satgas antimafia bola

Soal Penahanan Jokdri, Ini Kata Sekjen PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Joko Driyono resmi ditahan usai diperiksa Satgas Antimafia Bola. Sekjen PSSI Ratu Tisha memberikan tanggapannya soal ini.
Dikatakan, PSSI tidak terpengaruh dengan ditahannya Jokdri, sapaan akrab Joko Driyono, oleh Satgas Antimafia Bola.
Disebutkan, baik secara bisnis dan kegiatan sehari-hari semuanya berjalan normal.
“Secara bisnis, kegiatan sehari-hari, kemudian pelaksanaan program, seperti yang saya sampaikan, apapun yang terjadi yang harus kita lindungi adalah sepak bola itu sendiri,” paparnya.
Sekjen PSSI ini kembali menegaskan semua berjalan secara normal. Tak ada pengaruh apapun.
Termasuk soal pelaksanaan program-program yang sebelumnya sudah dicanangkan.
“Semua elemen harus menjalankan amanat Kongres Tahunan dengan baik dan jangan sampai tidak terlaksana,” tandasnya.
(jpc/pojoksatu)

Satgas Antimafia Bola Agendakan Garap Jokdri Lagi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola memberikan sinyalemen akan kembali memeriksa plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri.
Jokdri akan kembali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pengrusakan barang bukti temuan satgas terkait dokumen pengaturan skor.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, tidak menutup kemungkinan Jokdri akan diperiksa lagi.
Dipemeriksaan keempat sebelumnya, Argo menyebutkan Jokdri disodori sedikitnya 69 pertanyaan terkait kasus yang membelitnya.
“Jadi sudah 69 pertanyaan. Sudah disampaikan kemarin,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
Sementara terkait pemeriksaan lanjutan, pihaknya belum bisa menentukan jadwal pastinya, kendati ditegaskannya Jokdri pasti diperiksa lagi,
“Tentunya nanti kami menunggu apakah dari penyidik akan menganggap itu sudah cukup atau belum. Kalau belum cukup, nanti akan dilakukan pemeriksaan kembali,” ujarnya.
Plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri ditetapkan sebagai tersangka kasus perusakan barang bukti berupa dokumen pengaturan skor.
Kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Kamis, 14 Februari, namun hingga saat ini polisi belum melakukan penahanan terhadapnya.
Jokdri sendiri terancam dijerat dengan pasal berlapis. Dia disangkakan melanggar Pasal 363 yang terkait pencurian dan pemberatan serta Pasal 232 tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.
Selain itu, ia juga dijerat Pasal 233 tentang perusakan barang bukti dan Pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di Pasal 232 dan Pasal 233.
(qur/pojoksatu)

Ditanya Soal Materi Pemeriksaan, Reaksi Jokdri Seperti Ini

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketum PSSI, Joko Driyono merampungkan pemeriksaan penyidik Satgas Antimafia Bola di Polda Metro Jaya dini hari tadi.
Jokdri diperiksa sebagai tersangka kasus pengrusakan barang bukti temuan satgas terkait dokumen-dokumen pengaturan skor.
Jokdri sendiri menjalani pemeriksaan maraton selama 14 jam, dari Rabu (6/3/2019) sekira pukul 10.00 WIB hingga Kamis (7/3/2019) dini hari WIB.
Usai diperiksa, Jokdri yang dihadang wartawan ogah membeberkan materi pemeriksaan. Ia enggan menjelaskan secara detail terkait proses hukum yang sedang dijalaninya itu.
“Pertama alhamdulillah saya telah menyelesaikan pemeriksaan. Tentu saya bersedia untuk memberikan keterangan jika dari penyidik memerlukan dan memanggil saya setiap saat,” katanya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Terkait langkah hukum selanjutnya dan apakah ada pemanggilan selanjutnya, Jokdri enggan menanggapi.
Hanya saja, pria yang akrab disapa Jokdri itu mengaku sudah menyelesaikan semua pemeriksaan dari tim penyidik. Dirinya pun mengaku selalu siap jika kembali harus diperiksa setiap saat.
“Jadi pemeriksaan pada hari ini telah saya tunaikan. Saya kira itu saja ya, terimakasih. Cukup ya,” ucapnya.
Jokdri terancam dijerat dengan pasal berlapis. Dia disangkakan melanggar Pasal 363 yang terkait pencurian dan pemberatan serta Pasal 232 tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.
Selanjutnya, Pasal 233 tentang perusakan barang bukti dan Pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di Pasal 232 dan Pasal 233.
Pasal-pasal tersebut pada intinya mengenai tindakan pencurian dengan pemberatan atau perusakan barang bukti yang telah terpasang garis polisi.
(qur/pojoksatu)

