match fixing

Kasus-Kasus Match-Fixing yang Ditangani Satgas Antimafia Bola, Berikut Daftar Terlapor

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola terus menunjukkan komitmennya dalam pemberantasan praktik Match-Fixing.
Sejumlah nama telah ditetapkan sebagai tersangka atas skandal pengaturan skor tersebut termasuk plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan perusakan dokumen temuan Satgas Antimafia Bola di bekas kantor PT Liga Indonesia beberapa waktu lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, sejauh ini pihaknya telah melakukan penyelidikan dan penyidikan atas lima kasus skandal match-fixing.
Disebutkan dia, total ada lima laporan yang tengah diselidiki, diantaranya, laporan dari mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani dengan 10 tersangka. Kemudian laporan polisi model A yang dibuat oleh Satgas dengan tersangka Vigit Waluyo.
Selain itu, sebut Dedi juga ada laporan polisi model A dengan terlapor Kepala Staf Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto, disusullaporan polisi model A yang juga dibuat oleh Satgas dengan terlapor Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Hidayat.
Laporan terakhir, sambung Dedi adalah laporan polisi dengan empat orang  tersangka pencurian, perusakan, penghilangan barang bukti, dan masuk ke area penguasaan penyidik tanpa izin.
Salah satu yang ditersangkakan adalah Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono alias Jokdri yang diduga kuat sebagai aktor intelektual.
(jpc/qur/pojoksatu)

Jokdri Akan Kembali Digarap Satgas Antimafia Bola

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola memberikan sinyalemen akan kembali memanggil dan memeriksa plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri sebelumnya telah menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus pengaturan skor atas pelaporan eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi.
Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono menyebutkan, tak menutup kemungkinan satgas akan kembali memanggil Jokdri menyusul perkembangan baru soal temukan penghancuran dokumen di kantor PT Liga Indonesia saat satgas melakukan penggeledahan.

“Tentunya dalam pengembangan, semua akan dipanggil, bukan hanya beliau (Jokdri) saja tapi yang lain juga,” sebut Syahar seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Namun, dikatakannya, pemanggilan tersebut belum dijadwalkan. Sebab satgas masih menyelidiki dokumen yang disita dari hasil penggeledahan di dua tempat tersebut beberapa waktu lalu.
“Satgas sedang mendalami dokumen-dokumen. Setelah itu dibuat rencana penyelidikan, penyidikan,” sebutnya.
Diketahui, Satgas Antimafia Bola akhir pekan lalu melakukan penggeledahan di bekas kantor PT Liga Indonesia yang terletak di Rasuna Office Park, Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta Pusat dan kantor PT Gelora Trisula Semesta (GTS), operator Indonesia Soccer Championship 2016, di Menara Rajawali, Lantai 11, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
PT LI merupakan operator Liga 1, 2, dan 3 pada 2009-2015. Kala itu, liga papan atas Indonesia masih bernama Liga Super Indonesia.
Sedangkan PT GTS merupakan operator liga pada 2016, saat PSSI dibekukan oleh FIFA. Sedangkan pada 2017 dan 2018, operator dipegang oleh PT Liga Indonesia Baru.
Adapun saat menggeledah di kantor PT. Liga Indonesia, penyidik menemukan sejumlah kertas yang telah dihancurkan mesin penghancur kertas.
Dari pengakuan saksi yang merupakan pegawai di kantor tersebut, kertas-kertas itu merupakan laporan keuangan Persija.
Terkait hal tersebut, lebih lanjut Syahar menegaskan dari hasil pengembangan penyidikan akan ada tersangka baru. “Ya pasti lah. Tidak menutup kemungkinan tersangka baru,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Geledah Kantor PT Liga Indonesia, Satgas Antimafia Bola Temukan Fakta Mengejutkan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola telah menyegel kantor PT Liga Indonesia di  Rasuna Office Park DO-07, Kuningan, Jakarta  usai melakukan penggeledahan terkait pengembangan kasus match-fixing.
Selama penggeledahan satgas mengaku menemukan banyak bekas kertas yang sudah dihancurkan dengan mesin penghancur kertas.
Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol. Sahar Diantono membenarkan adanya temuan tersebut. Penyidik menemukan bekas-bekas kertas yang sudah didisposal atau dihancurkan menggunakan mesin penghancur kertas.
“Masih dipelajari ada atau tidak indikasi menghilangkan barang bukti. Sampai saat ini, kami sedang menyeleksi mana dokumen-dokumen yang terkait perkara,” tutur Sahar seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Sementara penyidik Gakum Satgas Antimafia Bola, AKBP Dedi Murti menenggarai pecahan-pecahan kertas yang ditemukan itu diduga terkait dengan pengumpulan barang bukti.
“Benar (ada kertas yang dipotong-potong). Masih dilakukan pendalaman penyidik masih kerja,” tandasnya.
Sebelumnya, Satgas Antimafia Bola juga telah melakukan penggeledahan di dua kantor PSSI yang terletak di Kemang dan FX Sudirman.
Dari hasil penggeledahan yang dilakukan selama 17 jam itu, penyidik mengamankan ratusan dokumen dan barang sebagai alat bukti.
Penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari pengembangan penyidikan kasus skandal match-fixing yang sedang ditangani satgas bentukan Mabes Polri itu.
Sejauh ini sudah sebelas orang ditetapkan sebagai tersangka kasus praktik mafia bola tersebut, dan beberapa di antaranya adalah anggota PSSI.
(qur/pojoksatu)

