tidak melakukan tindakan lain yang berpotensi untuk mengintervensi dan mengganggu proses oleh kepolisian,” sebut dia.
Alasan kedua, sebut Saiman karena surat pemanggilan tersebut hanya ditandatangani Sekjen dalam hal ini Ratu Tisha Destria, dan tidak ada tanda tangan Ketua Umum PSSI, sehingga ia menilai surat tersebut tidak layak.
Sedangkan alasan ketiga, sambung Saiman, berdasarkan informasi dari pihaknya, Ratu Tisha tidak hadir memenuhi panggilan dari Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri.
“Perkenankan kami mencontoh tindakan tersebut, yaitu kami juga tidak bersedia hadir atas panggilan PSSI,” ucapnya.
Selain itu, ditegaskan Saiman, kliennya bukan pengurus atau menjabat sebagai apapun di tubuh organisasi PSSI sehingga pihaknya merasa tidak punya kewajiban untuk tunduk pada federasi sepak bola tanah air tersebut.
Adapun yang menjadi dasar pemanggilan PSSI melalui surat undangan Nomor: 5621/UDN/2158/XII-2018 bertanggal 24 Desember 2018 tersebut adalah untuk meminta pertanggungjawabannya terkait “nyanyiannya” di sebuah acara talkshow live di salahsatu stasiun televisi swasta nasional (Mata Najwa) yang membongkar adanya praktik mafia bola di Liga 3.
(qur/pojoksatu)

Pemain yang Dihukum Seumur Hidup Ini Alami Kecelakaan Tragis

POJOKSATU.id, MOJOKERTO – Kabar tragis datang dari Krisna Adi Darma, pemain PS Mojokerto Putra yang baru saja diganjar sanksi larangan bermain seumur hidup oleh Komdis PSSI.
Sang pemain dikabarkan mengalami kecelakaan tragis setelah ditabrak truk saat tengah mengendarai sepeda motor.
Kakak korban, Johan arga Pramudya membenarkan insiden tersebut. Kondisi adiknya pun kini koma alias tak sadarkan diri.
“Iya Mas benar, Krisna sekarang kondisinya tak sadar. Dia sedang naik motor tertabrak truk,” kata Johan kepada Jawa Pos.
Johan saat ini sibuk mengurus adiknya yang akan segera menjalani operasi. Menurutnya, luka yang dialami Krisna lumayan parah.
“Ada gumpalan darah di sekitar kepalanya. Sekarang akan menjalani operasi. Lumayan parah, minta doanya,” imbuhnya.
Nama Krisna Adi Darma mencuat belakang ini saat PSMP melawan Aceh United di Stadion Cot Gapu, Bireuen, Aceh, Senin (19/11) lalu.
PSMP yang tertinggal 2-3 dari Aceh United memiliki peluang menyamakan skor usai mendapat penalti pada menit 87.
Namun, Krisna yang jadi algojo gagal menjalankan tugasnya. Tendangannya melenceng jauh di sisi kiri gawang, meski kiper Aceh United sudah menjatuhkan diri ke arah yang berbeda.
Komdis akhirnya menyelidiki kasus itu. Krisna Adi kemudian didakwa bersalah melanggar pasal 72 jo.pasal 141 Kode Disiplin PSSI, Sabtu (22/12). Hukumannya berat. Dia dilarang bermain di sepak bola Indonesia seumur hidup.
(jpnn/qur/pojoksatu)

Terlibat Match-Fixing, Pemain Ini Dihukum Seumur Hidup

POJOKSATU.id, JAKARTA – Krisna Adi Darma harus mengakhiri karier profesionalnya sebagai pesepakbola setelah Komisi Disiplin PSSI menghukumnya seumur hidup.
Krisna diganjar sanksi berat karena terbukti terlibat dalam praktik match-fixing yang melibatkan timnya di pentas Liga 2 2018.
Sanksi berat ini diberikan kepada sang pemain karena ia dengan sengaja tidak mencetak gol ke gawang lawan lewat titik penalti saat timnya berhadapan dengan Aceh United di Stadion Cot Gapu, Bireuen, Aceh pada 19 November 2018 lalu.
Terlibat Match-Fixing, PS Mojokerto Putra Dilarang Berkompetisi Tahun Depan
PSMP yang tertinggal 2-3 dari Aceh United sebenarnya memiliki peluang emas untuk menyamakan skor usai mendapat hadiah penalti di menit 87 tersebut.
Namun kesempatan itu disia-siakan Krisna Adi Darma. Kuat dugaan, ia sengaja menendang bola samping luar gawang.
Sontak namanya menjadi perbincangan hangat publik. Betapa tidak, alih-alih kecewa, dia justru bersujud syukur seakan tak kecewa gagal mengeksekusi bola menjadi gol.
Atas fakta di lapangan tersebut, Komdis PSSI pun langsung mengambil tindakan tegas. Sang pemain dinyatakan bersalah karena terlibat dalam skenario pengaturan skor.
“Krisna Adi Darma dilarang beraktifitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup,” kata Ketua Komdis PSSI.
Sebelum menjatuhi hukuman, Komdis sebenarnya sudah memanggil Krisna sebanyak tiga kali. Namun yang bersangkutan tidak pernah hadir ataupun memberikan alasan. Setelah mendapat bukti-bukti kuat, Komdis tidak ragu lagi untuk menghukum sang pemain.
(jpc/qur/pojoksatu)

Terlibat Match-Fixing, PS Mojokerto Putra Dilarang Berkompetisi Tahun Depan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mengganjar sanksi berupa larangan terlibat kompetisi tahun depan kepada PS Mojokerto Putra atau PSMP karena peserta Liga 2 2018 itu terbukti terlibat dalam pengaturan skor.
Dalam keputusannya, Komdis PSSI menegaskan PSMP dinyatakan bersalah karena mengatur pertandingan pada kompetisi Liga 2 musim 2018.
Praktik match-fixing yang melibatkan klub ini terjadi di laga kontra Kalteng Putra pada 3 dan 9 November 2018. Atas kejadian ini, PSMP dihukum tak boleh mengikuti kompetisi sepanjang 2019.
“Kami memiliki bukti-bukti yang kuat dari sejumlah pelanggaran match-fixing yang dilakukan PS Mojokerto Putra,” tutur Ketua Komdis PSSI, Asep Edwin.
“Karena itu merujuk pada pasal 72 jo, pasal 141 Kode Disiplin PSSI, PS Mojokerto Putra dihukum larangan ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun 2019 yang dilaksanakan PSSI,” tandasnya.
Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria menyebut langkah ini merupakan komitmen tegas pihaknya untuk mengatasi praktik match-fixing.
Apabila ditemukan indikasi dimana hukum sepak bola tidak lagi dapat menjangkau, maka PSSI akan berkoordinasi dengan Polri.
“Kita juga tengah menyiapkan tim Ad Hoc sinergi integritas. Komite ini dibentuk untuk tugas khusus dan dalam periode yang khusus,” imbuhnya.
(jpc/qur/pojoksatu)