Karena Laga Ini, Hidayat Dijadikan Tersangka Match-Fixing

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola akhirnya resmi menetapkan mantan anggota Komisi Eksekutif (Exco) PSSI, Hidayat sebagai tersangka skandal match-fixing.
Hidayat dijadikan tersangka atas dugaan mengatur pertandingan dan melakukan penyuapan dalam laga Madura FC melawan PSS di Liga 2 2018.
“Setelah memeriksa 14 saksi yang dimintai keterangan, terakhir sekjen PSSI, maka satgas menetapkan satu lagi tersangka. Ini yang ke-16 yaitu H (Hidayat),” tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/2/2019).

Dedi menuturkan, Hidayat yang saat itu masih menjadi Exco PSSI menawarkan uang sebesar Rp100 juta kepada manajer Madura FC, Januar Herwanto.
Jika tawaran itu ditolak pihak Madura FC dalam hal ini Januar, tersangka mengancam akan membayar pemain Madura FC dengan besaran Rp15 juta.
“Perannya mengatur pertandingan ini, minta agar PSS selalu dimenangkan baik di kandang maupun di kandang Madura FC,” tutur Dedi.
Menurut Argo, penetapan status Hidayat dari saksi jadi tersangka sudah melalui prosedur yang ada. Penyidik pun telah memiliki dua alat bukti.
“Berdasar dua alat bukti. Keterangan pelapor, saksi, bukti petunjuk, surat dan sebaginya,” ujarnya.
Senada, juru bicara Satgas Antimafia Bola Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, penetapan status Hidayat dari saksi jadi tersangka sudah melalui prosedur yang ada. Penyidik pun telah memiliki dua alat bukti.
“Berdasar dua alat bukti. Keterangan pelapor, saksi, bukti petunjuk, surat dan sebaginya,” katanya.
Argo menyebutkan, Hidayat akan diperiksa pertama kalinya sebagai tersangka pada Rabu (27/2) mendatang. Hal tersebut juga untuk menentukan ditahan atau tidaknya.
“Rabu akan dimintai keterangan sebagai tersangka. Surat panggilan sudah dikirim,” imbuhnya.
(qur/pojoksatu)

Penyidik Kembali Panggil Joko Driyono

POJOKSATU.id, JAKARTA – Joko Driyono (Jokdri) bakal kembali menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Penyidik Satgas Antimafia menjadwalkan pemeriksaan pada Rabu (27/2) mendatang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Argo Yuwono membenarkan hal tersebut
Argo menjelaskan, pemeriksaan kedua sebagai tersangka itu merupakan panggilan lanjutan atas proses hukum.
Penyidik masih membutuhkan keterangan dari Joko Driyono untuk mencari fakta-fakta baru dalam penyidikan.
Lebih lanjut disebutkan, berdasarkan agenda penyidikan, Joko Driyono akan diperiksa pada pukul 10.00 WIB.
“Sesuai agenda, tersangka JD akan diperiksa jam 10 pagi. Tersangka akan dimintai keterangan lanjutan,” ujarnya, dilansir JawaPos.
Argo juga membenarkan, jika pemeriksaan terhadap Jokdri meliputi transfer masuk keluar rekening pribadi hingga verifikasi data di lembaga PSSI.
Sebagaimana diketahui, Jokdri telah menyelesaikan pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka perusakan barang bukti pengaturan skor Liga Indonesia. Usai menjalani pemeriksaan, polisi belum melakukan penahanan terhadap Jokdri.
Usai dicecar dengan 17 pertanyaan lebih selama 22 jam, Jokdri keluar dari ruangan penyidik Satgas Antimafia Bola Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (22/2). Jokdri diperiksa sejak pukul 09.43 Kamis (21/2).
(jpc/pojoksatu)

