vigit waluyo

Digarap 13 Jam oleh Satgas Antimafia Bola, Vigit Waluyo Nyaris Tumbang

POJOKSATU.id, SURABAYA –  Vigit Waluyo, salahseorang tersangka kasus skandal match-fixing di pentas sepakbola tanah air sudah menjalani pemeriksaan maraton oleh penyidik Satgas Antimafia Bola di Mapolda Jatim, tadi malam.
Vigit yang juga berstatus tersangka dugaan korupsi PDAM Sidoarjo itu disodori 65 pertanyaan yang memakan waktu selama 13 jam.
Vigit diperiksa mulai pukul 08.20 WIB dan baru keluar meninggalkan gedung Ditreskrimum, Polda Jatim sekira pukul 21.15 WIB, kemarin.
Soal Match-Fixing, Vigit Waluyo Bantah Terlibat Praktik Judi Bola
Vigit Waluyo Sebut Komite Wasit Topang Klub-Klub Milik Pejabat PSSI
Vigit sendiri tampak sempoyongan ketika meninggalkan lokasi sehingga berjalan berpapah pada bahu Makin Rahmat, salah satu kuasa hukumnya.
Diduga kelelahan, Vigit tak menyampaikan sepatah kata pun kepada awak media yang sudah lama menungguinya.
Vigit langsung masuk mobil Dokpol milik Polres Sidoarjo dan kembali ke Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Sidoarjo.
Kuasa hukum Vigit, M Sholeh mengatakan, kliennya sangat kelelahan menjalani pemeriksaan tersebut.
“Kami sampai di Polda sekitar jam setengah sembilan. baru selesai pemeriksaan sekitar jam 21.15, jadi pasti sangat melelahkan,” ucap Sholeh.
Vigit Waluyo Bongkar Cara Mafia Bola Bekerja
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Dikatakannya, saat pemeriksaan masih berlangsung, dokter sudah menyarankan untuk ditunda. “Dari pagi sampai siang masih enak, tetapi menjelang jam 16.00 sudah terlihat lelah,” sebut dia.
“Tensinya sempat naik. Dokter juga meminta untuk menghentikan, tetapi Pak Vigit tidak mau karena ingin cepat selesai,” ucapnya.
Akibatnya, dikatakan Sholeh, kliennya sempat bicara tidak fokus dan berubah-ubah. “Ada sekitar 65 pertanyaan yang diajukan ke Pak Vigit. Sesuai dengan konferensi pers tadi semuanya dibuka prinsipnya kaitannya match fixing dan match setting sudah disampaikan dalam BAP,” paparnya.
Dalam keterangannya di hadapan Satgas Antimafia Bola, Vigit menyebut tiga nama yakni Dwi Irianto alias Mbah Putih, anggota komite wasit Nasrul Koto, dan salah satu tokoh sepak bola Indonesia, Andi Darussalam Tabussala (ADS).
“Juga tentang siapa-siapa yang terlibat di situ ada nama Mbah Putih, ada nama Nasrul Koto, ada ADS semuanya sudah dibuka,”  imbuhnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Vigit Waluyo Buka-bukaan Soal Skandal Match-Fixing, Begini Reaksi Jokdri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono atau Jokdri buka suara terkait pengakuan Vigit Waluyo terkait skandal match-fixing di pentas sepakbola Indonesia.
Dalam konferensi pers di sela pemeriksaannya di Mapolda Jatim, kemarin, Vigit berbicara banyaklah termasuk indikasi-indikasi dan bagaimana praktik match-fixing dijalankan.
Jokdri pun mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang tengah melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Vigit Waluyo, tersangka kasus match-fixing buka-bukaan soal praktik mafia bola di pentas sepakbola Indonesia (jawapos.com)
Menurutnya, hal itu bagus agar kasus pengaturan skor yang tengah melanda bisa terbuka lebar. Karena itu, pihaknya akan mendukung penuh langkah-langkah satgas dalam upaya memberantas praktik mafia bola ini.
Pihak federasi sendiri, ditegaskan Jokdri, berjanji  selalu bersikap transparan dan tidak akan menutup-nutupi semuanya.
“Saya kira PSSI seperti yang saya sampaikan di awal, sangat mendukung dan menghormati seluruh upaya kepolisian melalui satgas ini,” ungkap Jokdri di Mapolda Metro Jaya, tadi malam.
Jokdri mengajak semua pihak bersinergi untuk mengusung sepak bola tanah air menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.
“Agar kita semua bersinergi dan memastikan sepak bola yang lebih baik di masa yang akan datang,’ ucapnya.
Sebelumnya, Jokdri juga mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang juga turut memeriksa dirinya dalam kapasitas sebagai saksi, tadi malam.
“Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan menjadi referensi bagi kepolisian untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan terhadap proses yang dilakukan terdahulu, baik kepada terlapor maupun saksi-saksi sebelumnya,” tandasnya.

