stadion gelora bung tomo

Peluang GBT Jadi Venue Piala Dunia U-20 Kembali Terbuka

POJOKSATU.id, SURABAYA – Peluang Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya untuk menjadi venue Piala U-20 pada 2021 kembali terbuka.
Hal ini terjadi berkat negosiasi dari PSSI. FIFA akhirnya setuju untuk menggunakan enam stadion.
Kans GBT pun semakin besar. Sebab, PSSI punya sistem ‘pasangan’ untuk venue Piala Dunia U-20 nanti. Enam stadion yang dipilih, ditetapkan berdasarkan lokasi dan letaknya.
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) berpasangan dengan Stadion Pakansari. Stadion Manahan Solo dengan Stadion Mandala Krida dan GBT rencananya bakal dipasangkan dengan Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Dengan pola berpasangan seperti itu, persiapan bakal lebih rapi. Akomodasi serta keamanan pun lebih mudah dipantau.
Antusiasme suporter termasuk menjadi salah satu penilaian untuk memilih keenam stadion itu.
Sementara itu, Ketua Umum PSSI Moch Iriawan mengatakan, dia lega lantaran pihaknya berhasil melobi FIFA untuk memperbolehkan enam stadion sebagai venue.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Iwan Bule itu mengatakan akan memantau langsung kesiapan enam stadion yang dijagokan tersebut. “Saya akan lihat sendiri, keliling. Mungkin sebelum Kongres PSSI,” tuturnya.
Setelah melihat secara langsung, Iwan Bule akan mencocokkan dengan standar yang diinginkan FIFA. Saat Kongres Tahunan PSSI pada 25 Januari mendatang, kemungkinan akan langsung ditetapkan stadion mana yang bakal jadi venue Piala Dunia U-20.
Iwan juga menanggapi soal sikap Bonek terkait venue Piala Dunia. Sebab, rencana renovasi GBT untuk persiapan Piala Dunia U-20, membuat Persebaya terancam menjadi tim musafir.
Namun, Iwan menegaskan, ada kepentingan yang lebih besar lagi untuk Indonesia bagi Surabaya. “Nasionalisme harus dikedepankan. Saya harap teman-teman Bonek mengerti tentang hal ini,” ucap Iwan.
Menurutnya, persiapan untuk Piala Dunia U-20 juga tidak lama. Artinya, setelah itu Persebaya bisa kembali berkandang di GBT lagi. Bahkan, Persebaya bisa menggunakan fasilitas berstandar FIFA untuk kompetisi.
Soal bakal adanya tim yang jadi musafir dan menyulitkan izin pertandingan ketika pindah kandang, Iwan Bule menjelaskan hal tersebut bakal dibahas di Kongres Tahunan PSSI. Pihaknya bakal bertemu dengan para Asprov untuk membahas hal tersebut.
Iwan berjanji akan menggunakan wewenangnya sebagai Sekertaris Lemhanas. Dia bakal berdiskusi langsung dengan pihak keamanan soal izin pertandingan.
Iwan sendiri sadar ketika dirinya mencalonkan diri, salah satu janji kampanyenya adalah komunikasi dengan pihak keamanan agar izin pertandingan lebih mudah. Dia berjanji akan mewujudkan hal tersebut.
“Itu yang sedang dirancang, diharap jadwal kompetisi tidak berubah, waktu pertandingan tidak sering mundur, lantas ada kepercayaan dari publik. Nanti akan kami bahas lebih fokus lagi,” tandasnya.
(jpc/pojoksatu)

Soal Insiden Mati Lampu di Laga Persebaya Vs Tira Persikabo, Ini Kata PLN

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pertandingan Persebaya Surabaya vs Tira Persikabo di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) diwarnai insiden mati lampu.
Hal itu terjadi pada menit ke-67. Penerangan cahaya di tribun timur tiba-tiba mati.
Melihat situasi ini, Bonek yang berada di GBT tak tinggal diam. Mereka langsung menyalakan lampu dari smartphone.
Tribun stadion pun menyala karena aksi tersebut. Tapi, hal itu tak lantas membuat laga dilanjutkan. Sebab, penerangan tetap saja temaram.
Bonek lantas menyanyikan chant. Yel-yel “dispora sabotase” terdengar nyaring. Chant itu seolah menyindir Dispora Surabaya selaku pengelola stadion berkapasitas 50 ribu penonton tersebut.
“Kami juga kaget. Biasanya nggak pernah seperti ini. Kami tidak tahu (penyebabnya) karena posisi kami hanya penyewa,” kata Ram Surahman, sekretaris Persebaya.
Untung, setelah 14 menit lampu kembali menyala. Laga pun dilanjutkan.
Terkait dengan matinya lampu di GBT, PLN pun buka suara. Melalui siaran persnya, Senior Managers General Affairs PT PLN Unit Induk Distribusi Jatim A. Rasyid Naja menjelaskan, tidak ada kaitannya mati lampu itu dengan pasokan listrik dari PLN.
“Berdasarkan keterangan panitia, penyelenggara lampu sorot menggunakan listrik dari genset. Sementara listrik PLN digunakan untuk keperluan sebagian lampu tribun dan parkir,” jelasnya.
(jpc/pojoksatu)

Ada Kesamaan Kandang Bajul Ijo dengan Markas Duo Milan

POJOKSATU.id, SURABAYA – Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) yang selama ini menjadi markas Persebaya untuk laga kandang di Liga 1 2018 ternyata bukan milik sepenuhnya klub berjuluk Bajuli Ijo itu.
Secara status, Stadion GBT ternyata tak ubahnya stadion milik Pemerintah Kota Milan, Italia San Siro atau Guiseppe Meazza yang digunakan dua klub raksasa asal kota mode tersebut, AC Milan dan Inter Milan.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya, Wisnu Sakti Buana mengungkapkan status Stadion GBT berbeda dengan stadion-stadion di Inggris.
Old Trafford misalnya, stadion berjuluk The Theatre of Dreams itu adalah milik penuh Manchester United, pun halnya dengan stadion-stadion lainnya di negeri Ratu Elizabeth tersebut.
“Sementara Stadion GBT sama dengan di Milan. Stadion San Siro tidak ada embel-embel AC Milan atau Inter Milan. Sebab stadionnya milik pemerintah Kota Milan,” sebut dia.
“Hanya saja kami berusaha memfasilitasi apa yang dibutuhkan Persebaya. Biar ini terasa seperti rumahnya Persebaya,” imbuhnya.
Ironis memang, kendati menyandang status salah satu klub sepak bola tertua di Indonesia, bahkan ikut mendirikan PSSI, Persebaya nyatanya hingga saat ini belum punya stadion sendiri.
Selain menyewa Stadion GBT, Persebaya juga kerap memanfaatkan Stadion Gelora 10 Nopember, dan Stadion Tambaksari, yang semuanya adalah punya pemerintah setempat.
“Karena Persebaya adalah klub kebanggaan Kota Surabaya, kami fasilitasi,” ucap Wisnu yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Surabaya itu.
(jpc/qur/pojoksatu)