PSSI

PSSI Ingatkan Klub Tak Persulit Pemain ke Timnas

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI telah memanggil 23 pemain ke dalam Timnas Indonesia untuk berlaga di ajang Piala AFF 2018.
Melihat materi pemain yang ada, skuat Garuda diisi perpaduan pemain muda dan senior. Kebanyakan dari mereka adalah alumni Asian Games 2018.
Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono pun meminta semua klub yang pemainnya mendapat ‘tugas negara’ untuk memberikan dukungan penuh.
Jokdri pun meminta seluruh pemain yang dipanggil datang sesuai jadwal, dan pihaknya tak ingin berkompromi atas upaya klub yang meminta dispensasi soal jadwal pemanggilan sebagaimana yang diutarakan pihak Sriwijaya FC.
Dikutip dari Goal, Sriwijaya FC meminta kepada PSSI agar Alberto Goncalves dan Zulfiandi diizinkan gabung telat. Kedua pemain tersebut masih dibutuhkan Laskar Wong Kito untuk melawan Persela Lamongan, Jumat (2/11).
“Kami sadari, tapi ini bukan tiba-tiba. Oleh karena itu, PSSI tidak mau kompromi. Ini jadi kebijakan dan Timnas harus prioritas,” tegas Jokdri seperti dikutip dari Goal.
“Pemanggilan pemain betul-betul kepentingan PSSI, merah-putih dan ini komitmen bukan tiba-tiba pula. Kami yakin klub, pemain punya komitmen sama, untuk pencapaian terbaik di Piala AFF,” ujarnya.
Karena itu, sebut dia, klub harus mengerti dengan keputusan PSSI. Timnas Indonesia bertanding di Piala AFF untuk membawa nama negara.
“Pemanggilan pemain untuk timnas, kewajiban sesuai keinginan pelatih. Oleh karenanya, kami pahami bahwa setiap klub punya keinginan sama, tanding dengan skuat terbaik dengan tujuan masing-masing, seperti menjadi yang terbaik, menghindari degradasi,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Mario Gomez: PSSI Bersih, tapi Orangnya yang Tidak Bersih!

POJOKSATU.id, BANDUNG – Pelatih Persib Bandung, Mario Gomez benar-benar dibuat tak habis pikir oleh langkah-langkah PSSI terkait sanksi yang diberikan untuk timnya saat ini.
Pasca sidang Komisi Banding (Komding) yang digelar Senin lalu dan dihadiri pemain hasilnya tak kunjung keluar, Gomez pun menyebut pemanggilan kepada pemainnya hanya lelucon dan tidak benar.
“Sekarang ketika kejadian itu sudah berjalan satu bulan baru muncul wacana hukuman akan dikurangi, ini hanya lelucon dan semua ini tidak benar,” kata Gomez seperti dikutip dari Simamaung.
Mario Gomez Isyaratkan Hanya Semusim untuk Persib Bandung
Dengan kenyataan ini, Gomez pun semakin yakin, ada pihak-pihak yang memang tak ingin timnya berprestasi musim ini dengan cara pelemahan lewat sanksi-sanksi.
Namun begitu, pelatih asal Argentina itu tak mau menghakimi PSSI secara kelembagaan, karena menurutnya, orang-orang yang ada di dalamnya-lah yang bermasalah.
“Ini bukan lembaganya, bukan PSSI-nya, tapi sosoknya. Untuk ketahui musuh, kalian harus mengingat wajah dan nama, bukan federasinya. PSSI bersih tapi orangnya yang tidak bersih, nama dari mereka-mereka ini yang tidak bersih,” terangnya.
Ditegaskan Gomez, Bobotoh harus memerangi sosok-sosok yang berada di federasi tersebut. Tanpa menyebutkan nama, ia tahu beberapa sosok yang sering memberi keuntungan untuk beberapa tim.
“Ini untuk Bobotoh, kalian harus mengingat ini, ingat muka dan namanya, bukan PSSI atau Komdis, ingat itu berbeda,” tegasnya.
“Saya juga suka mengingat wajah dari wasit, beberapa ada yang bekerja dengan baik, kesalahan kecil itu hal normal karena mereka manusia, tapi saya ingat siapa yang selalu memberi keuntungan bagi segelintir tim,” ungkapnya.
(qur/pojoksatu)

Mario Gomez Ungkap Alasan Luis Milla Susah Berkiprah di Indonesia

POJOKSATU.id, BANDUNG – Pelatih Persib Bandung, Mario Gomez turut mengomentari perang kata-kata antara PSSI dengan mantan pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla.
Milla yang memutuskan tak ingin meneruskan kiprahnya bersama skuat Garuda menyebut PSSI bekerja tidak profesional.
Tak terima dengan pernyataan Milla tersebut, PSSI pun balik menyebut sepanjang menukangi Timnas Indonesia, pelatih asal Spanyol itu majal prestasi.

