W88top casino trực tuyến
M88cvf

M88cvf là trang web của M88Cvf – Đưa bạn vào thiên đường cá cược

Latest Posts

Tegas, Bantahan Pelatih Barcelona Terhadap Tudingan Levante

POJOKSATU.id, CAMP NOU – Pelatih Barcelona, Ernesto Valverde angkat suara menanggapi tudingan Levante di ajang Copa del Rey.
Levante melaporkan Barcelona ke RFEF karena menurunkan pemain ilegal yang sedang dalam masa suspensi, yakni penggawa Barcelona B, Chumi.
Ditegaskan Valverde, timnya yakin tidak melakukan hal yang salah seperti yang dituduhkan kubu Levante tersebut.
Barcelona Anggap Tudingan Levante Konyol
Turunkan Pemain Suspensi, Barcelona Bisa Senasib Real Madrid

Dikatakannya, pemain yang dipersoalkan tersebut boleh diturunkan di ajang Copa del Rey karena suspensi yang diterimanya hanya berlaku di liga (Segunda B) dimana sang pemain bermain.
“Kami tidak punya keraguan apa pun tentang status Chumi. Bagi itu sebelum, atau sepanjang atau setelah pertandingan,” tegas Valverde dikutip Pojoksatu.id dari laman Marca.
“Kami yakin bahwa kami tidak melakukan kesalahan. Kami tahu betul bahwa dia mendapat sanksi dan kami tidak bisa memainkannya di laga melawan Eibar tapi di ajang ini (Copa del Rey) kami bisa,” tegasnya.
Sebelumnya, Levante melaporkan Barcelona ke federasi sepak bola Spanyol karena raksasa Catalonia itu telah menurunkan pemain ilegal.
Chumi mendapatkan lima kartu kuning di pentas Segunda B, sehingga secara otomatis sang pemain mendapatkan sanksi larangan bermain dalam satu laga.
Atas tudingan itu, Levante merujuk pada dua pasal dalam Kode Disiplin sebagai dasar laporan mereka, yakni pasal 56.3 dan 76.
Jika Barcelona terbukti bersalah dan melanggar aturan, Lionel Messi dan koleganya terancam didiskualifikasi dari ajang Copa del Rey, sebagaimana yang pernah dialami Real Madrid.
(qur/pojoksatu)

Barcelona Anggap Tudingan Levante Konyol

POJOKSATU.id, CAMP NOU – Barcelona mengaku tak habis pikir dengan laporan Levante ke federasi sepak bola Spanyol atau RFEF yang melaporkan indikasi pelanggaran yang dilakukan Barca di pentas Copa del Rey.
Levante melaporkan Barcelona ke RFEF karena menurunkan pemain ilegal yang sedang dalam masa suspensi, yakni penggawa Barcelona B, Chumi.
Mensikapi langkah Levante tersebut, Barca pun menganggapnya lucu dan menggelikan, karena tudingan Levante tidak mendasar.
Turunkan Pemain Suspensi, Barcelona Bisa Senasib Real Madrid
Barca pun menegaskan, mereka punya dasar yang kuat mengambil keputusan tersebut (menurunkan Chumi di leg 1 Copa del Rey kontra Levante).
“Yang lucu adalah bahwa seorang dari federasi belum memberi tahu apa pun kepada kami. Itu logika kami untuk melihat situasi Chumi,” tutur juru bicara Barca, Josep Vives dikutip pojoksatu.id dari Marca.
Karena itu,  pihaknya mengaku terkejut dengan munculnya pengaduan ini, karena Barca belum pernah mendapatkan peringatan sebelumnya dari federasi.
“Kami terkejut (tertawa). Kami mendapatkan kabar dari media, kami tidak menerima surat apapun di atas meja. Kami menganalisis kasus ini dan membuat kesimpulan bahwa Chumi memenuhi syarat untuk bermain di Copa del Rey. Federasi juga tak menuntut apa pun,” ungkapnya.
Ditegaskan Josep, Chumi memang sedang dalam suspensi atas akumulasi kartu kuning di pentas Segunda B, sehingga larangan tersebut tak berlaku di ajang lain termasuk Copa del Rey.
“Kami percaya bahwa dia punya lisensi untuk bermain di Segunda B dan dengan mempertimbangkan aturan tahun lalu, sanksi harus dijalankan dalam kompetisi yang mereka mainkan (Segunda B),” ebut dia.
Karena merujuk pada aturan itulah, ditegaskan Vives, Barca memutuskan menurunkan sang pemain dan hal itu jelas tidak melanggar aturan apapun. “Jadi, itulah posisi kami (atas pelaporan Levante),” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Turunkan Pemain Suspensi, Barcelona Bisa Senasib Real Madrid