Ditanya Soal Penyegelan Kantor PT Liga Indonesia, Sekjen PSSI: Jangan Tanya Saya!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekjen PSSI, Ratu Tisha menegaskan penyegelan kantor PT Liga Indonesia yang terletak di Rasuna Office Park, Kuningan, tadi malam tidak ada kaitannya dengan organisasi PSSI.
Satgas Antimafia Bola melakukan penyegelan terhadap kantor PT Liga Indonesia. PT LI sendiri sempat menjadi operator Indonesia Super League beberapa tahun lalu.
Tisha menegaskan, ia tak mau mengomentari soal langkah satgas bentukan Mabes Polri yang sedang gesit melakukan penanganan kasus skandal match-fixing tersebut.
“Penyegelan kantor PT Liga Indonesia tidak ada sangkut pautnya dengan PSSI,” tegas Tisha seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Karena itu, Tisha enggan memberikan keterangan atau jawaban rinci tentang proses penggeledahan (dan penyegelan) yang dilakukan pihak satgas.
“Jangan tanya ke saya. Tanya saja ke mereka (Satgas Antimafia Bola),” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola, Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan soal penyegelan kantor tersebut, namun pihaknya belum bersedia bicara lebih jauh.
Namun, kuat indikasi penyegelan tersebut sebagai tindak lanjut atas penggeledahan dua kantor PSSI yang telah dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari pengembangan kasus match-fixing yang sedang dalam penyidikan.
Sejauh ini, satgas bentukan Mabes Polri itu sendiri telah menetapkan sebelas tersangka, dan beberapa diantaranya pengurus PSSI, yakni anggota Exco PSSI dan Komdis PSSI.
Sementara tersangka lainnya merupakan perangkat pertandingan, mulai dari wasit hingga asisten wasit dalam laga yang terindikasi berbau praktik mafia bola sebagaimana laporan eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi.
(jpnn/qur/pojoksatu)

Satgas Antimafia Bola Juga Sita Dokumen Transaksi Keuangan PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola menyelesaikan giat penggeledahan di dua kantor PSSI, tadi malam WIB.
Dari hasil penggeledahan yang berlangsung selama 17 jam itu, petugas menyita sejumlah barang sebagai alat bukti kasus match-fixing.
Sedikitnya ada 224 barang yang disita dari dua lokasi kantor PSSI, yakni di kawasan Kemang dan FX Sudirman, Jakarta Selatan.
Kantor PSSI Digeledah, Begini Reaksi Komite Ad Hoc Integritas PSSI
Ini Dia Barang-Barang yang Disita Satgas Antimafia Bola dari Kantor PSSI
Barang-barang sitaan itu terdiri atas dokumen fisik, digital, termasuk unit CPU komputer dan barang lainnya.
Selain itu, petugas juga berhasil menyita dokumen-dokumen terkait transaksi keuangan.
Humas Satgas Antimafia Bola, Kombes Sahar Diantono mengemukakan, seluruh barang yang telah disita itu telah dikelompokkan berdasarkan materinya.
“Satgas sudah mengelompokan dokumen ada 153 kelompok dokumen di antaranya terkait dengan seluruh dokumen Liga 3 Liga 2 dan Liga 1,” sebutnya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman JPNN.
Selain dokumen-dokumen itu, pihaknya juga mengamankan dokumen-dokumen terkait organisasi dan dokumen tentang wasit.
“Termasuk daftar wasit dan legalitas wasit (juga turut disita),” ucapnya.
“Nanti kami cek lagi mana yang terkait penyidikan akan kami dalami, akan ada pengembangan lanjut dari dokumen ini,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Ini Dia Barang-Barang yang Disita Satgas Antimafia Bola dari Kantor PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola melakukan penggeledahan selama 17 jam di kantor PSSI yang terletak di dua tempat, yakni di FX Sudirman dan Kemang, Jakarta, Rabu (30/1/2019) malam WIB.
Dari penggeledahan maraton tersebut satgas berhasil mengamankan sejumlah barang yang akan dijadikan alat bukti kasus pengaturan skor atau match-fixing.
Di total ada 71 barang yang disita satgas dari markas federasi yang berlokasi di FX Sudirman tersebut, yang terdiri atas dokumen fisik, digital, termasuk CPU komputer dan barang lainnya.

Sedangkan dari kantor lama yang berada di Kemang, sebanyak 153 dokumen tertulis telah diamankan sebelumnya.
Kasubdit Keamanan Negara (Kamneg) AKBP Dedy Murti yang memimpin jalannya penggeledahan itu menuturkan, barang-barang yang disita bervariatif.
“Selain dokumen tertulis, bukti transfer, catatan keuangan ada juga kontrak. Ini berdasarkan laporan nomor 6990 tertanggal 29 Desember 2018,” tuturnya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Hingga subuh tadi, sejumlah petugas satgas terlihat masih mengeluarkan sejumlah barang sitaan mulai dari dua box besar, satu box kecil dan dua unit CPU.
“Barang bukti tersebut harus kami analisa dan perdalam. Kami juga akam bekerja sama dengan PSSI juga,” sebutnya.
Dedi menyebutkan, secara keseluruhan pihaknya telah menyita 224 barang dalam giat penggeledahan tersebut. “Nanti akan ada pengembangan lagi,” tandasnya.
Penggeledahan itu sendiri terkait dengan penanganan kasus skandal pengaturan skor yang dilaporkan eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi.
Terkait kasus praktik mafia bola tersebut, belasan orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan beberapa dantaranya berasal dari PSSI.
(qur/pojoksatu)

