rugi

Selain Gagal Juara, Persib Bandung Rugi Besar

POJOKSATU.id, BANDUNG – Tahun ini rupanya bukan tahun yang bagus bagi Persib Bandung di pentas Liga 1. Sempat juara paruh musim, Persib gagal kampiun setelah hanya finis diperingkat keempat.
Bahkan, Persib harus mengalami kerugian finansial yang tak sedikit akibat kerap mendapatkan sanksi denda dari pihak Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, termasuk sanksi partai usiran tanpa kehadiran Bobotoh di stadion.
Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat, Glenn Sugita mengungkapkan, banyaknya sanksi yang dijatuhkan sepanjang kompetisi menjadi penyebab utama klubnya alami kerugian besar.
Namun Glen ogah menyebut besaran kerugian finansial tersebut. “Gede lah, sudah pusing,” ujar Glenn di Graha Persib seperti dikutip dari laman Bobotoh.id.
Pihaknya juga menyebutkan, pengeluaran di kompetisi tahun ini juga membengkak karena Persib harus melakoni pertandingan di luar pulau Jawa akibat sanksi berat Komdis PSSI tersebut.
Pasalnya, tanpa adanya dukungan penonton (pembelian tiket), pemasukan Persib benar-benar turun drastis selama menjalani sanksi tersebut hingga akhir musim.
“Oh iya pasti lah, orang kita tadinya di dalam sebagai tuan rumah, kita lagi bagus, penonton biasanya penuh ya harusnya ada keuntungan, malah sekarang harus pergi ke tempat lain kayak tandang kalau tandang kan selalu keluar uang. Jadi semuanya sudah tandang, kemudian pemasukan sudah tidak ada sama sekali,” ungkapnya.
(qur/pojoksatu)

Kompetisi Dihentikan, Klub Ini Rugi Miliaran Rupiah

POJOKSATU.id, SEMARANG – Klub promosi Go-Jek Liga 1 2018, PSIS Semarang mengaku terdampak atas dihentikannya kompetisi saat ini.
CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi mengungkapkan pihaknya merugi Rp1,2 miliar. Pasalnya manajemen tim harus mengeluarkan anggaran untuk mengurus para pemain dan officialnya meski tanpa adanya pemasukan.
“Kita gaji satu tim Rp900 juta per bulan, belum lagi biaya opersional. Dari makan cathering, hingga transportasi,” sebutnya.
Kompetisi Dihentikan, Pelatih Persib Tambah Porsi Latihan
Disebutkan Yoyok, pembiayaan manajemen juga membengkak karena pihaknya tidak memilliki pendapatan yang signifikan selama kompetisi dihentikan sementara.
Jika dibiarkan tanpa kejelasan, PSIS akan semakin kesulitan menghadapi situasi ini. “Rata-rata kebutuhan kita sebulan itu Rp1,2 miliar,” sebut dia.
Di sisi lain, manajemen masih harus memperpanjang kontrak para pemain dan officialnya. Molornya durasi kompetisi secara otomatis menambah masa komitmen mereka.
“Seharusnya tanggal 9 Desember 2018 selesai. Sehingga kontrak pemain dan official bakal ada tambahan satu bulan,” katanya.
Namun begitu, pihaknya hanya bisa pasrah dengan keputusan PSSI tersebut. Namun menurutnya bukan menjadi alasan tidak meningkatkan performa klubnya itu.
“Performa PSIS Semarang lagi bagus-bagusnya. Grafiknya sedang positif, bisa saja nanti turun lagi, tapi bagaimanapun juga kejadian itu tidak masalah, kami menerima,” ungkapnya.
(jpc/qur/pojoksatu)