match fixing

Satgas Antimafia Bola Agendakan Garap Jokdri Lagi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola memberikan sinyalemen akan kembali memeriksa plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri akan kembali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pengrusakan barang bukti temuan satgas terkait dokumen pengaturan skor.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, tidak menutup kemungkinan Jokdri akan diperiksa lagi.
Dipemeriksaan keempat sebelumnya, Argo menyebutkan Jokdri disodori sedikitnya 69 pertanyaan terkait kasus yang membelitnya.
“Jadi sudah 69 pertanyaan. Sudah disampaikan kemarin,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
Sementara terkait pemeriksaan lanjutan, pihaknya belum bisa menentukan jadwal pastinya, kendati ditegaskannya Jokdri pasti diperiksa lagi,
“Tentunya nanti kami menunggu apakah dari penyidik akan menganggap itu sudah cukup atau belum. Kalau belum cukup, nanti akan dilakukan pemeriksaan kembali,” ujarnya.
Plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri ditetapkan sebagai tersangka kasus perusakan barang bukti berupa dokumen pengaturan skor.
Kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Kamis, 14 Februari, namun hingga saat ini polisi belum melakukan penahanan terhadapnya.
Jokdri sendiri terancam dijerat dengan pasal berlapis. Dia disangkakan melanggar Pasal 363 yang terkait pencurian dan pemberatan serta Pasal 232 tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.
Selain itu, ia juga dijerat Pasal 233 tentang perusakan barang bukti dan Pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di Pasal 232 dan Pasal 233.
(qur/pojoksatu)

Karena Laga Ini, Hidayat Dijadikan Tersangka Match-Fixing

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola akhirnya resmi menetapkan mantan anggota Komisi Eksekutif (Exco) PSSI, Hidayat sebagai tersangka skandal match-fixing.
Hidayat dijadikan tersangka atas dugaan mengatur pertandingan dan melakukan penyuapan dalam laga Madura FC melawan PSS di Liga 2 2018.
“Setelah memeriksa 14 saksi yang dimintai keterangan, terakhir sekjen PSSI, maka satgas menetapkan satu lagi tersangka. Ini yang ke-16 yaitu H (Hidayat),” tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/2/2019).

Dedi menuturkan, Hidayat yang saat itu masih menjadi Exco PSSI menawarkan uang sebesar Rp100 juta kepada manajer Madura FC, Januar Herwanto.
Jika tawaran itu ditolak pihak Madura FC dalam hal ini Januar, tersangka mengancam akan membayar pemain Madura FC dengan besaran Rp15 juta.
“Perannya mengatur pertandingan ini, minta agar PSS selalu dimenangkan baik di kandang maupun di kandang Madura FC,” tutur Dedi.
Menurut Argo, penetapan status Hidayat dari saksi jadi tersangka sudah melalui prosedur yang ada. Penyidik pun telah memiliki dua alat bukti.
“Berdasar dua alat bukti. Keterangan pelapor, saksi, bukti petunjuk, surat dan sebaginya,” ujarnya.
Senada, juru bicara Satgas Antimafia Bola Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, penetapan status Hidayat dari saksi jadi tersangka sudah melalui prosedur yang ada. Penyidik pun telah memiliki dua alat bukti.
“Berdasar dua alat bukti. Keterangan pelapor, saksi, bukti petunjuk, surat dan sebaginya,” katanya.
Argo menyebutkan, Hidayat akan diperiksa pertama kalinya sebagai tersangka pada Rabu (27/2) mendatang. Hal tersebut juga untuk menentukan ditahan atau tidaknya.
“Rabu akan dimintai keterangan sebagai tersangka. Surat panggilan sudah dikirim,” imbuhnya.
(qur/pojoksatu)

Skandal Match-Fixing, Semua Berawal dari Sini!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pengungkapan skandal match-fixing atau pengaturan skor di pentas sepakbola tanah air pertama kali mencuat lewat sebuah acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab.
Acara yang disiarkan langsung stasiun televisi swasta nasional itu (Mata Najwa) itu banyak mengungkapkan soal praktik mafia bola tersebut.
Lewat acara talkshow live itu para narasumber yang dihadirkan bicara blak-blakan soal pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus pengaturan skor.
Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis
Dari keterangan beberapa narasumber, praktik kotor si kulit bundar itu melibatkan banyak pihak, mulai pihak klub, perangkat pertandingan hingga orang-orang yang ada di federasi (PSSI).
Tak ayal, aparat kepolisian dalam hal ini Satgas Antimafia Bola menjadikan acara tersebut sebagai awal untuk melakukan penyelidikan.
Bahkan, Satgas Antimafia Bola mengungkapkan, pengakuan-pengakuan di acara talkshow tersebut menjadi petunjuk mereka untuk mengungkap kasus tersebut secara lebih jelas.
Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Dedy Prasetyo mengatakan, pengakuan (narasumber) pada acara Mata Najwa menjadi sebuah petunjuk.
Pihaknya pun akan mendalami para tersangka yang sudah diperiksa maupun ditahan. “Itu petunjuk-petunjuk yang bisa didalami dan diselidiki oleh Satgas Antimafia Bola,” ungkap Dedy seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Oleh karena itu, lewat acara tersebut bisa menjadi pintu penyidik untuk masuk ke ranah yang lebih dalam.
“Ya tentunya sangat terkait kalau itu nanti dibutuhkan penyidik dalam rangka untuk mengungkap match fixing di beberapa liga. Tentu arahnya ke sana (di BAP),” imbuhnya.
(qur/pojoksatu)

Persija Dituding Terlibat Match-Fixing, Ismed Sofyan Bereaksi Begini

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kapten Persija Jakarta, Ismed Sofyan geram melihat timnya terus-terusan dituding terlibat praktik match-fixing alias pengaturan skor.
Ditegaskan Ismed, jika memang Persija terbukti terlibat dalam skandal tersebut, ia meminta pihak-pihak yang selama ini menudingnya memberikan bukti jangan hanya sekedar bicara.
Ismed pun sangat tak menginginkan isu tersebut menjadi semakin liar. Dia ingin tuduhan yang dialamatkan kepada timnya dibuktikan dan jangan hanya sekedar tuduhan.
“Jangan ngomong saja, tolong dibuktikan. Segala sesuatu kan harus pakai bukti. Orang bisa saja beri pernyataan tapi kan butuh bukti,” tutur Ismed seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Pihaknya pun berharap, kondisi ini tak lantas mengganggu skuat Macan Kemayoran, dan ia yakin para pemain tak merasa terganggu karena hanya tuduhan semata.
“Kalau saya rasa tidak. Itu kan ada tugasnya satgas. Satgas juga menyikapi tuduhan itu,” ujarnya menandaskannya.
Nama Persija Jakarta memang berulang kali dihubungkan dengan kasus pengaturan skor yang tengah gaung saat ini.
Meski terus dihubungkan dengan skandal tersebut, namun sampai saat ini tidak ada bukti soal keterlibatan mereka ke arah tersebut.
(qur/pojoksatu)

Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri kembali menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti temuan Satgas Antimafia Bola terkait match-fixing di bekas kantor PT Liga Indonesia.
Jokdri menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Satgas Antimafia Bola Mabes Polri secara maraton selama 22 jam, Jumat (22/2/2019).
Jokdri sendiri sebagaimana disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, telah mengakui perbuatannya, menyuruh anak buahnya untuk mencuri, merusak, dan menghilangkan barang bukti.
Jokdri Tak Ditahan, Kombes Argo: Belum Ada Instruksi
Jokdri Tak Ditahan, Ini Alasan Satgas Antimafia Bola
“Dia mengakui, menyesali, dan benar bahwa dia yang memerintahkan sopirnya untuk mengambil dokumen yang ada di kantornya kemudian dia minta bantuan dua orang untuk mengambil CCTV dan DVR CCTV,” tutur Dedi seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos, Jumat (22/2/2019).
Namun begitu, pihaknya masih akan terus menggali soal motif tersangka melakukan tindakan tersebut. “Itu belum mengarah ke sana (penyidikannya). Minggu depan akan dimintai keterangan lagi,” katanya.
Sejauh ini, pihaknya juga belum menemukan keterlibatan pihak lain dalam kasus pencurian, perusakan, dan penghilangan barang bukti tersebut.
“Empat orang saja yang terlibat secara aktif melakukan pencurian, perusakan, dan penghilangan barbuk,” ujarnya.
Sementara soal tidak ditahannya Jokdri, pihaknya menegaskan punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri.