Digarap 13 Jam oleh Satgas Antimafia Bola, Vigit Waluyo Nyaris Tumbang

POJOKSATU.id, SURABAYA –  Vigit Waluyo, salahseorang tersangka kasus skandal match-fixing di pentas sepakbola tanah air sudah menjalani pemeriksaan maraton oleh penyidik Satgas Antimafia Bola di Mapolda Jatim, tadi malam.
Vigit yang juga berstatus tersangka dugaan korupsi PDAM Sidoarjo itu disodori 65 pertanyaan yang memakan waktu selama 13 jam.
Vigit diperiksa mulai pukul 08.20 WIB dan baru keluar meninggalkan gedung Ditreskrimum, Polda Jatim sekira pukul 21.15 WIB, kemarin.
Soal Match-Fixing, Vigit Waluyo Bantah Terlibat Praktik Judi Bola
Vigit Waluyo Sebut Komite Wasit Topang Klub-Klub Milik Pejabat PSSI
Vigit sendiri tampak sempoyongan ketika meninggalkan lokasi sehingga berjalan berpapah pada bahu Makin Rahmat, salah satu kuasa hukumnya.
Diduga kelelahan, Vigit tak menyampaikan sepatah kata pun kepada awak media yang sudah lama menungguinya.
Vigit langsung masuk mobil Dokpol milik Polres Sidoarjo dan kembali ke Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Sidoarjo.
Kuasa hukum Vigit, M Sholeh mengatakan, kliennya sangat kelelahan menjalani pemeriksaan tersebut.
“Kami sampai di Polda sekitar jam setengah sembilan. baru selesai pemeriksaan sekitar jam 21.15, jadi pasti sangat melelahkan,” ucap Sholeh.
Vigit Waluyo Bongkar Cara Mafia Bola Bekerja
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Dikatakannya, saat pemeriksaan masih berlangsung, dokter sudah menyarankan untuk ditunda. “Dari pagi sampai siang masih enak, tetapi menjelang jam 16.00 sudah terlihat lelah,” sebut dia.
“Tensinya sempat naik. Dokter juga meminta untuk menghentikan, tetapi Pak Vigit tidak mau karena ingin cepat selesai,” ucapnya.
Akibatnya, dikatakan Sholeh, kliennya sempat bicara tidak fokus dan berubah-ubah. “Ada sekitar 65 pertanyaan yang diajukan ke Pak Vigit. Sesuai dengan konferensi pers tadi semuanya dibuka prinsipnya kaitannya match fixing dan match setting sudah disampaikan dalam BAP,” paparnya.
Dalam keterangannya di hadapan Satgas Antimafia Bola, Vigit menyebut tiga nama yakni Dwi Irianto alias Mbah Putih, anggota komite wasit Nasrul Koto, dan salah satu tokoh sepak bola Indonesia, Andi Darussalam Tabussala (ADS).
“Juga tentang siapa-siapa yang terlibat di situ ada nama Mbah Putih, ada nama Nasrul Koto, ada ADS semuanya sudah dibuka,”  imbuhnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Ada Anggota Exco PSSI Buta Statuta FIFA, Sesmenpora: Ini Keterlaluan!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto tampak tak habis pikir dengan ketidaktahuan anggota Exco PSSI terkait pasal match-fixing yang tertuang dalam Statuta FIFA.
Hal ini seperti terungkap dalam acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab di salahsatu stasiun televisi swasta nasional bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 3; Saatnya Revolusi”, kemarin.
Saat itu, Gatot menanyakan kepada Gusti Randa soal aturan match-fixing setelah mantan bintang film itu menegaskan tidak ada praktik tersebut di pentas sepakbola tanah air.

Selalu mendewakan statuta FIFA tapi tidak tahu isi Statuta FIFA , aktor Exco @PSSI ( Gusti Randa ) #pssibisaapajilid3 #MataNajwaPSSIBisaApa3 #JokdriOut pic.twitter.com/SrXOn87sHg
— aldi Widiyanto (@ALbesar1) January 23, 2019

“Sekarang Anda tahu ngga pasal berapa di Statuta FIFA yang menyoroti match fixing?,” tanya Gatot seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Indosport.
Gusti Randa dengan sigap menjawab tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu,” ucapnya lantang.
“Ini keterlaluan. Bisa-bisanya Komite Hukum PSSI (sekaligus Exco) tidak hapal ayat dan pasal match-fixing di Statuta FIFA,” sahut Gatot geram.
Gatot sendiri menyanggah pernyataan Gusti Randa, dan menegaskan praktik match-fixing ada dan terjadi. “Ada. Tim sembilan pernah mengatakan ada match-fixing, tapi PSSI saat itu mengatakan itu ngibul,” jawab Gatot saat ditanya Najwa Sihab.
Satgas Antimafia Bola sendiri sejauh ini telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus match-fixing. Para tersangka mulai dari anggota Exco PSSI, Komdis PSSI hingga perangkat pertandingan.
Selain itu satgas juga melakukan pemeriksaan terhadap pejabat PSSI. Terbaru mereka memeriksa plt Ketum PSSI, Joko Driyono, setelah sebelumnya memeriksa Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria dan Bendahara PSSI, Berlinton Siahaan.
Ketiga pejabat tinggi federasi sepakbola Indonesia itu diperiksa dalam kapasitas saksi terkait kasus match-fixing atas laporan Persibara Banjarnegara.
(qur/pojoksatu)

