M88cvf

M88cvf là trang web của M88Cvf – Đưa bạn vào thiên đường cá cược

Latest Posts

Kena Sindir Mourinho, Paul Pogba Balas Begini

POJOKSATU.id, MANCHESTER – Gelandang Manchester United, Paul Pogba rupanya terusik dengan pernyataan mantan manajernya, Jose Mourinho yang berbicara banyak soal sepakbola dan pemain di era modern saat ini.
Dalam sebuah sesi wawancara dengan BeiN Sport, Mourinho menyoroti tingkah polah pemain di era saat ini yang kerap merasa lebih besar dari klubnya.
Merasa tersindir dengan pernyataan Mourinho, Pogba pun lantas melayangkan komentar balasan kendati tidak langsung ditujukan pada Mourtinho.
Jose Mourinho: Pemain Sekarang Merasa Lebih Besar dari Klub!

“Cara kami bermain sekarang adalah dengan mendominasi penguasaan bola,” kata Pogba dikutip Pojoksatu.id dari laman Sky Sports.
Pogba coba memberikan respon atas gaya permainan Mourinho yang diterapkan di Old Trafford yang banyak mengundang kritik.
“Kami sekarang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mengatur tempo. Kami juga memiliki lebih banyak pola permainan dan lebih banyak struktur,” sebut dia.
“Itu membuat segalanya lebih mudah untuk semua pemain. Jadi saya tidak akan mengatakan perubahan yang ada hanya terasa terhadap diri saya sendiri,” sebutnya.
“Ya, saya telah mencetak beberapa gol dan memiliki beberapa assist, tapi itu semua  karena tim,” tandas penggawa timnas Prancis itu.
(qur/pojoksatu)

Jose Mourinho: Pemain Sekarang Merasa Lebih Besar dari Klub!

POJOKSATU.id, SETUBAL – Mantan manajer Manchester United, Jose Mourinho mengungkapkan perbedaan yang sangat signifikan terkait peran pemain dalam klub.
Dikatakan Mourinho, di era sepakbola modern sekarang ini, pemain cenderung punya kuasa lebih atas klub, terutama pemain-pemain yang berlabel bintang.
Karena itu, apabila sang pemian terlibat friksi dengan pelatihnya, maka dipastikan klub akan cenderung berpihak pada klub, bahkan sampai harus menyingkirkan pelatih.
Jose Mourinho: Saya ini Spesial Pelatih Klub Top!
Momen Luar Biasa Jose Mourinho Ada di Klub Ini
Pernyataan Mourinho itu sendiri seakan berkisah tentang pengalamannya yang baru saja dialami di Old Trafford.
Diyakini, keputusan manajemen Setan Merah mendepaknya tak hanya soal performa tim di lapangan namun jika tidak terlepas dari hubungannya dengan pemain terutama dengan Paul Pogba.
Mourinho dan Pogba memang kerap terlibat silang pendapat bahkan friksi. Puncaknya, Mourinho pun mencopot ban kapten Pogba dan memarkirnya di bangku cadangan untuk beberapa pertandingan.
“Sekarang semakin sulit untuk menjalin hubungan langsung dengan pemain,” tutur Mourinho kepada beIN Sports seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
Oleh karena itu, Mourinho menilai para pelatih saat ini membutuhkan suatu struktur yang bisa mengatasi permasalahan pemain generasi sekarang.
“Setiap klub harusnya punya perwakilan yang bisa berkomunikasi dengan para pemain, sehingga itu akan lebih terorganisir. Pelatih hanya melatih, bukan orang yang menjaga kedisiplinan pemain,” tuturnya.
Kenyataan ini (di Manchester United), menurut dia jauh berbeda di era Sir Alex Ferguson. Sir Alex selalu menegaskan ‘klub lebih penting dari pemain’.
“Ferguson mengatakan setelah kepergian (David) Beckham bahwa ketika pemain merasa lebih penting dari klub, maka harus dijual. Hari ini, hal itu tak lagi ada,” ujarnya.
“Saya ulangi bahwa memang dibutuhkan suatu struktur yang bisa melindungi para pelatih, karena bukan urusan pelatih untuk berusaha menjaga ketertiban dan kedisiplinan para pemain,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Jose Mourinho: Saya Ini Spesial Pelatih Klub Top!