POJOKSATU.id, CAMP NOU – Barcelona berpotensi mengikuti jejak seteru abadi mereka, Real Madrid terdiskualifikasi di ajang Copa del Rey.
Memastikan lolos ke perempat-final Copa del Rey musim ini, Blaugrana terancam dicoret keikutsertaannya karena menurunkan pemain yang sedang dalam suksensi (hukuman bertanding).
Hal ini sebagaimana laporan Levante yang telah melaporkan Barca menurunkan bek Chumi, penggawa Barcelona B saat laga leg 1 kontra Levante di Ciutat de Valencia, pekan lalu.
Apabila komplain Levante ini didengar dan diterima pihak RFEF untuk kemudian menyatakan Barcelona bersalah, maka Lionel Messi dan koleganya terancam mengalami nasib serupa dengan seteru abadi mereka, Real Madrid pada 2015.
Kala itu, Los Blancos pun didiskualifikasi dari kompetisi akibat menurunkan Denis Cheryshev saat menghadapi Cadiz.
Pasalnya, pemain Rusia itu sedang dalam hukuman menyusul akumulasi tiga kartu kuning di Copa, dan Copa del Rey musim itu pun akhirnya jatuh ke tangan Barcelona sebagai kampiun.
Namun, Barca berkeyakinan keputusan mereka tersebut (menurunkan Chumi) tidak melanggar aturan, karena suspensi yang diterima sang pemain hanya berlaku di liga.
(qur/pojoksatu)

Lolos Perempat Final Copa Del Rey, Barcelona Malah Terancam Didiskualifikasi

POJOKSATU.id, CAMP NOU – Kemenangan telak Barcelona atas Levante sekaligus untuk menyegel satu tiket babak perempat final Copa del Rey terancam sia-sia setelah Barca terancam terdiskualifikasi di ajang tersebut.
Potensi dicoretnya Los Cules dari Copa del Rey musim ini setelah kedapatan menurunkan pemain yang sedang dalam suspensi di laga leg pertama kontra Levante.
Dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal, Barca menurunkan bek Juan Brandariz alias Chumi, penggawa Barcelona B saat laga di Ciutat de Valencia pekan lalu.

Chumi yang tampil selama 58 menit saat Barca menyerah 2-1 dari tuan rumah itu ternyata masih menjalani suspensi karena akumulasi lima kartu kuning di Segunda Division B.
Namun, Barca saat itu berkeyakinan langkah tersebut tidak melanggar aturan, karena suspensi yang diterima sang pemain hanya berlaku di liga.
Reaksi pun datang dari kubu Levante yang telah melayangkan protes keras kepada pihak federasi sepakbola Spanyol atau RFEF.
“Ini bukan situasi mudah, sebagai orang yang berkecimpung di dunia olahraga kami lebih senang meraih kemenangan di lapangan,” tutur presiden Levante, Quico Catalan.
“Apa pun yang terjadi (dalam laga leg kedua), Levante akan menghadap federasi dengan situasi ini besok hari ini). Akan ada komplain jika kami tidak lolos. Dan jika kami lolos, akan ada laporan kepada federasi untuk menjelaskan apa yang telah terjadi,” paparnya.
Apabila komplain Levante ini didengar dan diterima pihak RFEF untuk kemudian menyatakan Barcelona bersalah, maka Lionel Messi dan koleganya terancam mengalami nasib serupa dengan seteru abadi mereka, Real Madrid pada 2015.
Kala itu Los Blancos didiskualifikasi dari kompetisi akibat menurunkan Denis Cheryshev saat menghadapi Cadiz.
Pasalnya, pemain Rusia itu sedang dalam hukuman menyusul akumulasi tiga kartu kuning di Copa. Piala Raja musim itu pun akhirnya jatuh ke tangan Barcelona sebagai kampiun.
(qur/pojoksatu)