Pengakuan Vigit Waluyo, PSS Sleman Layak Juara, tapi …

POJOKSATU.id, SURABAYA – Vigit Waluyo, tersangka kasus match-fixing atau pengaturan skor buka-bukaan soal praktik mafia bola di pentas sepakbola tanah air.
Dalam konferensi pers di sela pemeriksaannya di Mapolda Jatim, kemarin, Vigit berbicara banyaklah termasuk indikasi-indikasi dan bagaimana praktik match-fixing dijalankan.
Dikesempatan itu, Vigit juga mengaku ikut ‘andil’ dalam meloloskan PSS Sleman ke pentas Liga 1 2019 setelah menjuarai Liga 1 2018.
Vigit Waluyo Sebut Komite Wasit Topang Klub-Klub Milik Pejabat PSSI
Vigit Waluyo Bongkar Cara Mafia Bola Bekerja
Dikatakannya, sudah ada beberapa pejabat PSSI yang ‘melindungi’ tim berjuluk Super Elang Jawa untuk promosi ke Liga 1 2019.
“Saya katakan sejujurnya, pada babak delapan besar dan empat besar kami tidak melibatkan banyak pihak. Tapi dalam permainan (kompetisi Liga 2) itu sudah ada beberapa oknum PSSI yang melindungi (PSS, red) agar prestasi tim terjaga baik,” paparnya dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Walaupun ‘dilindungi’ oleh pejabat PSSI, Ditegaskannya, PSS Sleman dinilai layak kampiun karena punya kualitas tim yang bagus, salahsatunya diperkuat pemain berpengalaman dan kaya jam terbang, Cristian Gonzales.
“Jadi dalam pertandingan apapun mereka tidak ada kesulitan untuk memenangkan pertandingan. Cuma, kami memang menitipkan itu kepada Komite Wasit agar tetap dilindungi, supaya tidak ada kontaminasi dari pihak lain,” ujarnya.
Selain itu, Vigit juga mengaku pernah menyerahkan sejumlah uang kepada anggota Komite Wasit berinisial NK.
Uang sebesar Rp25 juta itu dimaksudnya untuk mengamankan pertandingan antara PS Mojokerto Putra di pentas Liga 2 2018.
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Akui Soal Match-Fixing, Vigit Waluyo Bantah Terlibat Praktik Judi Bola
Vigit mengaku kenal dengan NK dari anggota Komite Disiplin (Komdis) Dwi Irianto, atau yang akrab disapa Mbah Putih yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Kebetulan baru tahun ini kami bargaining. Baru kenal beberapa oknum saja. Tidak sampai meluas ke mana-mana,” imbuhnya.

Soal Match-Fixing, Vigit Waluyo Bantah Terlibat Praktik Judi Bola

POJOKSATU.id, SURABAYA – Vigit Waluyo, tersangka kasus match-fixing atau pengaturan skor mengaku pernah menyerahkan sejumlah uang kepada salahseorang anggota Komite Wasit PSSI berisinial NK.
Uang sebesar Rp25 juta itu dimaksudnya untuk mengamankan pertandingan antara PS Mojokerto Putra di pentas Liga 2 2018.
Selain itu, Vigit yang juga disangkakan atas kasus dugaan Korupsi PDAM Sidoarjo itu juga mengaku ‘ikut andil’ dalam meloloskan PSS Sleman ke pentas Liga 1 2019.
Vigit Waluyo Sebut Komite Wasit Topang Klub-Klub Milik Pejabat PSSI
Vigit Waluyo Bongkar Cara Mafia Bola Bekerja
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
Namun, Vigit secara tegas membantah tudingan Bambang Suryo yang menyebutnya terlibat dalam praktik judi bola.
Suryo yang tampil dalam acara talkshow (Matanajwa) bahkan menyebut Vigit adalah kaki tangan bandar judi internasional asal Thailand.
“Sejujurnya saya tidak pernah punya bandar di Thailand atau dimana pun, saya tidak pernah. Saya hanya memainkan uang saya sendiri untuk kepentingan klub saya sendiri,” ungkap Vigit dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Menurut Vigit, apa yang dia lakukan tidak untuk mencari untung. Melainkan untuk memenuhi kebutuhan agar klub itu tetap eksis.
Namun, Vigit menegaskan tidak akan melaporkan Suryo ke polisi atas tudingannya yang telah mencemarkan nama baiknya itu.
“Kami tidak akan melaporkan. Karena yang bicara di media adalah adik-adik saya sendiri. Bambang Suryo atau Gunawan sebenarnya bagian dari kami juga,” imbuhnya.