Terkait hal itu, Gomez yang pernah mengenal Milla sebagai pemain dan pelatih menyebut, Milla tidak cocok bekerja di lingkungan PSSI.
Karakter positif yang dimiliki Milla dianggap tidak sesuai dengan iklim PSSI.”Indonesia kehilangan Milla. Kami pernah bekerja sama di Malaysia dan dia orang baik. Pemain yang sangat bagus dan pelatih kepala yang sangat bagus,” tutur Gomez seperti dikutip dari Bolalob.
“Tetapi dia tidak bisa bekerja di sini (Indonesia). Dia tidak bisa bekerja dengan PSSI. PSSI bersih, tetapi orang-orangnya tidak bersih,” tandas pelatih asal Argentina itu.
PSSI sendiri menunjuk asisten Milla, Bima Sakti sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia menghadapi ajang Piala AFF 2018.
(qur/pojoksatu)

Disebut Tidak Profesional oleh Luis Milla, PSSI Cuma Bisa Bilang Begini

POJOKSATU.ID, JAKARTA – Asosiasi sepak bola Indonesia, PSSI disebut tidak profesional oleh Luis Milla, eks pelatih Timnas Indonesia. Menanggapi tudingan tersebut, PSSI menyebut memang Milla yang sudah tidak mau perpanjang kontrak.
Sebelumnya, PSSI memang sudah mengumumkan menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Hal itu sekaligus menandakan kalau PSSI sudah pasti tak akan memakai jasa Milla.
Penunjukkan itu langsung direspons oleh Milla. Pelatih asal Spanyol itu mengucapkan salam perpisahan di Instagram pribadinya dengan sangat emosional.
BACA JUGA:
Klasemen La Liga Usai Jornada 9: Barcelona Kembali Bertakhta, Real Madrid Terjun Bebas
Klasemen Sementara Grup A Piala Asia U-19: Indonesia Masih Berpeluang Lolos, tapi Berat!
Eks pemain Real Madrid itu menyebut bobroknya manajemen PSSI. Dia juga mengisyaratkan kalau sebenarnya masih ingin menangani skuad Garuda.
“Kontrak Milla itu sudah habis, dan sudah selesai. Memang, saat pembayaran gaji itu, kami (PSSI) sering terlambat, saya akui. Makanya Milla bilang di situ, bahwa PSSI itu tidak profesional,” ungkap Anggota Exco PSSI, Yoyok Sukawi dikutip dari Jawapos.com.

Timnas U-23 Indonesia kalah dari Uni Emirat Arab U-23 lewat drama adu penalti dengan skor 4-3 (2-2) di babak 16 besar Asian games 2018. (pssi.org)Menurut Yoyok, yang ditulis Milla bukanlah soal pemutusan kontrak. Karena sejatinya kontrak pelatih asal Spanyol itu sudah berakhir usai Asian Games 2018.
“Itu bukan memutuskan kontrak sepihak. Tapi memang betul yang dikatakan Milla, ada masalah gaji,” tandas dia.
(fat/pojoksatu)

Suporter Vietnam Berulah, PSSI yang Kena Getahnya

POJOKSATU.id, KUALA LUMPUR – Asosiasi sepak bola Asia at au AFC menjatuhkan sanksi berupa denda kepada PSSI terkait pertandingan di ajang Asian Games 2018 Jakarta-Palembang pada Agustus lalu.
Hukuman tersebut diputuskan setelah Komisi Disiplin (Komdis) AFC melakukan penyelidikan mendalam terhadap insiden penyalaan cerawat di menit 66 dalam pertandingan Vietnam kontra Korea Selatan.
Meski sanksi take berkaitan dengan Timnas Indonesia, namun AFC menilai PSSI layak diganjar sanksi karena bertindak sebagai tuan rumah di pertandingan tersebut.
Keputusan AFC sendiri merujuk pada pasal 64.1 kode etik AFC. PSSI dianggap ikut bertanggung jawab karena statusnya sebagai tuan rumah dan diharuskan membayar denda 6.250 USD atau sekitar Rp95 juta.
Selain PSSI, AFC juga menjatuhkan sanksi kepada VFF at au Asosiasi Sepakbola Vietnam atas ulah suporternya yang menyalakan cerawat tersebut.
VFF mendapakan sanksi lebih berat dibanding PSSI, yakni 12.500 USD at au setara Rp190 juta. Keduanya wajib membayarkan uang denda tersebut dalam waktu 30 hari ke depan.
Selanjutnya, AFC memberi peringatan kepada dua asosiasi tersebut untuk tak mengulang kejadian tersebut. Andai terulang, pasti akan ada hukuman yang lebih berat.
(jpc/qur/pojoksatu)

Bobotoh: Bersihkan Mafia-Mafia di Tubuh PSSI

POJOKSATU.id, BANDUNG – Ribuan pendukung Persib Bandung atau Bobotoh tumpah ruah ke jalan-jalan di Kota Bandung, untuk melakukan aksi bertajuk Bandung Melawan Part 1 yang dipusatkan di Gedung Sate, Bandung, kemarin.
Dalam aksinya mereka menyuarakan sedikitnya lima tuntutan yang ditujukan pada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Tuntutan tersebut dibacakan langsung oleh beberapa perwakilan Bobotoh dari atas bus yang menjadi mimbar orasi dadakan.

Aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan atas sikap PSSI yang dirasa tidak adil dalam memperlakukan Persib dan juga Bobotoh.
Presiden Viking, Heru Joko menilai hukuman yang dijatuhkan Komdis PSSI kepada Persib dan Bobotoh terkait insiden di Stadion GBLA beberapa waktu lalu sangatlah tidak adil.
Dasar pemberian hukuman kepada Persib dan Bobotoh, tegas dia, sangat tidak jelas dan tidak adil, bahkan terkesan menutup mata.
“Kami melihat PSSI tidak adil, sangat tidak adil. Kami kecewa atas keputusan Komdis,” kata Heru.
Dia menilai, Komdis PSSI berbuat semena-mena terhadap Persib dan Bobotoh. “Kami mau diperlakukan secara adil,” tegasnya.
Oleh karena itu, sebagaimana isi dari tuntutan tersebut, Bobotoh diantaranya mendesak PSSI untuk melakukan evaluasi total dan melakukan reformasi kepengurusan dengan membersihkan mafia-mafia di tubuh PSSI yang akan merusak persepakbolaan Indonesia.
Berikut 5 tuntutan Bobotoh untuk PSSI:

Mengutuk dan mengecam keras putusan Komdis PSSI terkait sanksi terhadap Persib dan suporternya yang terkesan tebang pilih dan tidak berlandaskan keadilan.
Mendesak PSSI untuk melakukan evaluasi total dan melakukan reformasi kepengurusan dengan membersihkan mafia-mafia di tubuh PSSI yang akan merusak persepakbolaan Indonesia.
Mendesak PSSI untuk tidak mengambil keputusan-keputusan yang instan. Sebaiknya lebih mengutamakan keputusan yang dapat mendidik dengan melakukan pembinaan yang komprehensif terhadap suporter.
Mengajak seluruh elemen suporter Indonesia untuk bersatu melawan pihak-pihak yang akan merusak persepakbolaan Indonesia.
Mengajak seluruh elemen Bobotoh untuk bersatu dan tetap satu tujuan menyuarakan akan keadilan dan mengawal Persib untuk menjadi juara.

(qur/pojoksatu)

PSSI Akan Hentikan Laga Jika Terjadi Hal-Hal Berikut Ini

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia tengah berupaya meminimalisir insiden-insiden di dalam pertandingan sepakbola dengan menelurkan sejumlah regulasi.
Salahsatu yang tengah digarap PSSI adalah menerbitkan prosedur penghentian pertandingan jika terjadi insiden yang mengandung unsur SARA, politis dan hinaan khususnya yang dilakukan oleh suporter.
PSSI melalui komite eksekutif (Exco) memutuskan secara resmi prosedur penghentian laga, jika terdapat unsur SARA tersebut yang dituangkan dalam surat bernomor 4573/UDN/2114/X-2018 tertanggal 8 Oktober 2018.
Dikutip dari Goal, dalam surat itu tertulis definisi yang bisa masuk kategori SARA, politik, dan hinaan. Bukan hanya dalam bentuk nyanyian, ketentuan ini juga berlaku untuk ujaran mengandung SARA, politik dan hinaan melalui koreografi di tribun stadion.
Diharapkan, dengan adanya peraturan ini bisa semakin mendorong semua pihak untuk menghilangkan kekerasan ataupun kebencian dalam sepakbola Indonesia.
Berikut butir-butir yang terkandung di dalam aturan atau regulasi tersebut:

Pertandingan adalah setiap pertandingan resmi yang dipimpin oleh wasit PSSI dan diawasi, dilaporkan serta dilegitimasi oleh pengawas pertandingan PSSI
Permainan adalah permainan sepakbola yang dipimpin oleh wasit PSSI dan dijalankan sesuai dengan Peraturan Permainan (Law of The Game)
Nyanyian yang mengandung unsur SARA, Politik dan Penghinaan adalah lagu, suara, teriakan yang mengandung unsur SARA, pesan politik dan penghinaan; termasuk namun tidak terbatas pada kata-kata yang menghina/mengancam suatu suku, agama, ras dan golongan.
Pemain adalah pemain sepakbola yang terdaftar di PSSI baik secara langsung maupun tidak langsung
Koreografi yang mengandung unsur SARA, Politik dan Penghinaan adalah gerakan, tarian, gambar, poster, spanduk, bendera dan sejenisnya yang mengandung unsur SARA, pesan politik dan penghinaan; termasuk namun tidak terbatas pada ungkapan kata-kata yang menghina/mengancam suatu suku, agama, ras dan golongan
Nyanyian dan Koreografi sebagaimana didefinisikan pada poin 3 dan 5 tidak terbatas pada kelompok/tim yang sedang bermain di pertandingan tersebut.

Adapun prosedur penghentian sementara bagi pertandingan yang dianggap mengandung unsur SARA, politik dan hinaan, di antaranya:
Pengawas pertandingan adalah satu-satunya pihak yang berwenang untuk memberikan notifikasi atas nyanyian dan koreografi yang termasuk dalam definisi diatas kepada wasit cadangan (Fourth Official)

Wasit cadangan (Fourth Official) kemudian meneruskan informasi tersebut kepada wasit (Referee)
Wasit dapat kemudian menghentikan sementara permainan
Penghentian permainan dilakukan hingga nyanyian dan/atau koreografi dinyatakan tidak lagi mengandung SARA, Pesan Politik, Penghinaan dan berdasarkan petunjuk/aba-aba dari pengawas pertandingan

Permainan dimulai kembali berdasarkan ketentuan berikut:

Apabila pada saat dihentikan, bola ada diluar permainan, maka permainan dijalankan kembali berdasarkan posisi ketika bola tersebut diluar permainan (throw in, corner kick, penalty kick, free kick)
Apabila pada saat dihentikan, bola ada di dalam permainan, maka permainan akan dimulai dengan dropped ball.
Pemain disarankan untuk menunjukkan sikap fairplay dengan membuang bola keluar lapangan
Setelah tiga kali penghentian permainan dilakukan dan kejadian terulang, maka wasit dapat menghentikan permainan sepenuhnya dan menyatakan pertandingan selesai. Status pertandingan diserahkan kepada PSSI.

(qur/pojoksatu)

Soal ‘Rebutan’ Stadion Patriot, PSSI Minta Persija Jakarta Santai

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI bereaksi menanggapi keberatan Persija Jakarta soal keputusan PSSI menggunakan Stadion Patriot sebagai salah satu venue Piala AFC U-19.
Pasalnya, Persija Jakarta juga menggunakan stadion tersebut sebagai homebase mereka di sisa musim kompetisi Go-Jek Liga 1 2018.
Direktur Utama Persija I Gede Widiade mengatakan Persija tidak mau terusir lagi dari Stadion Patriot lantaran bentrokan jadwal Piala AFC U-19.
Menanggapi hal itu, Sekjen PSSI Ratu Tisha malah balik meminta kepada Persija untuk tenang. Dikemukakan Tisha, Persija sudah sejak lama mengetahui Stadion Patriot akan digunakan di Piala AFC U-19, jadi PSSI akan menyiapkan perpindahan stadion untuk Persija.
“Kami sudah menginformasikan sejak lama jadwal Piala AFC U-19, tahu Persija bisa bekerja sama dengan baik. Jadi, ya kami akan bantu venue perpindahan Persija,” katanya.
Tisha beralasan, bahwa Piala AFC sudah setahun yang lalu diagendakan termasuk penunjukan venuenya. AFC pun, lanjut dia, hanya menyetujui tiga stadion. Selain Patriot, ada Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Stadion Pakansari, Bogor.
“Jadi, patutnya Patriot berbangga dan Persija akan dicarikan solusinya,” ungkapnya.
Sebelumnya, PSSI sudah memasukkan dalam daftar bahwa Stadion Patriot akan digunakan pada 18 Oktober sampai 4 November mendatang.
(jpnn/qur/pojoksatu)

PSSI Menunggu Jawaban Luis Milla, sampai Kapan!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sebulan lagi jelang perhelatan Piala AFF 2018 pelatih Luis Milla belum juga menunjukkan batang hidungnya di Indonesia.
Milla yang memilih pulang ke negaranya Spanyol usai Asian Games 2018 lalu belum juga memberikan kepastian soal tawaran perpanjangan kontrak setahun dari PSSI sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Padahal, sebagaimana ultimatum PSSI terhadapnya, Milla sedianya harus sudah menghadap atau datang ke Indonesia pada 9 Oktober kemarin.

Namun begitu, PSSI melalui sekjen Ratu Tisha Destria akan tetap setia menunggu jawaban sang pelatih yang saat ini memilih berkomunikasi lewat email.
“Ya, kita lihat, perencanaan telah dipersiapkan. Solusinya sekarang PSSI untuk Milla, Milla baru menyelesaikan refreshing UEFA Pro tanggal 9 Oktober. Secepat-cepatnya dia bisa memberikan kabar,” tutur Tisha seperti dikutip dari Bolalob.
Kendati opsi menyiapkan calon pengganti ada, namun Tisha menegaskan Milla tetap jadi prioritas PSSI sebagai juru racik Hansamu Yama dan koleganya itu.
PSSI pun tak lagi menetapkan batas waktu karena memang fokus untuk selesaikan negosiasi kontrak untuk Milla.
“Kita lihat saja, pasti setelah tanggal 9 Oktober baru ada jawaban. Kita tunggu seperti apa. Selebihnya PSSI menyiapkan planning yang ada,” tuturnya.
“Harapan dan komitmen tetap untuk Milla, maka dari itu kita berusaha yang terbaik bahkan bersabar menunggu respons dari Milla,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

PSSI: Aremania dan Arema FC Pasti Dihukum!

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia menegaskan insiden yang terjadi di laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (6/10/2018) petang WIB akan berbuah sanksi.
Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri menegaskan, melalui Komisi Disiplin, pihaknya dipastikan akan memberikan hukuman kepada Arema FC, Aremania dan juga pihak panpel Arema.
Jokdri sendiri mengaku PSSI telah mengantongi sejumlah laporan adanya pelanggaran kode disiplin dalam laga bertajuk super derby Jatim tersebut.
Aremania Berulah, IB: Komdis PSSI Jangan Ragu!
Berulah, Dirijen Aremania Terancam Sanksi Berat

Ohhh begini…. pic.twitter.com/oBquHvvlfD
— KONS15TEN BERSAMAMU (@BonekMenur1927) October 6, 2018

Laporan tersebut, sebut dia, akan ditindaklanjuti dengan tambahan dari pengawas pertandingan. “Pada laga ini, PSSI menurunkan tim pemantau yang melihat langsung terjadinya beberapa pelanggaran,” kata Jokdri seperti dikutip dari laman resmi PSSI.
“Hasil laporan tim ini melengkapi laporan pengawas pertandingan dan akan menjadi referensi sidang Komite Disiplin dalam menjatuhkan sanksi nantinya,” katanya.
Jokdri menambahkan, PSSI akan semaksimal mungkin terus menjaga penegakan hukum yang terkait dengan sepak bola di Indonesia, termasuk dengan memberikan sanksi kepada mereka yang melanggar disiplin.
Ditegaskan dia, tidak akan ada lagi toleransi terhadap pelanggaran kode disiplin. Semua pihak yang melanggar akan ditindak sesuai aturan yang berlaku.
“PSSI berkomitmen untuk menjaga dan mengawal penegakan hukum sepak bola,” sebutnya.
“Setelah penghentian sementara kompetisi, PSSI telah meminta operator liga dan klub untuk lebih memperhatikan prosedur penyelenggaraan pertandingan. Kami juga telah mengingatkan untuk menjaga para suporter agar tidak bertindak dan membawa spanduk yang sifatnya rasis dan provokatif,” ungkapnya.
(jpc/qur/pojoksatu)