POJOKSATU.id, SETUBAL – Jose Mourinho masih belum mendapatkan klub baru pasca dipecat Manchester United akhir tahun kemarin.
Kendati beberapa coba berupa meminangnya, seperti Benfica, namun pelatih The Special One itu menolak tegas tawaran yang datang tersebut.
Mourinho juga telah dihubungkan dengan klub lamanya, Real Madrid yang tengah berada dalam situasi yang kurang sempurna karena masih tampil inkonsistensi di bawah arahan Santiago Solari.
Momen Luar Biasa Jose Mourinho Ada di Klub Ini
Berbicara soal masa depannya, Mourinho ternyata masih punya hasrat dan keinginan untuk kembali turun ke touchline.
Ditegaskan Mourinho, ia akan kembali melatih jika klub yang dibesutnya nanti adalah klub dengan level top.
“Di mana saya akan bertahan adalah di mana saya memang layak berada, saya pantas berada di level top sepakbola. Saya pantas di level top dan di sanalah saya akan berada,” ungkap Mourinho kepada beIN Sports seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
“Saya masih terlalu muda untuk pensiun, saya berada di sepakbola untuk waktu yang lama. Saya akan berusia 56 tahun dalam beberapa pekan ke depan dan saya merasa masih sangat muda,” tekad Mourinho.
Keinginan Jose Mourinho itu tentu tidak berlebihan mengingat dalam kariernya ia banyak menghabiskan bersama klub-klub level atas, sebut saja Chelsea, Inter Milan, Real Madrid dan terakhir Manchester United.
Dari semua klub yang pernah ditukangi itu, Mourinho pun sukses mempersembahkan sejumlah gelar dan titel juara. Paling fantastis adalah saat mempersembahkan treble winner untuk Inter Milan musim 2009/10.
(qur/pojoksatu)

Momen Luar Biasa Jose Mourinho Ada di Klub Ini

POJOKSATU.id, SETUBAL – Jose Mourinho rupanya belum bisa melupakan masa keemasannya saat membesut Inter Milan.
Betapa tidak, dipercaya untuk menukangi Nerrazurri, pelatih The Special One itu sukses mempersembahkan Treble Winner 2009/10.
Karena itu, tak berlebih jika mantan manajer Manchester United dan pelatih Real Madrid itu menyebut Inter adalah tim terbaik yang pernah dilatihnya.
Jose Mourinho ketika sukses membawa Inter Milan meraih treble winner pada musim 2009/10 silam.
“Tim terbaik? Anda tahu saya harus mengatakan Inter karena mereka memenangkan segalanya,” ungkap Mou pada beIN Sport seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
Saat membesut Inter, Mourinho menegaskan banyak momen luar biasa terjadi dan akhirnya berbuah prestasi di akhir kompetisi.
“Saya harus objektif dan menghormati Inter dan mengatakan mereka sebagai tim yang memenangkan segalanya dari hari pertama hingga hari terakhir (saya melatih),” kenang dia.
Di tangannya, sebut Mourinho, Inter menjelma menjadi ‘pembunuh’ klub-klub raksasa untuk menegaskan sebagi tim terbaik di Eropa saat itu.
“Inter memenangkan semua kompetisi, memenangkan treble, mengalahkan tim terbaik di dunia Barcelona 3-1, mengalahkan Bayern Munchen 2-0 di final Liga Champions, memenangkan Serie A Italia dengan jumlah poin yang fantastis, memenangkan Coppa (Italia), dan memenangkan tiga final dalam 10 hari!,” paparnya.
“Jadi saya harus mengatakan mereka adalah tim terbaik yang pernah saya latih,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Gonzalo Higuain Berang Ditanya Soal Chelsea

POJOKSATU.id, SAN SIRO – Striker AC Milan, Gonzalo Higuain rupanya tak senang dan gusar terkait saga transfer dirinya ke Chelsea.
Bahkan, saat sejumlah media memertanyakan langsung soal kebenaran kabar tersebut, pemain internasional Argentina itu terlihat berang.
“Jika Anda mencari masalah dengan saya, maka Anda tak akan mendapatkannya,” ucap Higuain saat ditanya soal perasaannya akan segera bereuni dengan Maurizio Sarri (manajer Chelsea).
Kabar kepergian Higuain dari San Siro menuju Stamford Bridge sendiri memang semakin santer, bahkan kedua pihak, AC Milan dan Chelsea telah mencapai kesepakatan transfer pemain berusia 31 tahun itu.
Dikutip Pojoksatu.id dari laman Sky Sport Italia, Chelsea berencana akan meminjam dulu Higuain hingga akhir musim dengan opsi kontrak permanen di musim panas Juni mendatang.
Untuk meminjam tenaga penggawa timnas Argentina itu, The Blues harus menebus tanda tangannya dengan nilai EUR 9 juta dan kewajiban mempermanenkan statusnya senilai EUR 36 juta.
Dengan kesepakatan ini, AC Milan pun diuntungkan karena tidak harus membayar penuh EUR 18 juta kepada Juventus atas peminjaman sang pemain.
I Rossonerri juga bisa menghemat beban gaji, karena El Pipita memiliki gaji sebesar EUR 9 juta per musim, dan sebesar EUR 4,5 juta sudah dibayarkan selama paruh pertama musim.
Namun tidak dibahas terkait rencana barter pemain dalam kesepakatan itu sebagaimana yang berkembang selama ini dengan Alvaro Morata.
Sebelumnya, AC Milan berharap bisa menandatangani Alvaro Morata sejurus kepergian Higuain ke London barat itu.
Namun Chelsea rupanya belum mengambil langkah-langkah strategis terkait masa depan Morata yang juga mengalami musim yang pelit.
(qur/pojoksatu)

Beda Pendapat Pelatih dan Kapten AC Milan Soal Kinerja Wasit

POJOKSATU.id, JEDDAH – AC Milan gagal merengkuh titel juara Piala Super Italia 2018 setelah takluk 0-1 dari Juventus di parta final di King Abdullah Sports City, Arab Saudi, Kamis (17/1) dini hari WIB.
Sundulan Cristiano Ronaldo di paruh kedua menit 61 membuyarkan asa Rossonerri meraih gelar tersebut musim ini.
Kapten AC Milan, Alessio Romagnoli menegaskan kekecewaan, namun ia lebih kecewa atas kinerja wasit Luca Banti yang memimpin jalannya pertandingan tersebut.
Juventus Juara Piala Super Italia, Kapten AC Milan Kuliti Kinerja Wasit

Romagnoli menilai, sang wasit banyak mengambil keputusan yang merugikan timnya, dan di sisi lain menguntungkan tim lawan.
Romagnoli menyoroti keputusan Banti mengeluarkan kartu merah langsung untuk rekan setimnya, Franck Kessie di menit 72.
Padahal, Romagnoli menilai, apa yang dilakukan Kessie tidak pantas langsung diganjar kartu merah karena yang terjadi hanya sebuah kontak yang minimal.
Pasalnya, diakui dia, kehilangan seorang pemain cukup berdampak para performa timnya di pertandingan tersebut.
“Cara dia (Luca Banti) memberikan kartu tidak bisa karena kami mendapatkan kartu dan diusir dari lapangan pada setiap kontrak yang minimal,” ungkapnya seperti dikutip dari Milan TV.
Namun, pendapat berbeda justru datang dari sang pelatih, Gennaro Gattuso. Jika biasanya sang allenatore paling sengit mengomentari kinerja wasit jika merugikan timnya, kali ini Gattuso tampak lebih legawa.
Gattuso bahkan menilai keputusan wasit memberikan kartu merah untuk Frankie Kessie tersebut sudah tepat.
Gattuso lebih tertarik untuk menyoroti pemakaian VAR di pertandingan tersebut untuk menentukan offside atau tidaknya seorang pemain.
“Saya bukan siapa-siapa untuk memberikan penilaian terhadap insiden itu. Saya mengakui bahwa kartu merah untuk Kessie itu keputusan yang adil,” ujarnya.
“Saya hanya mengkhawatirkan penggunaan teknologi (VAR). Juventus mencetak dua gol dan satu dianulir karena offside, mereka diperbolehkan untuk melanjutkan dan membuat keputusan setelahnya. Itu yang membuat saya terganggu,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Juventus Juara Piala Super Italia, Kapten AC Milan Kuliti Kinerja Wasit

POJOKSATU.id, JEDDAH – AC Milan gagal merengkuh titel juara Piala Super Italia 2018 setelah takluk 0-1 dari Juventus di parta final di King Abdullah Sports City, Arab Saudi, Kamis (17/1) dini hari WIB.
Sundulan Cristiano Ronaldo di paruh kedua menit 61 membuyarkan asa Rossonerri meraih gelar tersebut musim ini.
Kapten AC Milan, Alessio Romagnoli menegaskan kekecewaan, namun ia lebih kecewa atas kinerja wasit Luca Banti yang memimpin jalannya pertandingan tersebut.
Piala Super Italia jadi Trofi ke-26 Cristiano Ronaldo
Bawa Juventus Juara Piala Super Italia 2018, Ronaldo: Ini Baru Awal!
Romagnoli menilai, sang wasit banyak mengambil keputusan yang merugikan timnya, dan di sisi lain menguntungkan tim lawan.
Romagnoli menyoroti keputusan Banti mengeluarkan kartu merah langsung untuk rekan setimnya, Franck Kessie di menit 72.
Padahal, Romagnoli menilai, apa yang dilakukan Kessie tidak pantas langsung diganjar kartu merah karena yang terjadi hanya sebuah kontak yang minimal.
Pasalnya, diakui dia, kehilangan seorang pemain cukup berdampak para performa timnya di pertandingan tersebut.
“Cara dia (Luca Banti) memberikan kartu tidak bisa karena kami mendapatkan kartu dan diusir dari lapangan pada setiap kontrak yang minimal,” ungkapnya seperti dikutip dari Milan TV.
Selain soal kartu merah Kessie, Romagnoli juga memertanyakan keputusan wasit yang mengganjarnya dengan kartu kuning hanya karena memprotes keputusannya.
“Jika saya sebagai kapten mendapat kartu karena protes, maka itu sungguh menjengkelkan,” tandasnya.
Selain itu, Romagnoli menilai, Milan pantas mendapat hadiah penalti karena Andrea Conti mendapat pelanggaran keras dari Emre Can di dalam kotak terlarang.
Namun, Banti tidak memberikan penalti. Bahkan, saat Romagnoli melakukan protes dan meminta VAR, sang wasit bergeming.
“Wasit mengatakan kepada saya jika itu bahkan tidak layak untuk dilihat lewat VAR. Tapi, saya yakin bahwa kita harus melihatnya kembali. Kami tahu kualitas kami dan kami bisa melakukan lebih baik lagi,” geram Romagnoli.
(qur/pojoksatu)

Piala Super Italia Jadi Trofi ke-26 Cristiano Ronaldo

POJOKSATU.id, JEDDAH – Cristiano Ronaldo menjadi pahlawan kemenangan Juventus setelah mencetak gol semata wayang di final Piala Super Italia 2018 atas AC Milan.
Ronaldo mencetak gol satu-satunya di laga yang digelar di King Abdullah Sports City, Arab Saudi, Kamis (17/1) dini hari WIB lewat sundulan.
Dikutip Pojoksatu.id dari laman Marca, gelar pertama Ronaldo bersama Juventus itu pun menjadi trofi ke-26 dari koleksi gelar yang telah menghiasi lemari pialanya.
Bawa Juventus Juara Piala Super Italia 2018, Ronaldo: Ini Baru Awal!
Peraih 5 Ballon d’Or itu sendiri setelah memenangkan segala selama di Real Madrid, pergi ke Juventus di musim panas dan mulai mengoleksi trofi.
Koleksi piala Ronaldo berasal dari Portugal, Inggris, Spanyol dan sekarang Italia. Semuanya dimulai dengan kemenangan Piala Super Portugal dengan Sporting CP pada usia 17 tahun.
Dia berada di bangku cadangan dalam kemenangan 5-1 melawan Leixoes hanya beberapa hari setelah debut dan itu adalah satu-satunya kemenangan gelar bersama klub pertamanya.
Di Old Trafford bersama Manchester United, ia mengumpulkan sembilan medali pemenang dengan tiga gelar Liga Premier, satu Piala FA, dua Piala Liga, satu Community Shield, satu Liga Champions, dan satu Piala Dunia Klub.
Setelah kampanye debut tanpa piala di Madrid, ia menebus waktu yang hilang sesudahnya. Ia mengklaim kemenangan LaLiga Santander dua kali, dua kemenangan Copa del Rey, dua Piala Super domestik, dua Piala Super Eropa, tiga Piala Klub Dunia dan yang terpenting, empat mahkota Liga Champions serta ia mengakhiri era emasnya di Estadio Santiago Bernabeu. disimpulkan dengan 15 trofi dan empat Ballon d’Ors.
Kini, di Italia bersama Juventus, ia telah mempersembahkan gelar juara pertama, dan tentunya berpeluang akan kembali menambah koleksi trofi lainnya musim ini.
Juventus berpeluang menyegel scudetto Serie A Italia musim ini dan masih berpeluang menjuarai Liga Champions musim ini.
(qur/pojoksatu)

Bawa Juventus Juara Piala Super Italia 2018, Ronaldo: Ini Baru Awal!

POJOKSATU.id, JEDDAH  – Juventus sukses menyegel titel juara Piala Super Italia 2018 usai membungkam AC Milan di King Abdullah Sports City, Arab Saudi, Kamis (17/1) dini hari WIB.
Cristiano Ronaldo menjadi pahlawan kemenangan Bianconerri lewat gol satu-satunya di laga tersebut yang tercipta di interval kedua menit 61.
Sundulan peraih 5 Ballon d’Or itu sudah cukup membawa timnya meraih gelar pertama di musim debutnya.

Usai pertandingan, Ronaldo mengaku senang bisa mempersembahkan trofi pertamanya untuk Juventus, terlebih ia sendiri yang tampil sebagai biangnya.
“Kami sudah mendapatkan trofi ini, sekarang kami harus terus bekerja keras untuk mencapai yang berikutnya,” kata Ronaldo dikutip Pojoksatu.id dari Diario AS.
Ronaldo mengaku laga tersebut sangat berat dilakoni karena lawannya juga tampil sangat ngotot dan beberapa kali mampu merepotkan barisan pertahanan timnya.
“Itu pertandingan yang sangat sulit, sangat hangat dan sulit untuk bermain dalam kondisi seperti ini. Tapi, kami bermain bagus, menciptakan banyak peluang dan jelas saya senang bisa mencetak gol kemenangan,” katanya.
“Itu adalah niat saya untuk memulai 2019 dengan trofi, saya memiliki gelar pertama saya bersama Juve dan saya sangat senang,” sebut dia.
Namun begitu, Ronaldo mengajak seluruh rekan timnya untuk tidak berpuas diri dengan pencapaian tersebut, karena trofi lainnya masih menanti untuk dibawa pulang ke Turin.
“Serie A selalu menjadi tujuan utama Juve. Kami berada di puncak klasemen, tetapi ini turnamen yang sangat panjang dan akan sulit, jadi kami harus terus bekerja,” imbuhnya.
(qur/pojoksatu)

La Liga Bereaksi Atas Kasus Match-Fixing di Pentas Sepak Bola Indonesia

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kasus match-fixing atau pengaturan skor di kancah sepakbola Indonesia rupanya tak hanya menyita perhatian publik tanah air, namun juga dari mancanegara.
Bahkan, La Liga Spanyol turut memberikan atensi atas kasus yang telah menyeret sejumlah orang, termasuk beberapa pengurus di federasi sepakbola Indonesia atau PSSI.
Managing Director La Liga untuk Asia, Ivan Codina turut angkat bicara. Dia mengaku harus ada kerja sama antara La Liga dan PT LIB (Liga Indonesia Baru) untuk mencegah kasus tersebut agar tidak meluas.
“Match fixing menjadi masalah besar. Saya tahu ada masalah di Indonesia. Penting bagi La Liga untuk turut melindungi industri sepak bola dari match fixing,” ujarnya.
Bahkan, Codina mengaku kasus pengaturan skor menjadi prioritas utama La Liga dalam kerja sama dengan PT LIB. Sebab hal tersebut dapat mengganggu jalannya pertandingan yang adil dan jujur.
“Javier Tebas (Presiden La Liga) membuat program untuk memprioritaskan memberantas hal itu (pengaturan skor). Kami harus lindungi fans, pemain, dan partner komersil,” ungkapnya.
Salah satu langkah yang dilakukan oleh La Liga untuk menghadapi masalah itu adalah dengan bekerja sama dengan pihak berwajib.
La Liga beranggapan langkah tersebut terbukti ampuh untuk menanggulangi permasalahan pengaturan skor.
“Bekerja sangat dekat dengan polisi. Sampai saat ini kami masih bertarung terutama di level bawah. LIB mencoba untuk mendukung bagaimana menghadapi masalah itu,” ungkapnya.
(qur/pojoksatu)