pensiun

Eka Ramdani Gantung Sepatu, Sebut Sosok Ini Paling Berjasa dalam Kariernya

POJOKSATU.id, BANDUNG – Eka Ramdani telah memutuskan mundur dari pentas sepakbola usai membela Persib Bandung di Liga 1 2018.
Ebol, panggilan pemain berusia 34 tahun ini telah malang melintang di pentas kompetisi teratas tanah air, dan Persib Bandung adalah klub yang selama ini bisa dibilang membesarkan namanya.
Selama 17 tahun meniti karier profesional, Eka mengaku mendapat banyak tempaan dari sejumlah pelatih, lokal maupun dari luar negeri alias pelatih asing.
Persib Pantas Pertahankan Ezechiel N’Douassel, Performanya Apik Sepanjang Musim
Namun, di antara sederet nama-nama yang pernah membesutnya, Eka mengaku satu sosok ini paling memberikan dampak pada kualitas bermainnya.
Figur pelatih yang paling berjasa bagi Eka Ramdani ternyata bukan adalah pengajar dulu saat ia masih menjadi siswa di SSB (sekolah sepakbola) UNI.
“Banyak pelatih yang berjasa dalam karir saya. Tapi kalau saya ditanya yang paling berpengaruh untuk saya pribadi ada di UNI, Pak Budi namanya,” tuturnya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Simamaung.
“Dia paling berjasa, karena saya bisa dipanggil ke Persib dulu karena dia. Saya setiap pagi dia yang latih secara khusus, dia pelatih SSB,” ucapnya.
Ia mengaku Budi adalah mentornya saat ia mulai mengenal dunia sepakbola. Sayang Eka mengaku tak pernah lagi bertemu dengannya.
“Saya lupa beliau terakhir dapat kabar pindah ke Bogor, dahulu sempat ketemu di liga 2007/2008 ketemu di Bogor,” katanya.
Eka pun mengenang bagaimana mentornya itu gigih mengasahkan agar punya kemampuan yang mumpuni sebelum terjun ke pentas kompetisi.
Eka yang masih sekolah tinggal di mes UNI kerap mendapat menu latihan khusus. Setiap pagi, dia ditempa dalam melepaskan tendangan dan operan untuk menjadi gelandang yang berkualitas.
Tak ayal, Eka pun menjelma menjadi sosok sentral di pusat permainan ketika dia naik kelas ke skuat Persib Bandung.
Tembakan kerasnya juga kerap menjadi solusi ketika lini depan timnya mengalami kebuntuan. Selain itu,  Eka Ramdani juga dikenal sebagai pemain yang handal dalam mengambil set piece.
(qur/pojoksatu)

John Terry, Legenda Hidup Chelsea Umumkan Gantung Sepatu

POJOKSATU.id, LONDON – Mantan kapten Chelsea yang sempat bermain di Aston Villa, John Terry memutuskan gantung sepatu alias pensiun sebagai pemain.
Mantan penggawa Timnas Inggris itu menutup kini kariernya sebagai pemain dengan menyandang status sebagai legenda hidup The Blues.
“Setelah 23 tahun luar biasa sebagai pesepakbola, saya memutuskan sekarang adalah saat yang tepat untuk berhenti bermain,” demikian pernyataan Terry lewat unggahan di akun Instragram miliknya seperti dikutip dari Goal.

 

View this post on Instagram

 
THANK YOU
A post shared by John Terry (@johnterry.26) on Oct 7, 2018 at 12:20pm PDT

Sepanjang kiprahnya di Stamford Bridge sejak masih berusia 14 tahun, Terry sukses mempersembahkan lima gelar Liga Primer Inggris, empat Piala FA, Liga Champions, Liga Europa dan tiga Piala Liga.
Sedangkan kiprahnya bersama The Three Lions, Terry telah membukukan 78 caps dan tampil dalam empat turnamen mayor, meski semuanya gagal dilalui hingga perempat-final.
“Sebagai sosok 14 tahun, saya membuat keputusan besar dan terbaik untuk bergabung dengan Chelsea. Rangkaian kata tak akan mampu menunjukkan betapa berartinya semua orang di klub bagi saya, khususnya fans,” sebut dia.
“Bagi saya, kalian semua adalah fans terbaik di dunia. Semoga saya telah melakukan hal yang membanggakan kalian dengan mengenakan kostum tim dan ban kapten,” sahutnya.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang luar biasa, para pelatih dan manajer, serta staf manajemen, yang terhormat pernah bekerja dan menjadi panutan saya. Mereka semua membimbing saya hingga bermain sebanyak 717 pertandingan bersama klub yang saya cintai dan sebuah keistimewaan bagi saya pernah menjadi kapten,” paparnya.
“Saya menantikan babak baru dalam hidup dan tantangan yang akan saya hadapi,” ujarnya memungkasi.
John Terry meninggalkan Chelsea pada 2017 lalu untuk bergabung dengan Aston Villa. Kontraknya bersama klub Divisi Championship itu rampung musim panas kemarin dan sempat menolak tawaran dari klub raksasa Rusia, Spartak Moskwa.
(qur/pojoksatu)

