sesmenpora

Soal Isu KLB PSSI Ditunggangi Politik, Ini Penegasan Kemenpora

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto angkat suara menanggapi isu yang menyebutkan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI ditunggangi kepentingan politik.
Ditegaskan Gatot, tidak ada korelasinya antara KLB PSSI dengan Pemili 2019 yang akan digelar hampir bersamaan.
Pihaknya pun membantah keras isu tersebut dan berharap tidak ada isu-isu miring dibalik rencana pelaksanaan KLB PSSI tersebut.
Presiden Jokowi Bicara Soal KLB PSSI dan Pemberantasan Match-Fixing
Jokdri Bicara Persiapan Kongres Luar Biasa PSSI
Seperti diketahui, PSSI bakal menggelar KLB dalam waktu dekat. Hal itu menyikapi dari berbagai peristiwa hingga ditetapkannya Joko Driyono sebagai tersangka oleh Satgas Antimafia Bola.
KLB sendiri rencananya baru akan digelar setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal itu diharapkan agar tak ada yang menunggangi KLB.
“Nah, saya ingin meluruskan tidak ada tercantum dalam Pasal 30 (penyelenggaraan) KLB setelah Pilpres. Jadi jangan kaitkan Pilpres dengan KLB. Karena Pilpres itu cukup sakral bagi rakyat Indonesia, jangan dihubung-hubungkan dengan hal politik,” ungkap Gatot.
Menurutnya, rencana KLB sama sekali tak ada hubungannya dengan peristiwa politik di tanah air, hanya kebetulan memang Komite Eksekutif PSSI bersepakat menggelar KLB karena masalah yang tengah dihadapi.
“Tetapi, ada ketentuan juga dalam Pasal 30 itu PSSI mesti konsultasi dengan FIFA dan setelah itu tiga bulan, barulah mereka mengadakan KLB dan tempatnya di mana. Hanya kebetulan saja itu akan terjadi berlangsung setelah Pilpres dan jangan disebut-sebut KLB setelah Pilpres karena enggak nyambung dan enggak konek,” ungkapnya.
(jpc/qur/pojoksatu)

Soal KLB PSSI, Sesmenpora: Jangan sampai Kejadian Seperti Edy Rahmayadi

POJOKSATU.id, JAKARTA – PSSI akan menggelar Kongres Luar Biasa yang rencananya akan digelar selepas Pemilu 2019.
Rencana tersebut didasari atas perkembangan dinamika yang terjadi saat ini, terutama mencuatnya soal skandal match-fixing.
Apalagi, Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono alias Jokdri telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus perusakan barang bukti.
Fiks, Ini Jadwal Kongres Luar Biasa PSSI
Satgas Antimafia Bola juga tengah mendalami dugaan keterlibatan pria asal Ngawi itu terkait skandal match-fixing.
Mensikapi soal rencana KLB, Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto berharap federasi sepakbola di tanah air itu nantinya bisa mendapatkan sosok pemimpin yang mampu memajukan sepakbola Indonesia.
Secara khusus, ia mengharapkan sosok Ketum PSSI yang baru nanti adalah yang punya cukup waktu untuk mengelola organisasi dan mengembangkan sepak bola Indonesia ke tingkat lebih tinggi.
Terpenting, ditegaskan Gatot, ketua baru nantinya memenuhi sosok yang ideal dan sesuai dengan statuta PSSI.
Ia mengaku sosok tersebut harus berintegritas tinggi, memiliki waktu yang cukup, dan tidak memiliki kepentingan apapun dalam menjabat Ketua PSSI sehingga benar-benar mengurus bola.
“Jangan sampai kejadian seperti Edy (Rahmayadi) kemarin. Beliau ada di Medan, kantornya ada di Jakarta. Itu merepotkan sekali,” katanya seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Jawapos.
Kendati demikian, dikatakan Gatot, sah-sah saja seorang Ketum PSSI punya profesi lain. Karena tentunya, dia tidak bisa bekerja hanya untuk PSSI.
“Namun, dia harus tetap fokus mengurus PSSI,” ujarnya menandaskan.
(qur/pojoksatu)

Ada Anggota Exco PSSI Buta Statuta FIFA, Sesmenpora: Ini Keterlaluan!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto tampak tak habis pikir dengan ketidaktahuan anggota Exco PSSI terkait pasal match-fixing yang tertuang dalam Statuta FIFA.
Hal ini seperti terungkap dalam acara talkshow yang dipandu Najwa Shihab di salahsatu stasiun televisi swasta nasional bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 3; Saatnya Revolusi”, kemarin.
Saat itu, Gatot menanyakan kepada Gusti Randa soal aturan match-fixing setelah mantan bintang film itu menegaskan tidak ada praktik tersebut di pentas sepakbola tanah air.

Selalu mendewakan statuta FIFA tapi tidak tahu isi Statuta FIFA , aktor Exco @PSSI ( Gusti Randa ) #pssibisaapajilid3 #MataNajwaPSSIBisaApa3 #JokdriOut pic.twitter.com/SrXOn87sHg
— aldi Widiyanto (@ALbesar1) January 23, 2019

“Sekarang Anda tahu ngga pasal berapa di Statuta FIFA yang menyoroti match fixing?,” tanya Gatot seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Indosport.
Gusti Randa dengan sigap menjawab tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu,” ucapnya lantang.
“Ini keterlaluan. Bisa-bisanya Komite Hukum PSSI (sekaligus Exco) tidak hapal ayat dan pasal match-fixing di Statuta FIFA,” sahut Gatot geram.
Gatot sendiri menyanggah pernyataan Gusti Randa, dan menegaskan praktik match-fixing ada dan terjadi. “Ada. Tim sembilan pernah mengatakan ada match-fixing, tapi PSSI saat itu mengatakan itu ngibul,” jawab Gatot saat ditanya Najwa Sihab.
Satgas Antimafia Bola sendiri sejauh ini telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus match-fixing. Para tersangka mulai dari anggota Exco PSSI, Komdis PSSI hingga perangkat pertandingan.
Selain itu satgas juga melakukan pemeriksaan terhadap pejabat PSSI. Terbaru mereka memeriksa plt Ketum PSSI, Joko Driyono, setelah sebelumnya memeriksa Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria dan Bendahara PSSI, Berlinton Siahaan.
Ketiga pejabat tinggi federasi sepakbola Indonesia itu diperiksa dalam kapasitas saksi terkait kasus match-fixing atas laporan Persibara Banjarnegara.
(qur/pojoksatu)