Vigit Waluyo Sebut Komite Wasit Topang Klub-Klub Milik Pejabat PSSI

POJOKSATU.id, SURABAYA – Vigit Waluyo, tersangka kasus match-fixing atau pengaturan skor buka-bukaan soal praktik mafia bola di pentas sepakbola tanah air.
Dalam konferensi pers di sela pemeriksaannya di Mapolda Jatim, kemarin, Vigit berbicara banyaklah termasuk indikasi-indikasi dan bagaimana praktik match-fixing dijalankan.
Salahsatu yang disoroti Vigit adalah bagaimana Komite Wasit yang selalu menopang klub-klub milik beberapa petinggi atau pejabat federasi yang tengah pentas di kompetisi.
Vigit Waluyo Bongkar Cara Mafia Bola Bekerja
Diperiksa atas Kasus Match-Fixing, Jokdri Puji Langkah Satgas Antimafia Bola
“Mereka (Komite Wasit) selalu menopang klub-klub yang dihuni oleh beberapa yang merangkap jabatan. Misalnya klub itu milik pejabat di PSSI. Itu yang saya tahu,” ungkap Vigit dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Dikatakan Vigit, Komite Wasit punya andil dan berperan penting dalam sebuah pertandingan. Sebab mereka juga mengatur perihal penugasan wasit.
Karena itu, Vigit menegaskan PSSI harus di reformasi total karena terlalu banyak kepentingan orang per orang di dalamnya.
“Dalam suasana seperti itu semua pihak ada kepentingan masing-masing. Salah satunya ada di Komite Wasit,” ujarnya.
Dikesempatan itu, Vigit juga mengaku pernah memberikan sejumlah uang kepada anggota Komite Wasit PSSI berisinial NK.
Uang sebesar Rp25 juta itu dimaksudnya untuk mengamankan pertandingan antara PS Mojokerto Putra di pentas Liga 2 2018.
Vigit mengaku kenal dengan NK dari anggota Komite Disiplin (Komdis) Dwi Irianto, atau yang akrab disapa Mbah Putih yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Kebetulan baru tahun ini kami bargaining. Baru kenal beberapa oknum saja. Tidak sampai meluas ke mana-mana,” imbuhnya.

Vigit Waluyo Bongkar Cara Mafia Bola Bekerja

POJOKSATU.id, SURABAYA – Vigit Walyuo, tersangka kasus match-fixing atau pengaturan skor buka-bukaan soal praktik mafia bola di pentas sepakbola tanah air.
Dalam konferensi pers di sela pemeriksaannya di Mapolda Jatim, kemarin, Vigit menyebutkan, untuk mendeteksi apakah ada match fixing dan match setting di sepakbola bisa dilihat dari dua hal, penjadwalan dan penugasan wasit.
Vigit yang juga tersandung kasus Korupsi PDAM Sidoarjo ini pun secara gamblang menyebut jika jika federasi (PSSI) punya peran penting terwujudnya dua hal tersebut.