Kecewa, Alasan Ismed Sofyan Ingin Cepat Pensiun

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kapten Persija Jakarta, Ismed Sofyan benar-benar meradang dan dibuat kecewa dengan keputusan sanksi Komdis PSSI terhadapnya.
Ismed diganjar sanksi larangan bermain selama tiga pertandingan karena dinilai dengan sengaja menendang salah seorang pemain Persib Bandung dalam laga Minggu (23/9/2018) lalu.
Ismed pun mengaku kecewa dan diperlakukan tidak adil dengan hukuman tersebut sehingga berencana gantung sepatu alias pensiun akhir musim ini.
“Saya lelah dihukum tanpa melakukan kesalahan. Ibaratnya orang masuk penjara tapi tidak melakukan kesalahan,” ungkapnya.
Kekecewaan Ismed juga merujuk pada insiden di laga kontra Persib musim sebelumnya. Ismed mengaku meski tak melakukan kesalahan ia tetap diganjar hukuman.
“Vladimir Vujovic (mantan bek Persib musim lalu) yang jelas-jelas memukul saya dan saya tak membalas sama sekali. Tapi disanksi juga,” keluhnya.
“Jadi menurut saya tidak adil saja. Saya sudah gerah, sudah mikir ke depan. Sudah malas kadang-kadang,” ucapnya.
Ismed sendiri belum memikirkan karirnya setelah pensiun nanti. “Lihat saja ke depan. Lima menit ke depan saja tak tahu apa yang terjadi. Jalani saja,” tandasnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Kasihan, Maradona Sarankan Lionel Messi Mundur dari Timnas

POJOKSATU.id, BUENOS AIRES – Legenda Timnas Argentina, Diego Armando Maradona menyarankan Lionel Messi untuk tidak kembali ke Timnas Argentina.
Maradona merasa kasihan dengan superstar Barcelona itu yang selalu menjadi sasaran kekecewaan publik negaranya jika La Albiceleste menuai hasil minor.
Lionel Messi sendiri telah absen di beberapa laga ujicoba Timnas Argentina pasca gelaran Piala Dunia 2018 Rusia termasuk dipastikan absen di pertandingan berikutnya menghadapi Irak dan Brasil.

Maradona, seorang pemenang Piala Dunia 1986, merasa Messi – pencetak gol terkemuka sepanjang masa Argentina – harus pensiun dari tugas internasional.
“Jangan datang lagi,” kata Maradona saat diwawancara media asal Argentina, Clarin seperti dikutip dari Omnisport.
“Timnas U-15 kalah dan itu kesalahan Messi. Pertandingan di Argentina menempatkan Racing melawan Boca dan Messi harus disalahkan. Itu selalu salahnya,” sebutnya.
“Karenanya, aku akan berkata, ‘jangan pergi lagi’. Mari kita lihat apakah mereka bisa menanganinya,” ujarnya.
Maradona menilai, Leo Messi tidak bisa disalahkan atas pencapaian kurang mengesankan Timnas Argentina, terutama di Piala Dunia 2018 Rusia.
“Dia tidak bisa disalahkan karena Argentina tidak menjadi juara dunia,” ucapnya.
“Oke, kami menaruh harapan besar padanya, tetapi ketika Anda pergi ke arena balap, Anda memiliki harapan bahwa kuda Anda akan menang dan berakhir di urutan kedelapan,” sebut Maradona. “Di Formula 1, Vettel memiliki mesin yang hebat tetapi Hamilton selalu menang,”
“Dia tidak bisa disalahkan untuk apa pun, bukan salahnya jika orang lain kehilangan gairah,” ujarnya menandaskan.
(qur/pojoksatu)