Kena Sindir Mourinho, Paul Pogba Balas Begini

POJOKSATU.id, MANCHESTER – Gelandang Manchester United, Paul Pogba rupanya terusik dengan pernyataan mantan manajernya, Jose Mourinho yang berbicara banyak soal sepakbola dan pemain di era modern saat ini.
Dalam sebuah sesi wawancara dengan BeiN Sport, Mourinho menyoroti tingkah polah pemain di era saat ini yang kerap merasa lebih besar dari klubnya.
Merasa tersindir dengan pernyataan Mourinho, Pogba pun lantas melayangkan komentar balasan kendati tidak langsung ditujukan pada Mourtinho.
Jose Mourinho: Pemain Sekarang Merasa Lebih Besar dari Klub!

“Cara kami bermain sekarang adalah dengan mendominasi penguasaan bola,” kata Pogba dikutip Pojoksatu.id dari laman Sky Sports.
Pogba coba memberikan respon atas gaya permainan Mourinho yang diterapkan di Old Trafford yang banyak mengundang kritik.
“Kami sekarang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mengatur tempo. Kami juga memiliki lebih banyak pola permainan dan lebih banyak struktur,” sebut dia.
“Itu membuat segalanya lebih mudah untuk semua pemain. Jadi saya tidak akan mengatakan perubahan yang ada hanya terasa terhadap diri saya sendiri,” sebutnya.
“Ya, saya telah mencetak beberapa gol dan memiliki beberapa assist, tapi itu semua  karena tim,” tandas penggawa timnas Prancis itu.
(qur/pojoksatu)

Jose Mourinho: Pemain Sekarang Merasa Lebih Besar dari Klub!

POJOKSATU.id, SETUBAL – Mantan manajer Manchester United, Jose Mourinho mengungkapkan perbedaan yang sangat signifikan terkait peran pemain dalam klub.
Dikatakan Mourinho, di era sepakbola modern sekarang ini, pemain cenderung punya kuasa lebih atas klub, terutama pemain-pemain yang berlabel bintang.
Karena itu, apabila sang pemian terlibat friksi dengan pelatihnya, maka dipastikan klub akan cenderung berpihak pada klub, bahkan sampai harus menyingkirkan pelatih.
Jose Mourinho: Saya ini Spesial Pelatih Klub Top!
Momen Luar Biasa Jose Mourinho Ada di Klub Ini
Pernyataan Mourinho itu sendiri seakan berkisah tentang pengalamannya yang baru saja dialami di Old Trafford.
Diyakini, keputusan manajemen Setan Merah mendepaknya tak hanya soal performa tim di lapangan namun jika tidak terlepas dari hubungannya dengan pemain terutama dengan Paul Pogba.
Mourinho dan Pogba memang kerap terlibat silang pendapat bahkan friksi. Puncaknya, Mourinho pun mencopot ban kapten Pogba dan memarkirnya di bangku cadangan untuk beberapa pertandingan.
“Sekarang semakin sulit untuk menjalin hubungan langsung dengan pemain,” tutur Mourinho kepada beIN Sports seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
Oleh karena itu, Mourinho menilai para pelatih saat ini membutuhkan suatu struktur yang bisa mengatasi permasalahan pemain generasi sekarang.
“Setiap klub harusnya punya perwakilan yang bisa berkomunikasi dengan para pemain, sehingga itu akan lebih terorganisir. Pelatih hanya melatih, bukan orang yang menjaga kedisiplinan pemain,” tuturnya.
Kenyataan ini (di Manchester United), menurut dia jauh berbeda di era Sir Alex Ferguson. Sir Alex selalu menegaskan ‘klub lebih penting dari pemain’.
“Ferguson mengatakan setelah kepergian (David) Beckham bahwa ketika pemain merasa lebih penting dari klub, maka harus dijual. Hari ini, hal itu tak lagi ada,” ujarnya.
“Saya ulangi bahwa memang dibutuhkan suatu struktur yang bisa melindungi para pelatih, karena bukan urusan pelatih untuk berusaha menjaga ketertiban dan kedisiplinan para pemain,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Jose Mourinho: Saya Ini Spesial Pelatih Klub Top!

POJOKSATU.id, SETUBAL – Jose Mourinho masih belum mendapatkan klub baru pasca dipecat Manchester United akhir tahun kemarin.
Kendati beberapa coba berupa meminangnya, seperti Benfica, namun pelatih The Special One itu menolak tegas tawaran yang datang tersebut.
Mourinho juga telah dihubungkan dengan klub lamanya, Real Madrid yang tengah berada dalam situasi yang kurang sempurna karena masih tampil inkonsistensi di bawah arahan Santiago Solari.
Momen Luar Biasa Jose Mourinho Ada di Klub Ini
Berbicara soal masa depannya, Mourinho ternyata masih punya hasrat dan keinginan untuk kembali turun ke touchline.
Ditegaskan Mourinho, ia akan kembali melatih jika klub yang dibesutnya nanti adalah klub dengan level top.
“Di mana saya akan bertahan adalah di mana saya memang layak berada, saya pantas berada di level top sepakbola. Saya pantas di level top dan di sanalah saya akan berada,” ungkap Mourinho kepada beIN Sports seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
“Saya masih terlalu muda untuk pensiun, saya berada di sepakbola untuk waktu yang lama. Saya akan berusia 56 tahun dalam beberapa pekan ke depan dan saya merasa masih sangat muda,” tekad Mourinho.
Keinginan Jose Mourinho itu tentu tidak berlebihan mengingat dalam kariernya ia banyak menghabiskan bersama klub-klub level atas, sebut saja Chelsea, Inter Milan, Real Madrid dan terakhir Manchester United.
Dari semua klub yang pernah ditukangi itu, Mourinho pun sukses mempersembahkan sejumlah gelar dan titel juara. Paling fantastis adalah saat mempersembahkan treble winner untuk Inter Milan musim 2009/10.
(qur/pojoksatu)

Momen Luar Biasa Jose Mourinho Ada di Klub Ini

POJOKSATU.id, SETUBAL – Jose Mourinho rupanya belum bisa melupakan masa keemasannya saat membesut Inter Milan.
Betapa tidak, dipercaya untuk menukangi Nerrazurri, pelatih The Special One itu sukses mempersembahkan Treble Winner 2009/10.
Karena itu, tak berlebih jika mantan manajer Manchester United dan pelatih Real Madrid itu menyebut Inter adalah tim terbaik yang pernah dilatihnya.
Jose Mourinho ketika sukses membawa Inter Milan meraih treble winner pada musim 2009/10 silam.
“Tim terbaik? Anda tahu saya harus mengatakan Inter karena mereka memenangkan segalanya,” ungkap Mou pada beIN Sport seperti dikutip Pojoksatu.id dari laman Goal.
Saat membesut Inter, Mourinho menegaskan banyak momen luar biasa terjadi dan akhirnya berbuah prestasi di akhir kompetisi.
“Saya harus objektif dan menghormati Inter dan mengatakan mereka sebagai tim yang memenangkan segalanya dari hari pertama hingga hari terakhir (saya melatih),” kenang dia.
Di tangannya, sebut Mourinho, Inter menjelma menjadi ‘pembunuh’ klub-klub raksasa untuk menegaskan sebagi tim terbaik di Eropa saat itu.
“Inter memenangkan semua kompetisi, memenangkan treble, mengalahkan tim terbaik di dunia Barcelona 3-1, mengalahkan Bayern Munchen 2-0 di final Liga Champions, memenangkan Serie A Italia dengan jumlah poin yang fantastis, memenangkan Coppa (Italia), dan memenangkan tiga final dalam 10 hari!,” paparnya.
“Jadi saya harus mengatakan mereka adalah tim terbaik yang pernah saya latih,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)

Gonzalo Higuain Berang Ditanya Soal Chelsea

POJOKSATU.id, SAN SIRO – Striker AC Milan, Gonzalo Higuain rupanya tak senang dan gusar terkait saga transfer dirinya ke Chelsea.
Bahkan, saat sejumlah media memertanyakan langsung soal kebenaran kabar tersebut, pemain internasional Argentina itu terlihat berang.
“Jika Anda mencari masalah dengan saya, maka Anda tak akan mendapatkannya,” ucap Higuain saat ditanya soal perasaannya akan segera bereuni dengan Maurizio Sarri (manajer Chelsea).
Kabar kepergian Higuain dari San Siro menuju Stamford Bridge sendiri memang semakin santer, bahkan kedua pihak, AC Milan dan Chelsea telah mencapai kesepakatan transfer pemain berusia 31 tahun itu.
Dikutip Pojoksatu.id dari laman Sky Sport Italia, Chelsea berencana akan meminjam dulu Higuain hingga akhir musim dengan opsi kontrak permanen di musim panas Juni mendatang.
Untuk meminjam tenaga penggawa timnas Argentina itu, The Blues harus menebus tanda tangannya dengan nilai EUR 9 juta dan kewajiban mempermanenkan statusnya senilai EUR 36 juta.
Dengan kesepakatan ini, AC Milan pun diuntungkan karena tidak harus membayar penuh EUR 18 juta kepada Juventus atas peminjaman sang pemain.
I Rossonerri juga bisa menghemat beban gaji, karena El Pipita memiliki gaji sebesar EUR 9 juta per musim, dan sebesar EUR 4,5 juta sudah dibayarkan selama paruh pertama musim.
Namun tidak dibahas terkait rencana barter pemain dalam kesepakatan itu sebagaimana yang berkembang selama ini dengan Alvaro Morata.
Sebelumnya, AC Milan berharap bisa menandatangani Alvaro Morata sejurus kepergian Higuain ke London barat itu.
Namun Chelsea rupanya belum mengambil langkah-langkah strategis terkait masa depan Morata yang juga mengalami musim yang pelit.
(qur/pojoksatu)

Beda Pendapat Pelatih dan Kapten AC Milan Soal Kinerja Wasit

POJOKSATU.id, JEDDAH – AC Milan gagal merengkuh titel juara Piala Super Italia 2018 setelah takluk 0-1 dari Juventus di parta final di King Abdullah Sports City, Arab Saudi, Kamis (17/1) dini hari WIB.
Sundulan Cristiano Ronaldo di paruh kedua menit 61 membuyarkan asa Rossonerri meraih gelar tersebut musim ini.
Kapten AC Milan, Alessio Romagnoli menegaskan kekecewaan, namun ia lebih kecewa atas kinerja wasit Luca Banti yang memimpin jalannya pertandingan tersebut.
Juventus Juara Piala Super Italia, Kapten AC Milan Kuliti Kinerja Wasit

Romagnoli menilai, sang wasit banyak mengambil keputusan yang merugikan timnya, dan di sisi lain menguntungkan tim lawan.
Romagnoli menyoroti keputusan Banti mengeluarkan kartu merah langsung untuk rekan setimnya, Franck Kessie di menit 72.
Padahal, Romagnoli menilai, apa yang dilakukan Kessie tidak pantas langsung diganjar kartu merah karena yang terjadi hanya sebuah kontak yang minimal.
Pasalnya, diakui dia, kehilangan seorang pemain cukup berdampak para performa timnya di pertandingan tersebut.
“Cara dia (Luca Banti) memberikan kartu tidak bisa karena kami mendapatkan kartu dan diusir dari lapangan pada setiap kontrak yang minimal,” ungkapnya seperti dikutip dari Milan TV.
Namun, pendapat berbeda justru datang dari sang pelatih, Gennaro Gattuso. Jika biasanya sang allenatore paling sengit mengomentari kinerja wasit jika merugikan timnya, kali ini Gattuso tampak lebih legawa.
Gattuso bahkan menilai keputusan wasit memberikan kartu merah untuk Frankie Kessie tersebut sudah tepat.
Gattuso lebih tertarik untuk menyoroti pemakaian VAR di pertandingan tersebut untuk menentukan offside atau tidaknya seorang pemain.
“Saya bukan siapa-siapa untuk memberikan penilaian terhadap insiden itu. Saya mengakui bahwa kartu merah untuk Kessie itu keputusan yang adil,” ujarnya.
“Saya hanya mengkhawatirkan penggunaan teknologi (VAR). Juventus mencetak dua gol dan satu dianulir karena offside, mereka diperbolehkan untuk melanjutkan dan membuat keputusan setelahnya. Itu yang membuat saya terganggu,” tandasnya.
(qur/pojoksatu)