Ditetapkan Jadi Tersangka, Ini Peran Hidayat

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola Polri kembali mengungkap tersangka baru kasus mafia skor. Yakni Mantan Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Hidayat.
Hal ini diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.
Dikatakan, Hidayat menjadi tersangka ke-16 dari kasus tersebut juga pertama dugaan pengaturan skor di Liga 2 Indonesia.
“Ini tersangka pertama di Liga 2,” ujarnya, dilansir JawaPos.com.
Dijelaskan, penetapan tersangka itu dilakukan setelah melakukan pemeriksaan secara maraton terhadap 15 saksi. Kemudian, dilakukanlah gelar perkara pada Jumat (22/2).
Hidayat disangka mengatur pertandingan antara PS Sleman dan Madura United dalam Liga 2, 2018 silam.
“Ini tersangka ke 16 (kasus mafia skor), saudara H,” sambung mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu.
Sementara itu, soal peran Hidayat, Dedi menyebutkan cukup masif di dalam pertandingan dua klub itu.
Hidayat berkolaborasi dengan perangkat pertandingan untuk melakukan pengaturan skor. Dia meminta agar PS Sleman dimenangkan baik di pertandingan di kandang maupun di kandang Madura United.
Untuk memuluskan keinginannya itu, Dia pun menawarkan Manajer Madura FC, Januar Hermawan sejumlah uang agar PS Sleman dimenangkan.
“Mulai dari Rp 100 juta. Kalau tidak turuti keinginan H, maka saudara H agak mengancam. Kalau tidak nurut, dia siapkan dana Rp 150 juta bahkan mengancam beli pemain agar PS Sleman menang dari Madura,” beber Dedi.
Lebih lanjut, tim Satgas Antimafia Bola Polri berencana akan memanggil Hidayat untuk menjalani pemeriksaan oleh penyidik sebagai tersangka pada Rabu (27/2).
Diketahui, saat ini Hidayat belum dilakukan penangkapan. Tersangka terlebih dahulu akan menjalani proses penyidikan untuk mencari fakta-fakta baru.
(jpc/pojoksatu)

Krishna Murti Disebut-sebut Jadi Calon Ketum, Begini Respon PSSI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ikut terlibat dalam pengungkapan para mafia di panggung sepak bola Tanah Air, sosok Krishna Murti seketika jadi idola pecinta sepak bola.
Wakil Ketua Satgas Antimafia Sepak Bola ini kemudian disebut-sebut bakal maju dalam pemilihan ketua umum PSSI.
Pasalnya, Krishna Murti dianggap pantas memegang jabatan sebagai ketua umum PSSI.
Menanggapi kabar ini, Anggota Komite Eksekutif Yoyok Sukawi buka suara.
Ia menyambut positif dan mempersilahkan siapapun yang ingin maju dalam bursa pemilihan ketua umum.
“Bagus lah, siapapun boleh, kita dukung supaya sepak bola Tanah Air semakin baik,” ungkap Yoyok Sukawi kepada JawaPos.com.
Sebenarnya, Krishna bukan satu-satunya nama yang ramai dicicarakan. Sebelumnya, ada Erick Thohir hingga Najwa Shihab.
Lagi-lagi, Yoyok mengatakan pihaknya terbuka bagi siapapun. “Semuanya terbuka buat siapa saja,” tandasnya.
(jpc/pojoksatu)