Jokdri Digarap Satgas Antimafia Bola, Begini Reaksi Sekjen PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria menegaskan federasi sudah sejak lama ingin memberantas skandal pengaturan skor atau match-fixing.
Sebagainya buktinya, Tisha menyebutkan jika PSSI telah bekerja sama dengan FIFA dalam pemberantasan praktik mafia bola tersebut.
“Sejak awal yakni 2017 saya jadi Sekjen, pertama yang jadi fokus adalah memerangi match fixing dan FIFA sudah laporkan hal itu. Oleh karenanya, November 2018 menganugerahi PSSI sebagai satu dari dua federasi terbaik,” ungkap Tisha dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Vigit Waluyo Buka-bukaan Soal Skandal Match-Fixing, Begini Reaksi Jokdri
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Hal tersebut menurutnya tak lepas dari program PSSI yang disusun sejak 2017. “Komitmen kami memerangi match fixing, bisa dicek di laman FIFA bahwa mereka meghargai kami mengenai hal itu dan kami diundang di Doha secara spesial pada November 2018 kemarin,” paparnya.
Tisha sendiri terlihat mendampingi plt Ketum PSSI, Joko Driyono yang harus menjalani pemeriksaan Satgas Antimafia Bola.
Namun, ia mengaku tidak tahu poin-poin apa saja yang ditanyakan penyidik kepada Jokdri. Namun yang pasti Jokdri diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus match-fixing laporan Persibara Banjarnegara. “Saya tak tahu pertanyaan penyidik kepada Jokdri,” imbuhnya.
Usai diperiksa, Jokdri mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang juga turut memeriksa dirinya dalam kapasitas sebagai saksi.
“Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan menjadi referensi bagi kepolisian untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan terhadap proses yang dilakukan terdahulu, baik kepada terlapor maupun saksi-saksi sebelumnya,” ungkapnya.
Sebelumnya, Satgas Antimafia Bola telah memeriksa Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria dan Bendahara PSSI, Berlinton Siahaan.
Sementara hingga saat ini, sedikitnya sudah ada 12 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus match-fixing, mulai dari anggota Exco PSSI, Komdis PSSI hingga perangkat pertandingan.
(qur/pojoksatu)

Vigit Waluyo Buka-bukaan Soal Skandal Match-Fixing, Begini Reaksi Jokdri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono atau Jokdri buka suara terkait pengakuan Vigit Waluyo terkait skandal match-fixing di pentas sepakbola Indonesia.
Dalam konferensi pers di sela pemeriksaannya di Mapolda Jatim, kemarin, Vigit berbicara banyaklah termasuk indikasi-indikasi dan bagaimana praktik match-fixing dijalankan.
Jokdri pun mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang tengah melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Vigit Waluyo, tersangka kasus match-fixing buka-bukaan soal praktik mafia bola di pentas sepakbola Indonesia (jawapos.com)
Menurutnya, hal itu bagus agar kasus pengaturan skor yang tengah melanda bisa terbuka lebar. Karena itu, pihaknya akan mendukung penuh langkah-langkah satgas dalam upaya memberantas praktik mafia bola ini.
Pihak federasi sendiri, ditegaskan Jokdri, berjanji  selalu bersikap transparan dan tidak akan menutup-nutupi semuanya.
“Saya kira PSSI seperti yang saya sampaikan di awal, sangat mendukung dan menghormati seluruh upaya kepolisian melalui satgas ini,” ungkap Jokdri di Mapolda Metro Jaya, tadi malam.
Jokdri mengajak semua pihak bersinergi untuk mengusung sepak bola tanah air menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.
“Agar kita semua bersinergi dan memastikan sepak bola yang lebih baik di masa yang akan datang,’ ucapnya.
Sebelumnya, Jokdri juga mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang juga turut memeriksa dirinya dalam kapasitas sebagai saksi, tadi malam.
“Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan menjadi referensi bagi kepolisian untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan terhadap proses yang dilakukan terdahulu, baik kepada terlapor maupun saksi-saksi sebelumnya,” tandasnya.