Pojok Bola

Bertahan Adalah Menyerang

Analisis Indonesia U19 vs Jepang U19  di Partai Perempat Final Piala Asia
Oleh Hazairin Sitepu
Lawan Jepang nanti malam, Timnas Indonesia harus bekerja ekstra cerdas, ekstra keras dan ekstra cepat. Jepang memiliki ketangguhan mental yang sangat baik. Cara terbaik untuk menggoyahkan mental tim U19 negara matahari terbit itu  adalah segera mencetak gol di menit-menit awal.
Semua pemain Jepang berbahaya.  Tetapi perlu ada perhatian khusus kepada Hori Kenta,  Yamada Kota, Ito Hiraku. Kenta, pemain bernomer punggung 9 itu, sangat berbahaya.
Waktu melawan Thailand Kenta memang tidak mencetak gol tetapi ketika melawan Korea Utara ia adalah ancaman besar. Satu gol ia buat ketika melawan Timnas Korut.
Yama Kota (20), ini adalah pemain Jepang yang sangat berbahaya. Ia memiliki kecepatan  luar biasa. Pada waktu melawan Thailand maupun Korea Utara,  Kota memciptakan teror berkali-kali di kota penalti  dari sayap kiri.
Pemain ini harus dimatikan sebelum ia  mendekat kota penalti. Pada fase grup, ia menciptakan dua gol ke gawang Thailand dan satu gol ke gawang Korut.
Ito Hiroku (7), mencetak satu gol ke Korut.  Tim Indonesia juga  jangan membiarka  pemain nomer 18  Saito bebas berkeliaran. Pemain ini sangat cepat dan lincah. Meski ia bukan starter eleven, pada saat melawa  Thailand pemain ini mengkonversi peluang dari lapangan tengah menjadi satu gol. Satu gol lagi waktu melawan Korut.
Ketika melawan UEA, Witan, Saddil dan Egy Maulana memiliki pergerakan yang sangat baik. Hanya saja suplai bola ke Egy dan Saddil kadang diputus oleh pemain-pemain tengah lawan.
Saddil kadang harus turun terlau jauh ke bawah sehingga begitu menerima bola ia harus bekerja ekatra keras menggiring bola mendekati jarak tembak yang idela. Ini akibat kinerja barisan lapangan tengah kita yang kurang efektif.
Kita punya pemain luarbiasa: Witan Sulaeman. Pemain ini tidak hanya memiliki kecepatan dan keterampilan, tetapi ia punya visi menyerang yang sangat baik. Kita ingin melihar gol lahir dari kakinya nanti malam.
Rivaldo, pemain mungil ini luarbiasa. Ia punya kecepatan, punya visi di wilayah kotak penalti, juga punya kualitas individu yang hebat.
Karakter bermain Timnas kita adalah operan-operan pendek dari kaki ke kaki. Dengan cepat. Karenanya lapangan tengah harus menjadi pusat distribusi bola. Menghindari terjadi kemelut yang terlalu sering di kotak penalti kita. Tetapi, salah satu kekuatan adalah serangan balik yang tersistem dengan mengoptimalkan Witan atau pun Saddil.
Filosofi bartahan yang baik adalah menyerang sangat penting bagi timnas Indonesia. Tetapi  jangan biarka gawang kita selalu terancam. Kita ingin lanjut ke semifinal.
(**)

Buat Kepanikan di Kotak Penalti

Catatan kecil Hazairin Sitepu untuk pertandingan Indonesia U19 melawan Uni Emirat Arab U19
Indonesia harus mencetak gol di 15 menit pertama. Ini untuk menaikkan kepercayaan diri  dan mental bermain Egy Maulana dan teman-temannya. Bila perlu lebih dari satu gol. Dengan begitu Indonesia akan lebih taktis dan lebih menguasai permainan pada menit-menit selanjutnya.
Begitu wasit meniup peluit pertama, langsung menekan. Secara terpola. Mengacak-acak pertahanan Uni Emirat Arab (UEA). Entah oleh Egy Maulana, entah oleh Saddil Ramdani.
Saddil dengan kecepatannya, melakukan tekanan dari sayap kanan. Secara paralel Witan Sulaiman atau lainnya sudah bersiaga di tengah menunggu umpan tarik dari Saddil.
Tekanan juga dapat dilakukan dari sayap kiri oleh Egy. Sebenarnya Egy lebih kemistri dengan Rivaldo, pemain mungil dari Papua itu.
Rivaldo memiliki kualitas individu yang luarbiasa. Ia dapat meliuk-liuk, menggiring dan memutar bola dengan cepatnya di antara kaki-kaki lawan.
Kalau Indonesia mengacak pertahanan UEA, maka dua hal bisa terjadi:  menciptakan peluang untuk mencatak gol dan kepanikan yang dapat saja melahirkan pelanggaran oleh lawan.  Bisa melahirkan tendangan penalti.
Serangan harus bertubi-tubi, tetapi mengantisipasi serangan balik adalah wajib. Ahmad Fawzi Abdallah, pemain UEA bernomer punggung 16 itu harus diwaspadai. Dialah yang mencetak satu gol ke gawang Qatar pada laga pekan lalu. Dengan sangat cepat dia bergerak dari lapangan tengah. Nomer punggung 10, Hamdan Alzaabi adalah pemain berbahaya. Ia jangan dibiarkan liar bergerak.
Sebenarnya penjaga gawang UEA Suhail Abdullah tidaklah istimewa. Dalam melawan Qatar saya melihat dia beberapa kali tidak tepat antisipasi. Karenanya, jika ada kemelut di depan gawangnya, Indonesia bisa mengambil untung.
Witan juga dapat membuat panik lawan dengan tendangan jarak jauhnya. Ketika melawan Taiwan, anak Palu itu menyarangkan dua gol dari lapangan tengah.
Kalau melihat melawan Qatar, pemain-pemain  Indonesia memiliki kualitas tinggi dalam tendangan bola-bola mati. Rivaldo, Saddil dan lainnya.
(hs)