Garap Jokdri, Satgas Antimafia Bola Gandeng PPATK

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam mengusut transaksi keuangan milik tersangka Joko Driyono.
Jokdri sendiri telah digarap selama 22 jam atas dugaan keterlibatan pencurian dan perusakan barang bukti temuan satgas berupa dokumen yang berkaitan dengan match-fixing.
Kini, satgas sendiri mulai fokus mengusut transaksi keuangan milik pria asal Ngawi itu untuk memeriksa indikasi adanya keterlibatan langsung tersangka dengan kasus match-fixing.
Skandal Match-Fixing, Semua Berawal dari Sini!
Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis
“Tadi disebutkan bahwa dokumen-dokumen menyangkut transaksi keuangan itu harus diaudit oleh PPATK. PPATK pun nanti akan pilah-pilah ini transaksi mencurigakan untuk match-fixing di liga mana,” ungkap Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Dedi Prasetyo.
Nantinya dari hasil temuan baru akan terus diperdalam lagi. Karena itu, semua proses tersebut dikatakan Dedi  membutuhkan proses dan penyidikan mendalam.
“Misalnya di Liga 3 nanti akan diteliti kembali pada pertandingan yang mana, siapa perangkat pertandingan yang menerima, sumbernya dari mana, alirannya kemana saja. Itu butuh waktu,” imbuhnya.
Joko Driyono sendiri terancam pasal berlapis mulai dari pasal 363 KUHP terkait pencurian dan pemberatan, kemudian pasal 232 KUHP tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.
Selain itu, tersangka juga bisa dijerat dengan pasal 233 KUHP tentang perusakan barang bukti, termasuk pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 KUHP dan 233 KUHP.
(qur/pojoksatu)

Satgas Antimafia Bola Garap Transaksi Keuangan Jokdri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola telah melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap tersangka Joko Driyono alias Jokdri.
Plt Ketum PSSI itu digarap selama 22 jam atas dugaan keterlibatan pencurian dan perusakan barang bukti temuan satgas berupa dokumen yang berkaitan dengan match-fixing.
Kini, satgas sendiri mulai fokus mengusut transaksi keuangan milik pria asal Ngawi itu. Mereka bahkan akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam penyidikannya.
Skandal Match-Fixing, Semua Berawal dari Sini!
Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis
“Tadi disebutkan bahwa dokumen-dokumen menyangkut transaksi keuangan itu harus diaudit oleh PPATK. PPATK pun nanti akan pilah-pilah ini transaksi mencurigakan untuk match-fixing di liga mana,” ungkap Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Dedi Prasetyo.
Nantinya dari hasil temuan baru akan terus diperdalam lagi. Karena itu, semua proses tersebut dikatakan Dedi  membutuhkan proses dan penyidikan mendalam.
“Misalnya di Liga 3 nanti akan diteliti kembali pada pertandingan yang mana, siapa perangkat pertandingan yang menerima, sumbernya dari mana, alirannya kemana saja. Itu butuh waktu,” imbuhnya.
Joko Driyono sendiri terancam pasal berlapis mulai dari pasal 363 KUHP terkait pencurian dan pemberatan, kemudian pasal 232 KUHP tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.
Selain itu, tersangka juga bisa dijerat dengan pasal 233 KUHP tentang perusakan barang bukti, termasuk pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 KUHP dan 233 KUHP.
(qur/pojoksatu)

Akui Perbuatannya, Jokdri Terancam Pasal Berlapis

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketum PSSI, Joko Driyono alias Jokdri kembali menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti temuan Satgas Antimafia Bola terkait match-fixing di bekas kantor PT Liga Indonesia.
Jokdri menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Satgas Antimafia Bola Mabes Polri secara maraton selama 22 jam, Jumat (22/2/2019).
Jokdri sendiri sebagaimana disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, telah mengakui perbuatannya, menyuruh anak buahnya untuk mencuri, merusak, dan menghilangkan barang bukti.
Jokdri Tak Ditahan, Kombes Argo: Belum Ada Instruksi
Jokdri Tak Ditahan, Ini Alasan Satgas Antimafia Bola
“Dia mengakui, menyesali, dan benar bahwa dia yang memerintahkan sopirnya untuk mengambil dokumen yang ada di kantornya kemudian dia minta bantuan dua orang untuk mengambil CCTV dan DVR CCTV,” tutur Dedi seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos, Jumat (22/2/2019).
Namun begitu, pihaknya masih akan terus menggali soal motif tersangka melakukan tindakan tersebut. “Itu belum mengarah ke sana (penyidikannya). Minggu depan akan dimintai keterangan lagi,” katanya.
Sejauh ini, pihaknya juga belum menemukan keterlibatan pihak lain dalam kasus pencurian, perusakan, dan penghilangan barang bukti tersebut.
“Empat orang saja yang terlibat secara aktif melakukan pencurian, perusakan, dan penghilangan barbuk,” ujarnya.
Sementara soal tidak ditahannya Jokdri, pihaknya menegaskan punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri.