stadion gelora bung tomo

Soal Insiden Mati Lampu di Laga Persebaya Vs Tira Persikabo, Ini Kata PLN

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pertandingan Persebaya Surabaya vs Tira Persikabo di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) diwarnai insiden mati lampu.
Hal itu terjadi pada menit ke-67. Penerangan cahaya di tribun timur tiba-tiba mati.
Melihat situasi ini, Bonek yang berada di GBT tak tinggal diam. Mereka langsung menyalakan lampu dari smartphone.
Tribun stadion pun menyala karena aksi tersebut. Tapi, hal itu tak lantas membuat laga dilanjutkan. Sebab, penerangan tetap saja temaram.
Bonek lantas menyanyikan chant. Yel-yel “dispora sabotase” terdengar nyaring. Chant itu seolah menyindir Dispora Surabaya selaku pengelola stadion berkapasitas 50 ribu penonton tersebut.
“Kami juga kaget. Biasanya nggak pernah seperti ini. Kami tidak tahu (penyebabnya) karena posisi kami hanya penyewa,” kata Ram Surahman, sekretaris Persebaya.
Untung, setelah 14 menit lampu kembali menyala. Laga pun dilanjutkan.
Terkait dengan matinya lampu di GBT, PLN pun buka suara. Melalui siaran persnya, Senior Managers General Affairs PT PLN Unit Induk Distribusi Jatim A. Rasyid Naja menjelaskan, tidak ada kaitannya mati lampu itu dengan pasokan listrik dari PLN.
“Berdasarkan keterangan panitia, penyelenggara lampu sorot menggunakan listrik dari genset. Sementara listrik PLN digunakan untuk keperluan sebagian lampu tribun dan parkir,” jelasnya.
(jpc/pojoksatu)

Ada Kesamaan Kandang Bajul Ijo dengan Markas Duo Milan

POJOKSATU.id, SURABAYA – Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) yang selama ini menjadi markas Persebaya untuk laga kandang di Liga 1 2018 ternyata bukan milik sepenuhnya klub berjuluk Bajuli Ijo itu.
Secara status, Stadion GBT ternyata tak ubahnya stadion milik Pemerintah Kota Milan, Italia San Siro atau Guiseppe Meazza yang digunakan dua klub raksasa asal kota mode tersebut, AC Milan dan Inter Milan.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya, Wisnu Sakti Buana mengungkapkan status Stadion GBT berbeda dengan stadion-stadion di Inggris.
Old Trafford misalnya, stadion berjuluk The Theatre of Dreams itu adalah milik penuh Manchester United, pun halnya dengan stadion-stadion lainnya di negeri Ratu Elizabeth tersebut.
“Sementara Stadion GBT sama dengan di Milan. Stadion San Siro tidak ada embel-embel AC Milan atau Inter Milan. Sebab stadionnya milik pemerintah Kota Milan,” sebut dia.
“Hanya saja kami berusaha memfasilitasi apa yang dibutuhkan Persebaya. Biar ini terasa seperti rumahnya Persebaya,” imbuhnya.
Ironis memang, kendati menyandang status salah satu klub sepak bola tertua di Indonesia, bahkan ikut mendirikan PSSI, Persebaya nyatanya hingga saat ini belum punya stadion sendiri.
Selain menyewa Stadion GBT, Persebaya juga kerap memanfaatkan Stadion Gelora 10 Nopember, dan Stadion Tambaksari, yang semuanya adalah punya pemerintah setempat.
“Karena Persebaya adalah klub kebanggaan Kota Surabaya, kami fasilitasi,” ucap Wisnu yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Surabaya itu.
(jpc/qur/pojoksatu)