Kasus-Kasus Match-Fixing yang Ditangani Satgas Antimafia Bola, Berikut Daftar Terlapor

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola terus menunjukkan komitmennya dalam pemberantasan praktik Match-Fixing.
Sejumlah nama telah ditetapkan sebagai tersangka atas skandal pengaturan skor tersebut termasuk plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan perusakan dokumen temuan Satgas Antimafia Bola di bekas kantor PT Liga Indonesia beberapa waktu lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, sejauh ini pihaknya telah melakukan penyelidikan dan penyidikan atas lima kasus skandal match-fixing.
Disebutkan dia, total ada lima laporan yang tengah diselidiki, diantaranya, laporan dari mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani dengan 10 tersangka. Kemudian laporan polisi model A yang dibuat oleh Satgas dengan tersangka Vigit Waluyo.
Selain itu, sebut Dedi juga ada laporan polisi model A dengan terlapor Kepala Staf Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto, disusullaporan polisi model A yang juga dibuat oleh Satgas dengan terlapor Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Hidayat.
Laporan terakhir, sambung Dedi adalah laporan polisi dengan empat orang  tersangka pencurian, perusakan, penghilangan barang bukti, dan masuk ke area penguasaan penyidik tanpa izin.
Salah satu yang ditersangkakan adalah Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono alias Jokdri yang diduga kuat sebagai aktor intelektual.
(jpc/qur/pojoksatu)

Jokdri Akan Kembali Digarap Satgas Antimafia Bola

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola memberikan sinyalemen akan kembali memanggil dan memeriksa plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri sebelumnya telah menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus pengaturan skor atas pelaporan eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi.
Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono menyebutkan, tak menutup kemungkinan satgas akan kembali memanggil Jokdri menyusul perkembangan baru soal temukan penghancuran dokumen di kantor PT Liga Indonesia saat satgas melakukan penggeledahan.

“Tentunya dalam pengembangan, semua akan dipanggil, bukan hanya beliau (Jokdri) saja tapi yang lain juga,” sebut Syahar seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Namun, dikatakannya, pemanggilan tersebut belum dijadwalkan. Sebab satgas masih menyelidiki dokumen yang disita dari hasil penggeledahan di dua tempat tersebut beberapa waktu lalu.
“Satgas sedang mendalami dokumen-dokumen. Setelah itu dibuat rencana penyelidikan, penyidikan,” sebutnya.
Diketahui, Satgas Antimafia Bola akhir pekan lalu melakukan penggeledahan di bekas kantor PT Liga Indonesia yang terletak di Rasuna Office Park, Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta Pusat dan kantor PT Gelora Trisula Semesta (GTS), operator Indonesia Soccer Championship 2016, di Menara Rajawali, Lantai 11, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
PT LI merupakan operator Liga 1, 2, dan 3 pada 2009-2015. Kala itu, liga papan atas Indonesia masih bernama Liga Super Indonesia.
Sedangkan PT GTS merupakan operator liga pada 2016, saat PSSI dibekukan oleh FIFA. Sedangkan pada 2017 dan 2018, operator dipegang oleh PT Liga Indonesia Baru.
Adapun saat menggeledah di kantor PT. Liga Indonesia, penyidik menemukan sejumlah kertas yang telah dihancurkan mesin penghancur kertas.
Dari pengakuan saksi yang merupakan pegawai di kantor tersebut, kertas-kertas itu merupakan laporan keuangan Persija.
Terkait hal tersebut, lebih lanjut Syahar menegaskan dari hasil pengembangan penyidikan akan ada tersangka baru. “Ya pasti lah. Tidak menutup kemungkinan tersangka baru,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Geledah Kantor PT Liga Indonesia, Satgas Antimafia Bola Temukan Fakta Mengejutkan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola telah menyegel kantor PT Liga Indonesia di  Rasuna Office Park DO-07, Kuningan, Jakarta  usai melakukan penggeledahan terkait pengembangan kasus match-fixing.
Selama penggeledahan satgas mengaku menemukan banyak bekas kertas yang sudah dihancurkan dengan mesin penghancur kertas.
Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol. Sahar Diantono membenarkan adanya temuan tersebut. Penyidik menemukan bekas-bekas kertas yang sudah didisposal atau dihancurkan menggunakan mesin penghancur kertas.
“Masih dipelajari ada atau tidak indikasi menghilangkan barang bukti. Sampai saat ini, kami sedang menyeleksi mana dokumen-dokumen yang terkait perkara,” tutur Sahar seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Sementara penyidik Gakum Satgas Antimafia Bola, AKBP Dedi Murti menenggarai pecahan-pecahan kertas yang ditemukan itu diduga terkait dengan pengumpulan barang bukti.
“Benar (ada kertas yang dipotong-potong). Masih dilakukan pendalaman penyidik masih kerja,” tandasnya.
Sebelumnya, Satgas Antimafia Bola juga telah melakukan penggeledahan di dua kantor PSSI yang terletak di Kemang dan FX Sudirman.
Dari hasil penggeledahan yang dilakukan selama 17 jam itu, penyidik mengamankan ratusan dokumen dan barang sebagai alat bukti.
Penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari pengembangan penyidikan kasus skandal match-fixing yang sedang ditangani satgas bentukan Mabes Polri itu.
Sejauh ini sudah sebelas orang ditetapkan sebagai tersangka kasus praktik mafia bola tersebut, dan beberapa di antaranya adalah anggota PSSI.
(qur/pojoksatu)

