statuta fifa

Begini Pasal Match-Fixing di Statuta FIFA yang Tak Diketahui Anggota Exco PSSI, Gusti Randa

POJOKSATU.id, BOGOR – Anggota Exco PSSI, Gusti Randa dengan lantas mengatakan ia tidak tahu terkait pasal yang mengatur soal match-fixing yang tertuang dalam Statuta FIFA.
Pernyataan Gusti Randa itu sebagaimana terungkap dalam acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab di salahsatu stasiun televisi swasta nasional bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 3; Saatnya Revolusi”, kemarin.
Gusti Randa mengatakan hal itu setelah ditanya Sesmenpora, Gatot S. Dewa Broto yang juga hadir sebagai narasumber dalam acara yang disiarkan secara live tersebut.
Ada Anggota Exco PSSI Buta Statuta FIFA, Sesmenpora: Ini Keterlaluan!
“Sekarang Anda tahu ngga pasal berapa di Statuta FIFA yang menyoroti match fixing?,” tanya Gatot seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Indosport.
Gusti Randa dengan sigap menjawab tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu,” ucapnya lantang.
“Ini keterlaluan. Bisa-bisanya Komite Hukum PSSI (sekaligus Exco) tidak hapal ayat dan pasal match-fixing di Statuta FIFA,” sahut Gatot geram.
Sebagai informasi, dalam laman resmi FIFA yang bisa diakses bebas, dalam FIFA Code of Etchics 2018 (Kode Etik FIFA) di Pasal 29 tertuang aturan terkait manipulation of football matches or competitions, yang berbunyi seperti berikut ini:

Orang yang terikat oleh Kode ini dilarang terlibat dalam manipulasi pertandingan dan kompetisi sepak bola. Manipulasi seperti itu didefinisikan sebagai pengaruh atau perubahan yang melanggar hukum, secara langsung atau, dengan tindakan atau kelalaian, tentu saja, hasil atau aspek lain dari pertandingan atau kompetisi sepak bola, terlepas dari apakah perilaku tersebut dilakukan untuk keuntungan finansial, keuntungan olahraga atau tujuan lain apa pun. Khususnya, orang yang terikat oleh Kode Etik ini tidak akan menerima, memberi, menawarkan, menjanjikan, menerima, meminta atau meminta keuntungan uang atau keuntungan lainnya, atas nama dirinya sendiri atau pihak ketiga, sehubungan dengan manipulasi pertandingan dan kompetisi sepak bola.
Orang-orang yang terikat oleh Kode Etik ini harus segera melaporkan kepada Komite Etika pendekatan apapun sehubungan dengan kegiatan dan atau informasi yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kemungkinan manipulasi pertandingan atau kompetisi sepak bola seperti dijelaskan di atas.
Komite Etik harus kompeten untuk menyelidiki dan mengadili semua perilaku dalam sepak bola asosiasi yang memiliki sedikit atau tidak ada hubungan dengan tindakan di bidang permainan. Kompetensi Komite Disiplin FIFA tetap dipertahankan.
Pelanggaran terhadap aturan ini akan dikenai sanksi dengan denda yang sesuai setidaknya CHF 100.000 serta larangan ikut serta dalam aktivitas apa pun yang terkait dengan sepak bola selama minimal lima tahun karena pelanggaran par. 1 dan minimal dua tahun karena pelanggaran par. 2. Setiap jumlah yang diterima secara berlebihan akan dimasukkan dalam perhitungan denda.

Lebih lanjut, pada Pasal 2 Ayat (1) Kode Etik FIFA menyebutkan kalau statuta ini diberlakukan untuk para pihak berikut ini:

Ofisial, termasuk di dalamnya wasit, pelatih, asosiasi, liga, klub, dan lain-lain;
Pemain, semua pesepak bola yang mendapat lisensi dari asosiasi;
Agen Pertandingan, perseorangan atau badan hukum yang mendapatkan lisensi dari FIFA untuk menggelar pertandingan sesuai regulasi FIFA;
Perantara, mewakili pemain atau klub dalam negosiasi kontrak kerja atau kesepakatan transfer pemain.

(qur/pojoksatu)

Ada Anggota Exco PSSI Buta Statuta FIFA, Sesmenpora: Ini Keterlaluan!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto tampak tak habis pikir dengan ketidaktahuan anggota Exco PSSI terkait pasal match-fixing yang tertuang dalam Statuta FIFA.
Hal ini seperti terungkap dalam acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab di salahsatu stasiun televisi swasta nasional bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 3; Saatnya Revolusi”, kemarin.
Saat itu, Gatot menanyakan kepada Gusti Randa soal aturan match-fixing setelah mantan bintang film itu menegaskan tidak ada praktik tersebut di pentas sepakbola tanah air.

Selalu mendewakan statuta FIFA tapi tidak tahu isi Statuta FIFA , aktor Exco @PSSI ( Gusti Randa ) #pssibisaapajilid3 #MataNajwaPSSIBisaApa3 #JokdriOut pic.twitter.com/SrXOn87sHg
— aldi Widiyanto (@ALbesar1) January 23, 2019

“Sekarang Anda tahu ngga pasal berapa di Statuta FIFA yang menyoroti match fixing?,” tanya Gatot seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Indosport.
Gusti Randa dengan sigap menjawab tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu,” ucapnya lantang.
“Ini keterlaluan. Bisa-bisanya Komite Hukum PSSI (sekaligus Exco) tidak hapal ayat dan pasal match-fixing di Statuta FIFA,” sahut Gatot geram.
Gatot sendiri menyanggah pernyataan Gusti Randa, dan menegaskan praktik match-fixing ada dan terjadi. “Ada. Tim sembilan pernah mengatakan ada match-fixing, tapi PSSI saat itu mengatakan itu ngibul,” jawab Gatot saat ditanya Najwa Sihab.
Satgas Antimafia Bola sendiri sejauh ini telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus match-fixing. Para tersangka mulai dari anggota Exco PSSI, Komdis PSSI hingga perangkat pertandingan.
Selain itu satgas juga melakukan pemeriksaan terhadap pejabat PSSI. Terbaru mereka memeriksa plt Ketum PSSI, Joko Driyono, setelah sebelumnya memeriksa Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria dan Bendahara PSSI, Berlinton Siahaan.
Ketiga pejabat tinggi federasi sepakbola Indonesia itu diperiksa dalam kapasitas saksi terkait kasus match-fixing atas laporan Persibara Banjarnegara.
(qur/pojoksatu)