“PSSI lebih paham tentang awal penjadwalan sampai penugasan wasit. Karena dalam penjadwalan itu tampak sekali siapa yang bertanding di awal dan di akhir. Itu biasanya mereka didukung untuk prestasi yang baik,” ungkap Vigit seperti dikutip dari Jawapos.com.
Dalam wacancara dengan puluhan awak media tersebut, Vigit berulang kali menyebut penjadwalan pertandingan dan penugasan wasit sebagai indikasi adanya match fixing dan match setting di sepak bola Indonesia.
“Kuncinya adalah di penjadwalan dan perwasitan. Dari situ bisa dilihat,” sebut Vigit. “Tim yang ditunjuk sebagai tuan rumah pada pertandingan terakhir, menurut saya setting-an,”
Dikesempatan itu, Vigit juga mengaku pernah memberikan sejumlah uang kepada anggota Komite Wasit PSSI berisinial NK.
Uang sebesar Rp25 juta itu dimaksudnya untuk mengamankan pertandingan antara PS Mojokerto Putra di pentas Liga 2 2018.
(jpc/qur/pojoksatu)

Vigit Waluyo Diganjar Sanksi Seumur Hidup

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi berat untuk pengelola PS Mojokerto Putra, Vigit Waluyo.
Vigit dilarang beraktivitas di seluruh kompetisi dan kegiatan sepak bola di tanah air seumur hidup karena dianggap menjadi aktor praktik match-fixing di kompetisi Liga 2 2018.
“Jadi yang sudah ditunggu-tunggu, VW (Vigit Waluyo), kami sanksi seumur hidup,” ujar Ketua Komdis PSSI Asep Edwin di Kuningan, Jakarta, kemarin.
Kendati belum divonis bersalah oleh pengadilan, namun Vigit diduga kuat menjadi otak dibalik praktik mafia bola yang tengah menjadi sorotan saat ini.
Komdis PSSI sendiri mengamini sinyalemen tersebut karena banyak bukti yang menunjukkan keterlibatan pelaku atas pengaturan skor tersebut.
Sebelumnya, klub yang dikelola tersangka sendiri, PS Mojokerto Putra telah dijatuhi sanksi oleh Komdis PSSI berupa larangan berkompetisi semusim.
Sempat menghilang, Vigit Waluyo menyerahkan diri atas kasus korupsi PDAM Sidoarjo. Namun Satgas Antimafia Bola akan juga menggarapnya karena diduga kuat terlibat dalam praktik mafia bola.
Sejauh ini sudah ada empat tersangka yang diperiksa dan telah dilakukan penahanan, di antaranya anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto, anggota Exco PSSI sekaligus Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, mantan anggota Komisi Wasit Priyanto, dan Anik Yuni Artika Sari.
Keempat tersangka itu terlibat dalam kasus dugaan penipuan dan pengaturan skor yang dilaporkan mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani ke Polda Metro Jaya.
(qur/pojoksatu)

Hari Ini, Satgas Antimafia Bola Garap Vigit Waluyo!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri sejauh ini telah menangkap empat orang yang diduga terlibat kasus match-fixing atau pengaturan skor di pertandingan sepak bola tanah air.
Mereka juga akan segera menggarap Vigit Waluyo, yang baru saja menyerahkan diri terkait kasus dugaan korupsi PDAM Sidoarjo, namun diduga juga terlibat dalam praktik mafia bola tersebut.
Sosok Vigit memang sudah lama masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus tersebut. Lama menghilang, ia akhirnya menyerahkan diri dan kini mendekam di Lembaga Permasyarakatan Kelas 1A Sidoarjo.
Namun, Vigit tak cuma akan disidik soal kasus korupsi. Satgas Antimafia Bola Polri juga akan memeriksanya soal keterkaitan dengan kasus pengaturan skor yang tengah gaung saat ini.
“Ya betul mas, besok (hari ini) akan kami sampaikan,” sebut Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi JawaPos.com (induk Pojoksatu.id)
Namun, pihaknya belum bisa menjelaskan soal detil mekanisme pemeriksaan yang bersangkutan, apakah akan mendatanginya lokasi penahanan atau memanggil ke Jakarta.
“Soal mekanisme penyelidikannya sudah dibahas oleh satgas, besok (hari ini) akan kami sampaikan,” imbuhnya.
Nama Vigit Waluyo mulai jadi pembicaraan usai Bambang Suryo menyebutnya di acara Mata Najwa. Vigit disebut-sebut sebagai aktor penting dalam jaringan mafia bola di pentas sepak bola Indonesia. Namanya sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) selama beberapa hari.
Karena itu, pemeriksaan terhadap Vigit oleh satgas sangat dinantikan publik, karena yang bersangkutan bisa menjadi kunci utama terkuaknya praktik mafia bola di tanah air.
(qur/pojoksatu)