Ditanya Soal Penyegelan Kantor PT Liga Indonesia, Sekjen PSSI: Jangan Tanya Saya!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekjen PSSI, Ratu Tisha menegaskan penyegelan kantor PT Liga Indonesia yang terletak di Rasuna Office Park, Kuningan, tadi malam tidak ada kaitannya dengan organisasi PSSI.
Satgas Antimafia Bola melakukan penyegelan terhadap kantor PT Liga Indonesia. PT LI sendiri sempat menjadi operator Indonesia Super League beberapa tahun lalu.
Tisha menegaskan, ia tak mau mengomentari soal langkah satgas bentukan Mabes Polri yang sedang gesit melakukan penanganan kasus skandal match-fixing tersebut.
“Penyegelan kantor PT Liga Indonesia tidak ada sangkut pautnya dengan PSSI,” tegas Tisha seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Karena itu, Tisha enggan memberikan keterangan atau jawaban rinci tentang proses penggeledahan (dan penyegelan) yang dilakukan pihak satgas.
“Jangan tanya ke saya. Tanya saja ke mereka (Satgas Antimafia Bola),” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola, Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan soal penyegelan kantor tersebut, namun pihaknya belum bersedia bicara lebih jauh.
Namun, kuat indikasi penyegelan tersebut sebagai tindak lanjut atas penggeledahan dua kantor PSSI yang telah dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari pengembangan kasus match-fixing yang sedang dalam penyidikan.
Sejauh ini, satgas bentukan Mabes Polri itu sendiri telah menetapkan sebelas tersangka, dan beberapa diantaranya pengurus PSSI, yakni anggota Exco PSSI dan Komdis PSSI.
Sementara tersangka lainnya merupakan perangkat pertandingan, mulai dari wasit hingga asisten wasit dalam laga yang terindikasi berbau praktik mafia bola sebagaimana laporan eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi.
(jpnn/qur/pojoksatu)

Satgas Antimafia Bola Juga Sita Dokumen Transaksi Keuangan PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola menyelesaikan giat penggeledahan di dua kantor PSSI, tadi malam WIB.
Dari hasil penggeledahan yang berlangsung selama 17 jam itu, petugas menyita sejumlah barang sebagai alat bukti kasus match-fixing.
Sedikitnya ada 224 barang yang disita dari dua lokasi kantor PSSI, yakni di kawasan Kemang dan FX Sudirman, Jakarta Selatan.
Kantor PSSI Digeledah, Begini Reaksi Komite Ad Hoc Integritas PSSI
Ini Dia Barang-Barang yang Disita Satgas Antimafia Bola dari Kantor PSSI
Barang-barang sitaan itu terdiri atas dokumen fisik, digital, termasuk unit CPU komputer dan barang lainnya.
Selain itu, petugas juga berhasil menyita dokumen-dokumen terkait transaksi keuangan.
Humas Satgas Antimafia Bola, Kombes Sahar Diantono mengemukakan, seluruh barang yang telah disita itu telah dikelompokkan berdasarkan materinya.
“Satgas sudah mengelompokan dokumen ada 153 kelompok dokumen di antaranya terkait dengan seluruh dokumen Liga 3 Liga 2 dan Liga 1,” sebutnya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Selain dokumen-dokumen itu, pihaknya juga mengamankan dokumen-dokumen terkait organisasi dan dokumen tentang wasit.
“Termasuk daftar wasit dan legalitas wasit (juga turut disita),” ucapnya.
“Nanti kami cek lagi mana yang terkait penyidikan akan kami dalami, akan ada pengembangan lanjut dari dokumen ini,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)