pelaku

Tersangka Baru Match-Fixing, Giliran Wasit yang Diciduk

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri kembali menunjukkan komitmennya terkait pemberatasan match-fixing atau praktik mafia bola di pentas sepakbola tanah air.
Setelah menangkap dan menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus match-fixing, ­satgas baru saja menangkap seorang wasit bernama Nurul Safarid.
Nurul sendiri adalah wasit yang memimpin jalannya pertandingan Persibara Banjarnegara kontra PS Pasuruan beberapa waktu lalu.
Vigit Waluyo Diganjar Sanksi Seumur Hidup
Penangkapan Nurul terkait indikasi kuat sang pengadil lapangan tersebut menerima suap sebesar Rp45 juta dari mantan anggota Komisi Wasit Priyanto dan anggota Komdis PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih. Keduanya sendiri telah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka.
Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono dalam keterangan tertulisnya membenarkan terkait kabar tersebut.
Dikatakan dia, Nurul ditangkap petugas di Garut, Senin berkat pengembangan keterangan dua tersangka pengaturan skor yang sudah diamankan, yakni Priyanto dan Dwi Irianto.
“Ya betul kita tangkap. Nurul Safarid adalah wasit pada saat pertandingan antara Persibara melawan PS Pasuruan,” sebut Argo.
Selain menangkap pelaku, pihaknya juga telah mengamankan sejumlah barang bukti, salahsatunya bukti pembicaraan atau chat permintaan nomor rekening.
“Alat bukti keterangan, foto bukti transfer, dan capture percakapan meminta nomor rekening,” ungkapnya.
Sejauh ini sudah ada lima tersangka yang diperiksa dan telah dilakukan penahanan, di antaranya anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto, anggota Exco PSSI sekaligus Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, mantan anggota Komisi Wasit Priyanto, dan anaknya Anik Yuni Artika Sari, serta terakhir wasit Nurul Safarid.
Selain penanganan kasus tersebut, satgas juga tengah mendalami sejumlah laporan yang layak untuk ditindaklanjuti terkait dugaan adanya praktik pengaturan skor tersebut.
Diberitakan sebelumnya, satgas menerima sedikitnya 278 laporan terkait dugaan pengaturan skor. Dari semua laporan tersebut, 60 laporan di antaranya layak ditindaklanjuti.
Meski begitu, mereka mengaku belum bisa menyebutkan laporan-laporan apa saja yang akan ditindaklanjuti tersebut.
Sementara terkait kasus yang melibatkan laga dagelan PSS Sleman dan Madura FC yang tengah dalam penanganan Dittipikor Bareskrim Polri, satgas mengaku sudah menemukan titik terang.
Hingga saat ini, dari 12 orang yang dipanggil sebagai saksi, baru sembilan yang memenuhi panggilan. Mereka diperiksa penyidik rata-rata selama empat hingga delapan jam.
Tiga orang yang mangkir adalah mantan anggota Exco PSSI Hidayat serta dua wasit yang memimpin laga PSS Sleman versus Madura FC di babak delapan besar, M. Reza Pahlevi dan Agung Setiawan.
(jpc/qur/pojoksatu)

Pengakuan Pelaku Pelemparan Bom Bus Borussia Dortmund

POJOKSATU.id, DORTMUND – Sergej W, pria asal Jerman keturunan Rusia divonis hukuman 14 tahun penjara oleh pengadilan Dortmund.
Terdakwa terbukti bersalah melakukan upaya pembunuhan dengan cara melempar tiga bom raitan ke ara bus Borussia Dortmund yang mengangkut pemain dan ofisial saat dalam perjalanan ke stadion pada 2017 lalu.
Namun, dalam pembelaannya terdakwa mengaku ia tak berniat untuk membunuh 28 orang yang ada di dalam bus tersebut.
Lempar Bom ke Bus Borussia Dortmund, Pria Ini Divonis 1 Tahun Penjara
Dihadapan muka pengadilan, ia mengaku hanya ingin merusak bus untuk mengguncang Dortmund. Alasannya, agar saham klub anjlok atas ulahnya itu.
Sergej mengaku terpaksa melakukan cara itu agar bisa mendapat keuntungan dari pembelian saham klub senilai EUR 44 ribu yang baru saja dilakukannya.
Dengan aksinya tersebut, ia berharap bisa mendapatkan keuntungan dari menjual sahamnya itu dengan harga yang berlibat ganda.
Namun, pihak pengadilan tak percaya begitu saja, pelaku tetap didakwa dengan pasal percobaan pembunuhan sehingga harus mendekam cukup lama di balik jeruji besi.
(qur/pojoksatu)